Penyala Semangat Guru : Mau, Mampu, Maju

0 584
Link Banner

Oleh : Mia Fatimatul Munsi, S.Pd., M.Pd

*Dosen di Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Suryakancana Cianjur.

Teringat pemaknaan Bapak Prof. Yus Rusyana yaitu seorang guru besar UPI yang sudah tak diragukan lagi pengalamannya dalam dunia pendidikan, beliau memberikan pemaknaan dalam sebuah buku yang berjudul Teman Tumbuh Teman Belajar seri Guru Berani, “Kami sadar tentang keberadaan diri-alam-masyarakat-dan budaya masa lalu. Maka kami bangkit menjadi penyala zaman, meladeni keperluan masa kini dalam selamat sejahtera”.

Pemaknaan tersebut mengingatkan kita betapa berharganya diri kita, keadaan lingkungan, keberadaan masyarakat, budaya, alam fisik dan alam hayati. Seluruhnya hal tersebut memiliki daya dan kegunaan bagi kehidupan kita sekarang, asalkan kita mampu menciptakan semangat dengan inovasi-inovasi yang dapat menjawab tantangan zaman. Termasuk di Cianjur sendiri, keadaan lingkunganya, keberadaan masyarakatnya, budayanya, alam fisik, dan alam hayati harus kita manfaatkan dan kembangkan agar mampu bertahan di tengah gempuran zaman.

Jika begitu, apa yang kita butuhkan agar selalu semangat? Haruskah kita membutuhkan sosok motivator untuk menyalakan api semangat yang membara? Bagaimana cara menemukan semangat? Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin ada dibenak setiap orang  ketika semangatnya mulai mengendor. Terutama tantangan yang lebih besar  dirasakan oleh para guru yang secara geografis berada di lokasi 3T (terpencil-terluar-tertinggal). Kondisi seperti itu mungkin saja dapat membuat mereka menyerah dan kalah dengan keadaan. Sulitnya membuat perubahan atau berjuang maju sempat ada di benak mereka. Misalnya minimnya prasarana sekolah, perhatian pemerintah yang dinilai kurang, dan kualitas peserta didik yang diterima seolah tidak ada bekas pendidikan sebelumnya. Mungkin saja masih dijumpai anak-anak lulusan SD yang mendaftar ke SMP belum bisa membaca dan berhitung. Ataupun hal-hal lain yang mungkin dapat melumpuhkan diri. Begitulah kiranya keadaan dan tantangan para guru yang kiranya tidak hanya dirasakan oleh guru berlokasi 3T tetapi oleh sebagian dari kita sebagai guru di Cianjur.

Dengan keadaan tersebut, tidak menjadi suatu alasan untuk maju. Ketidaksempurnaan keadaan bukan menjadi alasan untuk tidak berbuat apa-apa dan menjadi sosok guru yang malas. Apakah sosok guru seperti itu yang diharapkan? Tentu tidak. Lantas, bagaimana cara rahasia-rahasia menemukan semangat itu?

Tiga kata yaitu MAU-MAMPU-MAJU merupakan rumusan sederhana dari Bapak Prof. Yus Rusyana. Istilah tersebut berisi urutan langkah manusia untuk bergerak maju dalam berbagai bidang dan usahanya. Rumusan ini menjelaskan pentingnya posisi kemauan sebelum mengharapkan bertambahnya kemampuan untuk terciptanya kemajuan.

Hematnya, jika ada kemauan pasti tercipta seribu jalan. Sebaliknya, jika tidak ada kemauan pasti tercipta seribu alasan. Oleh karena itu, kita harus menemukan dulu kemauan dan membangkitkannya. Setiap manusia akan menyala semangatnya ketika ia sudah menemukan jalan sejatinya. Jalan sejati apakah yang harus ditemukan oleh guru? Sebenarnya, cukup dengan menemukan tujuan. Tujuan mulia dalam melakukan sesuatu (mau). Tujuan dalam melakukan sesuatu (mengajar, mendidik, melatih) peserta didik. Menyalakan antusiasme dengan gaya kerja yang khas untuk mencapai tujuan melalui cara sendiri (mampu). Hal tersebut akan membuka ruang diri untuk menguasai hal-hal yang disenangi hingga tuntas (maju).

Akhir-akhir ini banyak pelatihan yang diikuti oleh para guru. Pelatihan-pelatihan tersebut bermaksud sangat baik yaitu memberi kemampuan kepada para guru. Sayangnya, pelatihan-pelatihan itu akan gagal jika diberikan kepada mereka yang tidak memiliki kemauan. Sungguh keliru jika kita masih  berpikir bahwa kemauan tidak terlalu penting. Mungkin saja orang beranggapan bahwa kemauan dapat ditumbuhkan dari hadiah (reward) atas prestasinya. Jadi, kemauan itu sangatlah penting untuk membawa kita mampu dan maju.

Langkah pertama yang dapat dilakukan untuk membangkitkan kemauan yaitu memiliki keyakinan bahwa di balik keterbatasan tersimpan kekuatan. Kita dapat menuliskan pengalaman-pengalaman dari tindakan-tindakan yang pernah kita lakukan atau melakukan wawancara dengan orang-orang di sekitar kita terkait pengalaman mereka dalam menyikapi keterbatasan. Dari cara-cara tersebut setidaknya dapat menambah keyakinan diri sebagai langkah awal menemukan kekuatan diri.

Langkah kedua yaitu memiliki keterampilan menghargai potensi lingkung dan kemampuan unik manusianya. ‘Lingkung’ adalah istilah yang dipopulerkan oleh Prof. Dr. Yus Rusyana yang dapat menggantikan makna dari kata ‘kontekstual’ yang merupakan serapan dari bahasa Inggris; contextual. Tiap daerah memiliki potensi lingkung yang berbeda dan khas. Lingkung terdiri atas alam fisik, alam hayati, masyarakat, budaya, dan kehidupan beragama. Termasuk Cianjur, Cianjur memiliki lingkungnya sendiri. Cianjur memiliki kearifan lokal di antaranya pilar budaya, pilar keagamaan, lokalitas tempat penting dan bersejarah, dll. Sikap menghargai dan mengembangan kearifan lokal Cianjur akan menghasilkan rasa penasaran untuk mengetahui lebih banyak tentang hal-hal unik yang masih ada, hingga yang sudah dilupakan.

Dari kedua hal di atas akan membantu membangkitkan kemauan. Baik itu kemauan dalam merancang program yang tepat maupun program yang kreatif. Program yang memandang keterbatasan sebagai kekuatan dan kekayaan lingkung sebagai jalan perubahan. Sudah saatnya sebagai seorang guru, kita dapat membangkitkan kemauan. Dimulai dari diri kita sendiri kemudian orang lain hingga masyarakat di sekitar kita karena kemauan merupakan sebuah seni pemberdayaan sumber daya manusia yang sangat penting.

Category: OpiniTags:
example banner
No Response

Leave a reply "Penyala Semangat Guru : Mau, Mampu, Maju"

[+] kaskus emoticons