“Kecewa” Taman Bacaan Alun-alun Mati Suri

oleh

CIANJUR | Harian Waktu – Masyarakat menyayangkan kondisi Taman Bacaan yang terletak tepat ditengah  alun – alun Mesjid Agung Cianjur kini dalam keadaan hidup segan matipun tak mau. Padahal sebelumnya taman bacaan tersebut selalu ramai dikunjungi pelajar dan masyarakat umum. Namun dalam dua bulan terakhir kondisinya sangat memprihatinkan, bahkan sudah tidak beroperasi lagi.

Warga dan pelajar kecewa Taman Bacaan alun-alun kini ditutup dengan alasan alun-alun akan dibangun. Foto by Ruslan Ependi

Seorang Mahasiswa semester 4 dari Universita Islam Al Azhari, Rizki menyesalkan kondisi yang kini dialami Taman Bacaan Alun – alun Mesjid Agung yang sudah tidak beroperasi lagi. Baginya Taman bacaan itu dulu dianggap sebagai persinggahan utama ketiga bagi dirinya setelah kontrakan dan kampus tempatnya menimba ilmu Tarbiyah.

“Terus terang, saya sangat merasa kehilangan,” ujarnya.

Rzki mengungkapkan, bagaimana bisa, taman bacaan yang komprehensif dan refresentatif  ini tiba-tiba harus dimatikan keberadaannya, hanya karena adanya rencana renovasi alun – alun yang belum juga dimulai. Padahal kalau memang renovasinya masih lama, jangan ditutup dulu. “Taman bacaan ini lumayan lengkap isinya dengan kualitas buku yang bagus – bagus,” katanya.

Semenetara Ririn Safrina, yang sempat menjadi pengelola Taman Bacaan, mengaku bahwa taman bacaan itu adalah bermula dari ide kakeknya yang juga tokoh masyarakat Cianjur yaitu KH, Rd, Abdul Halim. “Beliau juga sempat kaget mengenai penutupan taman bacaan tersebut,” terang Ririn.

Ririn menerangkan Taman Bacaan yang mati suri itu didirikan pada tahun 2013 lalu, dan ditingkatkan kualitas isinya dengan bantuan Corporate Sosial Responsibility (CSR) Bank Syariah sebesar 50 juta. “Saat itu semua serasa sempurna. Pembaca puas, karena lokasi dan kualitas buku – bukunya juga mumpuni. Pihak pemberi bantuanpun puas karena kami sebagai pengelola selalu memberika laporan secara  berkelanjutan,” ungkapnya.

Dirinya berharap agar pembangunan alun – alun yang diprogramkan Bupati Cianjur segera terlaksana, dan taman bacaan kembali hadir disana sebagai penunjang peningkatan ilmu pengetahuan masyarakat Cianjur.

“Dengan buku, kita memiliki gudang ilmu, membaca adalah kuncinya. Sekarang, gudang ilmu itu tertutup rapat. Mudah – mudahan ini semua hanya sementara,” pungkas Ririn yang lulusan ITB ini penuh harap. Ruslan Ependi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

[+] kaskus emoticons nartzco