Cerpen | Muhammad Ma’ruf

oleh

SUARA-SUARA DI JALAN ITU

 

Terengah-engah ia menapaki jalan itu. Jalan yang telah ia pilih setiap hari. Dihiraukannya suara-suara yang kerap memanggil dari belakang. Suara-suara itu memintanya untuk kembali dan tetap di jalan itu. Tapi, ia enggan berpaling. Ia hanya ingin pulang.

Tiba-tiba langkahnya terhenti. Dilihatnya setitik cahaya di ujung jalan itu. Ia tidak tahu, apakah di balik cahaya itu masih ada tangan-tangan lembut yang akan menyambut kedatangannya lalu menghapus tiap peluh dari tubuhnya? Siapapun tidak pernah tahu.

Tapi, suara-suara di belakangnya tak henti meyakinkan bahwa tidak ada apapun baginya di ujung jalan itu selain kesia-siaan.

Sejak ia memutuskan untuk pergi dari jalan itu, semua suara yang dilewatinya berusaha mencegahnya. “Heh untuk apa kau kembali? bukankah segala yang kau inginkan ada di jalan ini?” Hampir semua berkata seperti itu bahkan saat ia berlari sekencang-kencangnya, suara itu semakin nyaring terngiang.

Pikiran dan batinnya sempat diserang dilema karena suara-suara itu. Apalagi saat dari kejauhan ia mendengar suara yang sangat dikenalnya. ia memperlambat lari saat suara itu semakin nyaring. Saat berhadapan dengan pemilik suara itu, ia mendengar “Tinggalah di sini bersamaku sampai kau mati. Bukankah aku orang yang kau cintai.”

Memang suara itu selalu dicintainya. Bahkan saat ia mendengar suara itu dalam perjalanannya ia masih mencintainnya. Akan selalu ia ingat desah penuh gairah. Gairah saat ia dan pemilik suara itu bercinta sebagai sepasang kekasih. Mereka bercinta di mana saja. Dalam keadaan mabuk atau sadar sekalipun mereka selalu bercinta hingga lupa pada segalanya.

Ia akan selalu ingat bahwa suara itulah yang mengenalkan kesenangan meski harus menyiksa diri sendiri atau orang lain. Kesenangan yang berbeda seperti saat pertama kali ia memutuskan memilih jalan untuk dilaluinya. Sebelum suara-suara itu benar-benar menguasainya.

***

Sebelum memilih jalan itu, ia pernah melewati jalan lain sewaktu kecil. Jalan lurus tanpa ada apapun menghiasi sisi jalan. Bagi ia dan anak kecil lainnya, jalan itu hanya lengang dan membosankan.

Jalan itu biasa dilewatinya bersama kedua orang tuanya. Bukan hanya keluarga mereka, tapi keluarga lain juga ada di jalan itu. Mereka hanya berjalan. Kau hanya harus ikut berjalan, kata ayahnya setiap kali akan memulai perjalanan.

Ia masih bocah waktu itu. Dan seperti bocah pada umumnya ia selalu penasaran dan cepat merasa bosan.

“Kita mau ke mana?”

“Ke sebuah rumah.” Jawab Ibunya.

“Kapan sampainya?”

“Nanti.” Tegas Ayahnya.

Layaknya bocah lain, ia mudah percaya pada jawaban orang tuanya. Tapi sekali lagi, ia tetap bocah yang selalu penasaran dan cepat merasa bosan.

Pernah suatu hari, saat keluarganya dan keluarga lain berjalan di jalan itu, ia pernah bermain kejar-kejaran dengan teman-temannya. Mereka merasa senang walau untuk sesaat, sebab setelah itu mereka dimarahi orang tua masing-masing. Ia mendapat kemarahan yang lebih parah karena ayahnya memukuli punggung juga pantatnya, sedang ibunya hanya bisa menangis dalam kamar. Ia meminta ampun, tapi ayahnya tidak berhenti.

Sejak saat itu ia berjalan di jalan itu. Bukan karena ingin, tapi karena takut. Keadaan bertambah parah baginya karena teman-temannya perlahan berkurang. Hari demi hari. Satu demi satu.

Ia penasaran ke mana teman-temannya pergi. Tapi, ia tidak bisa mencari. Sebab sepasang mata ayahnya selalu mengawasi.

Semakin dewasa, ia belajar untuk tidak peduli. Bahkan, sampai tiba waktu ia dilepas orang tuanya untuk berjalan sendiri di jalan yang dulu mereka lewati bersama, ia malah semakin jarang berjalan di jalan itu. Ia hanya melihat orang-orang berjalan di sana. Ia bertanya pada dirinya sendiri “Sampai kapan mereka berjalan? Apa rumah itu benar-benar ada?”

Saat itulah ia mendengar suara-suara samar memanggil namanya. Ia merasa terpanggil. Ia merasa dibutuhkan. Hari demi hari ia mencari arah suara itu. Ia berhenti di mulut sebuah jalan saat didengarnya suara-suara itu semakin jelas ia dengar.

Ia melepas langkah pertamanya di jalan itu. Ia tidak tahu, jika telah melangkah di jalan itu akan sulit baginya untuk kembali.

***

Sejak langkah pertamanya di jalan itu, ia berjalan perlahan. Dinikmatinya setiap kesenangan yang disediakan jalan itu. Ia tidak lagi memikirkan untuk pulang, selama ia bisa bertahan hidup dengan merasa senang. Bahkan ketika ia pulang, pikirannya berada di jalan itu.

Seringnya ia menghabiskan waktu di jalan itu, membuatnya berjalan semakin jauh. Ia bertemu orang-orang baru yang berdatangan ke jalan itu. Ia mengenali kesenangan-kesenangan baru dari mereka. Termasuk kesenangan yang menyimpang dari kata-kata orang tuanya. Ia menerimanya dan terus melakukanya.

Orang tuanya pernah berkata “Kesenangan tidak melulu membawamu ke arah kebahagiaan.”, tapi kata-kata itu telah hanyut dari laut kesadarannya. Ia tidak merasa sakit, meski kesenangan mulai menggerogoti tubuhnya dalam dan luar. Perlahan-lahan. Bahkan ia tidak merasa kehilangan, meski kesenangan mengambil segala miliknya. Sedikit demi sedikit.

Suara-suara itu selalu berhasil merayunya. Ia malah mendambakan kesenangan lebih besar, meski ia tidak lagi memiliki apapun. Saat beberapa langkah lagi mencapai kesenangan yang lebih besar itu, suara-suara itu tiba-tiba hilang. Sejenak hening, tiba-tiba ia sulit menggapai kesenangannya itu. Beberapa saat kemudian, ia tiba-tiba terkurung dalam kerangkeng.

Untuk beberapa waktu, ia sulit mendapat kesenangan. Ia berharap ada orang yang datang membawa kesenangan untuknya, tapi ia tak pernah lagi mendengar suara apapun. Ia merasa kecewa. Ia sendirian.

Setelah kerangkeng itu hilang dan ia bisa kembali berjalan. Ia sempat mendatangi lagi jalan yang menyediakan kesenangan baginya. Suara-suara yang pernah hilang terdengar lagi. Ia diajak bersenang-senang lagi. Tapi, ia kini tahu, kesenangan sewaktu-waktu bisa merugikannya. Ia tersenyum melihat jalan itu lalu berjalan menempuh arah kembali meski terlampau jauh.

***

Suara-suara itu tak henti memanggil dirinya. Tapi, ia tidak menoleh. Ia menyeret langkahnya dengan tenaga tersisa sambil menatap cahaya yang semakin terang dari jalan itu. Suara-suara itu kini menjeratnya. Tapi, tekadnya sudah kuat untuk kembali ke jalan yang dulu ia lewati bersama orang tuanya.

Ia tahu dirinya telah lama tidak melintasi jalan itu. Jika memang benar ada rumah di ujung jalannya, dirinya mungkin tak pantas untuk bertamu. Tapi, sebelum ia lupa kata-kata orang tuanya dan segalanya begitu gelap, tidak ada salahnya untuk kembali. Dan, jika keadaan telah seperti ini, adakah jalan lain selain jalan itu?

Setelah keluar, dilihatnya orang-orang bersiap berjalan. Ia mencari wajah orang tuanya, tapi ia tahu ia tidak akan menemukannya di sini. Sebab, selama ia pergi, orang tuanya telah sampai di ujung jalan itu; di sebuah rumah baru.

Dari jauh ia lihat dua orang mendekat padanya. Seseorang yang lebih muda memiliki wajah mirip dirinya, sedang seorang lagi adalah orang yang sangat ia cintai tapi sering ia kecewakan. Mereka berdua memeluknya yang telah kelelahan.

Lalu orang yang sering ia kecewakan itu berkata padanya, “Kenapa lama sekali?”.


Muhammad Ma’ruf lahir di Bandung 22 Mei 1993. Bergiat di ASAS (Arena Studi Apresiasi Sastra). Aktif menulis puisi, cerpen, dan esai. Beberapa karyanya termuat di beberapa media cetak dan online seperti Pikiran Rakyat, Tribun Jabar, Indopos, Radar Tasik, dan Buruan.co. Pada tahun 2015 pernah mengikuti workshop cerpen Kompas di Bandung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

[+] kaskus emoticons nartzco