Puisi Faisal Syahreza

oleh

 

SUMSUM SUNYI

 

Ia sudah lama tertidur

dalam perihnya sendiri.

 

Khawatir jika terbangun

ia tak memiliki wajah

maka sebaiknya mengembara

mencair baginya mencari.

Jauh dari jaga

mengikari seribu bahasa

apalagi muslihat kata.

 

Menepi dari gaduh

agar tak terikat hanya pada satu tubuh

bila perlu jangan berbayang

jika tertempa sekilas cahaya

melayang.

 

Ia hitam duka pelarianmu

tak bersuara

bukan pula lekas air mata

derai berlepasan.

 

Menyangga seluruh ketiadaan

pundak budak pendosa.

Ia langkah yang perlu lagi arah

menyangkal esok harinya

sebagai sekutumu.

 

Terkutuklah kita!

Sesaat terperangah

sebelum habis mereguknya

dari tiap sendi peristiwa

dan tulang hidup ini yang fana.

 

(2016)

 

DASI

 

Ia terbangun dengan tubuh

seolah lidah menjulur.

 

Di atas seprai

sebelum membelit pagi

dan mencekik leher sepi

ia mengingat kembali

warna rawa-rawa mimpi.

 

Menunggu satu simpul lagi

agar ia merasa hidup berarti.

 

(2016)

 

 

LASTIK

 

Ia sebenarnya tak pernah berisik

sebab jantungnya jauh dari musik.

Ia juga bukan selubung kulit

karena tak punya pori walau sejentik.

 

Ketika angin meraba dahinya

hampir saja patah arang –buruk rupa

tak bisa dipecah cermin oleh mukanya.

 

Ringan tapi tak bisa selembut kapas

membuat hatinya mudah hancur

bagai tempias.

Liat tapi tak bisa tercerna tanah

membuatnya dendam pada kepunahan.

 

Mungkin suatu saat ia akan puas

setelah membuatmu tercerabut dari napas.

Lantas bias sepasang matanya

barulah tampak buas

begitu terampil menjadikan maut gemas

padamu yang nahas.

 

(2016)

 

 

PARFUM

 

Mengapa ia tak betah di udara

apa karena ia hanya santapan asa belaka?

 

Bukan kabut

yang membikin ngilu tulang-belulang pagi.

 

Bukan asap

yang membikin perih reranting mata.

 

Tapi di manapun, ia pernah singgah sekali

saat melewati tengkuk

seolah gairah terpatri

dalam satu hisapan –nanti.

 

(2016)

 

 

SISIR

 

Ia sepermainan dengan cucuk ikan

yang kehilangan daging

disisihkan di tepian piring.

 

Ia angan memesona bagi segala hal

tak terhingga –dara.

 

Ke sela jari-jemarinya

kekusutan jadi jalan temu

setiap ujung risau dengan pukau.

 

Tapi ia akan menyesali

seluruh hidupnya, kini

saat patah dan tak sengaja

mencabik kulit sang tuannya

bagai bilik perawan

kehilangan muasalnya.

(2016)


Faisal Syahreza, lahir 3 Mei 1987 di Cianjur. Buku puisinya Hikayat Pemanen Kentang(2011), Partitur Hujan (2014) dan Sekolahku, Ibadahku (2016).  Kini tinggal dan bekerja sebagai penulis lepas di Bandung.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

[+] kaskus emoticons nartzco