Agama, Media, dan Pilkada (2)

oleh
Oleh : Irfan L Sarhindi

Jika asumsi saya pada essay sebelumnya—bahwa indikasi jualan isu agama, dengan memanfaatkan fungsi media, dalam konteks kampanye menjelang pilkada—dapat diterima, maka kita masuk pada asumsi bahwa memang, sepanjang pasar masih potensial, jualan isu-isu agama ini akan tetap laris manis. Secara sepintas lalu eksposure terhadap isu-isu keagamaan mungkin terlihat sebagai ekspresi religiusitas yang alim dan morally admirable tetapi jika ditelisik lebih dalam, eksposure ini bisa menciderai nilai-nilai Islam itu sendiri.

Sebagai contoh: banyak akun-akun anonim bernama Islami yang menyebarkan berita-berita tidak jelas sumbernya, menyebarkan informasi tidak bertanggungjawab, yang menyuruh kita untuk ‘klik like dan sebarkan’ jika kita ingin setampan Reza Rahadian dan/atau mendapat rezeki seberlimpah Cristiano Ronaldo. Demi mengesankan berita yang mereka sebarkan benar, berita-berita tersebut disituasikan dengan kata-kata islami. Ada nilai kebenaran, tentu saja, sehingga kebohongan itu tidak kentara dan terlihat benar, sehingga dapat diterima dan dipercayai. Tak jarang, hoax tersebut disituasikan untuk memfitnah dan menjelek-jelekkan tokoh-tokoh yang pemikirannya tak sejalan.

Tentu, tren kultivasi berita palsu atas nama agama yang tumbuh-kembang di masa-masa jelang pilkada ini bukan tanpa risiko. Jangka pendeknya, hal tersebutdapat menghadirkan konflik horizontal, perpecahan antar agama dan golongan, bahkan perseteruan antar golongan yang seagama. Sentimen anti-China dan PKI belakangan ini, misalnya, dalam satu dan lain hal dapat memicu opresi pada ras minoritas. Di sisi lain, dan yang tak kalah berbahayanya adalah posibilitas rusaknya nilai-nilai Islam itu sendiri. Ketika banyak akun-akun bernama Islami menyebarkan berita bohong, membangun argumentasi dan meme berdasarkan logical fallacies, pada akhirnya kesan yang melekat pada notion Islam itu ya, berita palsu itu sendiri. Padahal, jujur adalah sifat utama Rasulullah yang wajib diteladani. Bahkan jika seorang Muslim harus memilih antara pintar atau jujur, ia dianjurkan memilih jujur. Hanya sebagaimana akan kita lihat, jujur, dalam satu dan lain hal, butuh pengetahuan.

Apalagi jika penyebaran hoax ini didukung oleh pola pemaksaan pemahaman dan monopoli kebenaran. Singkatnya, sikap untuk gampang menganggap Muslim lain sebagai munafik, fasiq, dan kafir, hanya karena perbedaan pendapat. Alhasil, Islam sebagai agama rahmatan lil alamiin yang menjunjung tinggi akhlak karimah semisal jujur akan berkurang kredibilitasnya. Bagi saya, ini adalah bentuk penistaan terhadap Islam. Oleh karena itu, saya menyambut baik itikad kampanye memerangi hoax, baik yang disokong organisasi Islam semisal NU dan Muhammadiyah, maupun yang dimotori pemerintah. Hanya, sebagaimana saya singgung sebelumnya, dalam jangka panjang bisa jadi ini belum cukup.

Untuk ‘merusak’ konstalasi pasar bagi ‘industri hoax’, konsumen perlu diedukasi. Pertama, edukasi menyoal pemahaman yang dalam dan kontekstual akan Islam. Selama ini, Islam cenderung hanya dipeluk dan ditaati tapi tidak dipahami.Islam is taken for granted. Alhasil, kalau mengutip istilahnya Gus Mus, kesalehan ritual tidak mendampakkan kesalehan sosial pada para Muslim. Kedua, perlu adanya edukasi politik. Selama ini politik dianggap tabu dan kotor sehingga orang menjadi antipati. Ketidakmengertian masyarakat terhadap politik membikin mereka mudah dipolitisisasi. Ketiga, barangkali perlu ditingkatkan tradisi bertanya dan mempertanyakan, sehingga kualitas pemahaman kita mengakar dan tidak superficial. Terkait dengan poin ini adalah tradisi kroscek pada berita dan informasi yang didapat di internet. Kecuali kalau engkau cukup puas dengan berteriak ‘Allahu Akbar’ sedang yang kaurasai akbar bukannya Tuhan, melainkan egomu sendiri.


*Novelis, essais, dan pemerhati isu-isu diskursus Islam. Baru saja menyelesaikan studi S-2 di University College London

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

[+] kaskus emoticons nartzco