CIANJUR DALAM KONTEKS REFLEKSI SIMBOL KEAGAMAN

oleh
Oleh : Drs. H. SUPRAYOGI, M.Si

Kehidupan manusia merupakan suatu aktivitas yang sudah terformulasikan dalam suatu sistem tata aturan yang bersifat dogmatik, baik logika berfikirnya maupun intuitifnya. Semua itu dapat menimbulkan anomali-anomali terhadap dinamika interpretasi logika pribadinya ketika direfleksikannya di masyarakat, tentunya perwujudan tersebut untuk menjadi pembentukan dan penguat daripada karakter masyarakat Cianjur harus terus diunggah secara komparatif  melalui  berbagai simbol atau makna yang mengandung arti keagamaan sebagai payung kebhinekaan yang mampu menyatukan hubungan atau ukhuwah islamiah dan ukhuwah watonniah masyarakat Cianjur yang secara general diharapkan akan terus harus dapat terpahami dengan inheren daripada nilai-nilai sakral tersebut.

Karenanya nilai-nilai dogmatik keagamaan yang dimiliki manusia sangat pariatif sesuai dengan konteks menganalogikakan sesuatu angle (sudut pandang) pemahaman atas wawasan dan ilmu pengetahuan yang terimplementasikan oleh setiap personal, begitu juga ketika terpublikasikannya pada berbagai simbol keagamaan sebagai ornamen-ornamen yang akan membangun makna pemahaman religius dalam berbangsa, bernegara dan bermasyarakat guna menumbuhkan atentions dan komitmen setiap personal atas publik, dimana sesuatu jati diri bangsa/masyarakat harus dibangun akan makna keagaman yang pundamental pada setiap individu dalam bersikap, berprilaku, bertindak serta berinteraksi pada lingkup publik yang heterogen menjadi semakin mampu mewujudkan harapan kita sebagai warga masyarakat yang akna kembali pada fitrohnya yakni daerah agamis/tatar santri.

Secara filosofis dan sosiologis harus mampu menjaga dan memelihara etika, estetika maupun sosio cultur yang bisa memberikan image (citra) yang heterogen dalam beragama sebagai pengikat akan hidup bertoleransi dengan tidak menghilangkah nilai-nilai dogma dasar yang dianut masing-masing aneka ragam agama yang dianut dan diakui oleh negara Republik Indonesia. Maka upaya merefleksikan daripada simbol-simbol keagamaan itu-lah, perlu suatu langkah pemahaman tentang makna simbol itu sendiri, sebagaimana yang dikatakan Raleph Webb pakar ilmu komunikasi bahwa simbol atau lambang merupakan suatu makna yang mempunyai arti dan terpahami oleh penerima simbol itu sendiri sebagai suatu identitas diri atau harapan untuk dikenal dan dipahami dalam membangun  kesamaan  persepsi  akan  makna  yang  dilihatnya  tersebut,  guna mewujudkan maksud dan tujuan yang akan dicapainya dalam membangun suatu  nilai-nilai  kehidupan  individu   dan   masyarakat  untuk  meraih  keagungan  cita-cita besar yang akan menjadikan suatu tujuannya/diharapkannya/kebutuhan hidupnya yang bersifat kepentingan umum.

Analogi dari makna simbol tersebut diatas, tampak telah sangat cukup untuk memberikan suatu langkah-langkah konkrit. Mengingat dalam merefleksikan serta mereaktualisasikan kembali akan suatu keutamaan-keutamaan akan nilai-nilai keagungan daripada suatu simbol keagamaan untuk dijadikan sebagai suatu ornamen-ornamen keagamaan terpublikasikan di daerah yang terkenal dengan tatar santri, merupakan suatu hal positif dan bermakna menggugah kita sebagai masyarakat yang merindukan nilai-nilai kebesaran yang diagungkan para Nabi dan Rasul yang tidak lunjut dimakan usia dan zaman.

Konsepsi dasar dari ornamen-ornamen keagamaan inilah harus terus digelorakan dan terpublikasikan pada lokasi-lokasi umum yang strategis, agar dapat memberikan makna arti secara holistik bagi semua lapisan masyarakat untuk semakin tumbuh dan berkembang serta menyatu dengan kesadarar kehidupan sehari-hari kita sebagai suatu gerakan menuju kehidupan masyarakat Cianjur lebih agamis dan mengingatkan kembali akan kebesaran nilai-nilai dasar hidup dan kehidupan manusia yang telah tercontohkan terkandung dalam jiwa dan raga Nabi Muhammad SAW. Intensitas pembentukan pemahaman akan suatu konklusi harapan imajiner kehidupan dalam berbangsa, bernegara dan bermasyarakat, hendaknya secara kontinyu harus terpahami dan terpatri secara holistik dalam jiwa setiap warga masyarakat Cianjur, sebagaimana yang dikatakan oleh Pakar Ilmu Komunikasi Harold Lasswell bahwa Who say what in wich channel to hom with what effect, artinya setiap pesan yang disampaikan oleh personal, kelompok dan masyarakat (publik) kepada pihak lain (komunikan) dengan melalui media/alat yang harus dipahami guna memberikan atau menimbulkan dampak/efek yang positif bagi keduanya baik bagi sipemberi pesan maupun penerima pesan. Jadi setiap pesan yang disampaikan melalui lambang-lambang yang berarti pasti akan harus memberikan atau menghasilkan suatu efek bagi yang menerimanya.

Begitu juga dengan penggunaan simbol-simbol keagamaan dalam bentuk-bentuk berbagai ornamen yang terpasang di berbagai lokasi merupakan suatu langkah yang strategis dalam membangun pahaman akan semangat membangun akidah keagamaan umat manusia, khususnya umat islam sebagai umat yang mayoritas di Kabupaten Cianjur, sebagaimana  dikatakan oleh Imam Ghazali bahwa penerapan simbol-simbol keagamaan dalam lingkup masyarakat  memberikan tiga kata kunci yang kandung untuk kehidupan manusia/masyarakat yakni : 1). Dalam etika sosialnya ; 2). Kedupan sosialnya itu sendiri ; dan 3).  Mengibaratkan negara dan agama bagai dua makna dalam satu tubuh. Analogi Al-Ghazali ini tampak telah sangat demokratik dalam  memberikan  konklusi   akan   daripada   simbol  –  simbol    atau   ornamen – ornamen  keagamaan  yang dijadikan langkah untuk membangun khasanah keunggulan saat ini yang digelorakan Pemerintah Kabupaten Cianjur, tidaklah bersifat paradox atas penempatan-penempatan ornamen-ornemen atau simbol-simbol keagamaan yang letakan pada lokasi-lokasi strategis di wilayah Kabupaten Cianjur, Ujar M.Abdul Mujieb, Syafi’ah, dan H. Ahmad Ismail justru bahwa simbol-simbol atau ornamen-ornamen tersebut menjadi penghubung diri seseorang sebagai penganut agama-agama besar yang diwahyukan oleh Allah SWT dalam hal-hal tertentu benar-benar tidak dapat dipisahkan dalam kehidupannya, dan bahkan hal tersebut sangat relevan dalam membangun dan membentuk sudut pandang ilmu pendidikan islam sebagai aspek kognitif dan punishment-Nya dalam bentuk kebendaan serta simbol-simbol materi untuk kehidupannya kembali, Ujar Al-Ghazali dalam bukunya Relevansi Pandangan, terutama untuk penguatan kesadaran dan akidah umat islam yang ada di Kabupaten Cianjur yang berjumlah 95 % beragama islam dari jumlah penduduknya pada tahun 2014 sekira 2,3 juta jiwa lebih.

Sehingga simbol-simbol keagamaan yang terpublika dilokasi-lokasi strategis salah satunya diperbatasan Cianjur dengan Bandung Barat mengenai Asmahul Husna, Perbatasan Bogor Cianjur Gerbangmarhamah, serta lainnya di berbagai Pusat Kota Kabupaten, Kecamatan dan Desa/Kelurahan, tentunya perlu untuk terus dijadikan simbol-simbol keagamaan yang monumental sebagai sesuatu langkah perwujudan pembentukan komitmen akan nilai-nilai keagamaan guna terimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari di dalam bersikap, bertindak, berperilaku serta bertutur kata yang santun yang telah diajarkan oleh Rasullolah SAW, dengen berucap salam terhadap sesama manusia, terutama untuk ummat muslim mengucap assalamu’alaikum Wr. Wbr merupakan wujud suatu keharusan ketika berbagai aktivitas yang akan dijalankannya. Hal itulah langkah yang dilakukan pemerintah Kabupaten Cianjur perlu kita apresiasi dalam upaya membangun khasanah akan makna keagamaan yang direfleksikan melalui simbol-simbol atau ornamen-ornamen keagamaan yang dipublikasikan di lakokasi-lokasi strategis.


*Pemerhati Kebijakan Publik, Kebudayaan dan Keagamaan di Kabupaten Cianjur

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

[+] kaskus emoticons nartzco