Kota yang Digerakkan Kesenian

oleh

Oleh : Faisal Syahreza

*Penyair dan Prosais lahir 3 Mei 1987 di Warungkondang, Cianjur.

Kota bergerak sebagai sebuah tatanan yang tak hanya mengelola sosial-politik di mana tujuannya hanya untuk sebuah citra dan tangan panjang dari sebuah kekuasaan saja. Kota yang menjalin semua rutinitas secara ekonomi di dalamnya pun harus mengandung nilai-nilai yang menjunjung kesejahteraan yang bisa menyeluruh ke lapisan masyarakat. Ada yang meletakannya sebagai dasar, keterlibatan atau partisipasi rakyatnya dalam hidup di kota akan menentukan keberhasilannya. Kepedulian atau rasa kebermilikan, bukan lagi menyentuh wilayah bisnis semata yang memosisikan rakyat dengan rakyat lain sebagai kompetitor aktif yang menghalalkan segala cara.

Kota harus mempertimbangkan hal-hal yang bisa merepresentasikan manusia-manusia yang tinggal di dalamnya. Baik secara arif, majemuk dan mewujudkan sebuah kultur yang sehat. Sebagai sebuah kota, arus kesadaran manusia terus-menerus diuji dalam berbagai hal, yang paling jarang dikemukan ialah bidang kesenian. Kesenian selalu terlepas dari realita dan keadaan yang darurat di masyarakatnya. Mungkin karena pandangan kesenian bukan lagi bicara soal hal khusus dari bagian besar kebudayaan manusia. Padahal setelah kita menganggap diri kita berbudaya maka kita harus menyadari kalau tonggak luhurnya ialah sebuah seni.

Seni di sini, adalah cermin yang bisa menelanjangi jiwa kita dalam berbagai bentuk. Kita bisa melihat perubahan alam lewat visualisasi yang telah tampak sebagai potret pada lukisan. Pada musik kita bisa mengetahui unsur-unsur suara yang lama mengendap dan membentuk pikiran masyarakat kita. Pada sastra, bisa kita terima pencatatan gejala dan fenomena sosial secara lebih terbuka. Pun juga pada tari kita akan memahami lagi bagaimana tubuh dan interaksi bisa diterapkan, dan pada kesenian tradisional sekalipun ada banyak kegelisahan yang mengakar baik bersifat religiusitas ataupun adat-istiadat.

Sayangnya, kota masih bergerak di wilayah pembangunan fisik yang temporal, dalam artian sementara. Ada keharusan menyegarkan mata ketimbang mengelola rasa yang akan muncul dari dalam jiwa. Tentu prosesnya selain memerlukan banyak pertimbangan dan tahapan, pengelolaan kesenian sangatlah rentan oleh penyalah-gunaan para pelakunya sendiri.

Sulit kita mencari satu bentuk ‘contoh’ dari sebuah kota yang digerakkan baik secara kesenian. Ada mungkin, tetapi hanya karena kitanya sendiri yang kecenderungannya akan menolak itu sebagai sebuah ideal. Selain sangatlah menantang, wilayah kesenian di mana pun itu, selalu juga sibuk dan terpusat pada seni itu sendiri sebagai sebuah ‘produk’ yang bisa dijual. Atau paling tidak ‘barang’ seni menjadi sangat artefak dan dibiarkan berdebu selama bisa dilap dan dipercantik nanti kemudian sewaktu mau memajangnya.

Pada saat-saat kota memerlukan kerja seni pun, rasanya, kesenian menjadi ‘mahluk’ halus yang cukup menakutkan bila tak dipandang. Padahal kesenian tumbuh harus beriringan dengan pembangunan kota. Baik dari daerah-daerah pusat maupun terpencil. Keberadaan kantung kesenian di dalam ‘bagan’ resmi tak perlu ditekankan sebagai pengharapan besar. Melainkan kantung-kantung yang bisa bebas tumbuh, menjamur di pelosok daerah-lah yang sebenarnya bisa diharapkan.

Keadaan geografis, sejarah atau bahkan prioritas kotalah yang sebenarnya harus juga bisa menemukan posisi terbaik bagi sebuah kesenian. Masyarakat yang mana pelaku dan penikmat, memiliki porsinya untuk andil sebagai mesin penggerak. Bukan lagi menanti dan melarikan diri ke wilayah-wilayah yang lebih menjanjikan materi.
Komunitas, sanggar, klub atau bahkan sebuah obrolan dalam diskusi-diskusi sudah harus dengan sendirinya memiliki ‘sayap’ untuk berkembang dalam otoritas yang memungkinan mereka semua bergerak. Sebagai sebuah roda, seni menjadi sangat memungkinkan berperan banyak. Seni juga satu sisi adalah otak dari kendaraan yang mengangkut kesadaran manusia, di satu sisi lain mungkin seni juga spion kecil di mana orang-orang bisa melihat ke belakang agar tak mengulangi banyak kesalahan.

Lalu kota bagaimana yang bisa digerakkan kesenian? Kota manapun, selama orang yang berada di sana, memang masih punya cara baik memperkenalkannya, mempersilakannya dan membiarkannya tumbuh.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

[+] kaskus emoticons nartzco