Cerpen : Riza Multazam Luthfy (Si Buta dan Si Pura-pura Buta)

oleh

Si Buta dan Si Pura-pura Buta

Ini kali para mustami akan kami suguhi sepenggal hikayat dua orang cacat netra; sama-sama buta. Ah, bukan. Tepatnya yang satu benar-benar buta. Yang lain pura-pura buta. Ialah Pak Karmiji, seseorang yang selusin tahun silam kehilangan mata gara-gara dicongkel adiknya ketika teler. Juga Pak Sadik, bujang lapuk yang tak pernah mencium bau sekolah, pengangguran, dan suka membikin sesetel indra penglihatannya seolah-olah buta.
Guna merengkuh efek cerita, orang pertama kami sebut Si Buta, sedang orang kedua kami panggil Si Pura-pura Buta.

Bukan segelintir kebetulan jika pilihan jatuh pada kisah, yang sebetulnya sudah mangkrak berbulan-bulan dan nyaris jamuran. Berdasar banyak pertimbangan, cerita ini akhirnya kami sajikan. Tentu dengan harapan lekas memberikan pencerahan atau sesuap hiburan bagi manusia yang bernafas di zaman serba runyam. Zaman yang mesra dengan dusta, kelicikan, serta kemunafikan. Zaman yang bisa jadi pas dan tepat digambarkan dengan tema yang kami angkat.
Aih, aih, aih. Mohon maaf, sekiranya hadirin keberatan dengan pernyataan kami, sehingga menerka bahwa apa yang menyembul dari katup mulut kami hanyalah sebutir alibi, apologi atau bahkan promosi. Mengingat bahwa Grup Pencerita ini tergolong masih hijau. Hijau yang meski berarti amatiran, akan tetapi senantiasa meniupkan ruh kesuburan bagi kehidupan yang kian gersang dan penuh kerontang.
Kurang pantas apabila kami memperpanjang kalam. Langsung saja. Mewakili Grup Pencerita, kami ucapkan: Selamat menikmati!
***
Selembar pagi yang usang, Si Buta keluar rumah dengan membagul beberapa biji sapu. Seperti biasa, hendak ia tawarkan perkakas-perkakas kebersihan itu kepada sesiapa yang membutuhkan. Sungguhpun disergap keterbatasan, tetap ia berteguh usaha demi melacak nafkah buat bini dan empat anaknya. Berbekal bimbingan tongkat, ia mengayunkan langkah; berharap keberuntungan berpihak pada nasibnya.
Itu hari Si Buta berangkat lebih awal; sebelum embun melesat ke angkasa dan surya kelihatan tanduknya. Bersandar pada pesan Mbok Mirah, sang bunda, ia berkeyakinan bahwa bekerja pagi buta ringan mendatangkan rejeki. Ia begitu percaya dengan kemampuannya, walau kerap para tetangga serta kerabat lebih memercayai kelemahannya.
“Sapu. Sapu. Sapu. Sapu, Mbak?”
Ucapan itulah yang ia teriakkan tiap melewati perkampungan. Sebab tak mengerti situasi sekitar, sering ia merapal mantra pengundang pembeli itu secara lantang. Padahal di sekelilingnya sedang sepi orang. Apa yang terjadi kemudian? Hal tersebut rupanya mengantar orang-orang menaruh iba. Namun, celakanya, lebih banyak lagi yang justru tertawa, menikmati ulahnya. Tak heran, ketika rehat di kolong pohon beringin besar dekat kediaman Pak Sugiya, anak-anak kecil yang pulang dari sekolah iseng mengerjainya.
***
Si Pura-pura Buta tertatih-tatih karena kejaran anjing. Nafasnya ngos-ngosan. Dadanya berdentum tidak beraturan. Raut mukanya acak-acakan. Mulutnya mengatup-menganga, tanda ia kehabisan tenaga. Terpaksa ia berlari sekencang mungkin, layaknya orang yang sehat mata. Enyah dengan kondisi selingkarnya. Barangkali orang-orang yang melihat aksinya—yang mirip adegan Jackie Chan saat shooting di film laga—berkecek dingin, “kalau lagi buntung, matanya bisa kembali pulih. Dasar wong edan!”
“Asu! Masa binatang bodoh itu tahu kalau aku buta bohong-bohongan.”
Meneruskan perjalanan, ia mengumpat habis-habisan sambil melanting kutukan agar anjing yang mengubernya masuk neraka lebih dini, mengungguli kaum penggandrung korupsi. Kendati gemar mengganyang uang negara, menurutnya, koruptor tidak pernah menyusahkannya. Apalagi membuatnya terengah-engah, hampir meregang nyawa. Berbeda halnya dengan Doberman Pinschers. Menggonggong lantam, satwa yang termasuk anjing paling galak di dunia itu mengancam keamanan raga, jiwa, serta martabatnya. Ia berjanji, tidak akan pernah lagi melintasi rumah Michael, bule Australia yang jangkap bertahun-tahun tinggal di Indonesia.
Setiba di depan sebuah mall, wajahnya memelas. Langkahnya tergagap, mengekor arahan tongkat. Berbaju compang-camping dengan celana jebol belakang nyatanya sanggup menyulut perhatian.
“Berhasil”. Hatinya memekik riang.
Di hadapan seseorang berjas abu-abu yang baru turun dari mobil Aston Martin One-77, Si Pura-pura Buta menjulurkan tangan; berhajat menjemput belas kasihan. Insting pengemisnya mampu membedakan mana makhluk bertampang kaya, mana pula makhluk yang kaya tampang belaka.
Si konglomerat terpancing. Enggan mengantongi julukan kikir, lelaki berambut klimis itu mengulurkan sekoin kuning lusuh dan berujar lirih, “bapak doakan semoga saya makin sukses, ya!”
Si Pura-pura Buta mengangguk, seakan mengiyakan apa yang dituturkan oleh sang korban. Padahal, batinnya meradang, “mana ada orang ingin sukses sedekahnya cuma lima ratus perak.”
***
Si Buta meneguk air dalam botol yang ia bawa dari rumah. Hari beranjak siang. Barang dagangan belum satu pun terlego. Warung nasi di seberang jalan melambaikan tangan. Perutnya menggeleng. Syukurlah. Nasi sisa kemarin yang dilahap sehabis subuh tadi agaknya cukup mengganjal rasa lapar dan mengakibatkan lambungnya kebal.
Diberondong panas luar biasa, ia lelang kembali sapu-sapunya, “Sapu. Sapu. Sapu. Sapu, Mbak?”
Tiada isyarat seseorang tertarik dengan sapunya.
“Sapu. Sapu. Sapu. Sapu, Mbak?” Tanpa mengeluh dan putus asa, Si Buta lagi-lagi membocorkan moncongnya.
“Pak. Sini, Pak.” Suara perempuan paruh baya terdengar memanggilnya.
Hatinya bungah. Bunga harapannya terlihat merekah.
“Harganya berapa, Pak?”
“Lima belas ribu, Bu.”
“Kok mahal banget. Tujuh ribu, ya.”
“Segitu belum dapat, Bu. Ambilnya saja sepuluh ribu.”
“Kalau boleh tujuh ribu, saya ambil dua. Bagaimana, Pak?”
“Maaf, Bu. Benar, belum bisa. Sebelas ribu, bagaimana? Saya cuma untung seribu.”
“Kalau gitu, gak jadi beli, deh.”
Si Buta menarik nafas dalam-dalam. Sekonyong-konyong merembes buih peluh dari lubang-lubang tubuh. Di kepalanya muncul sosok bini yang menunggu kedatangannya membawa sejumput rupiah, supaya dapur segera mengepul.
***
Si Pura-pura Buta mengayuh kaki, mendekati warung hijau di sebelah toko buku. Denyut semangatnya meningkat. Senyum tipisnya mengembang. Mengemis di loka pemicu kenyang merupakan babak paling diidolakan oleh lelaki yang rajin nongkrong di terminal itu. Mengapa? Karena ketika asyik makan, seseorang urung kabur, jikalau kebetulan dipergoki pengemis menagih recehan. Sayang, bila hanya demi menghindari pengemis, makanan yang didapat dengan mengeluarkan uang harus ditinggalkan begitu saja lalu segesit kilat menghadap ke penjual guna melunasi tanggungan. Atau malah mengacir lintang-pukang sebelum membayar apa yang terlanjur ditelan. Bisa-bisa diburu orang sekampung dan diteriaki maling. Wah, pastilah urusan tambah kusut.
Sesampai di lokasi, Si Pura-pura Buta terperanjat. Dua alisnya mengait, kala mengetahui bahwa di tempat penyedia berbagai lauk dan sayuran itu tersua segerombolan pengemis menggelar makan siang bersama. Alangkah nyaman dan lezatnya. Mereka menyantap hidangan sambil mengangkat kaki ke punggung kursi. Menunya menu istimewa. Takah-takahnya mereka tengah merayakan penderitaan. Penderitaan selaku manusia yang selalu mengalah, berada di bawah juga berstatus sosial rendah.
Mengulum ujung jakun, Si Pura-pura Buta membatalkan hasrat. Malas ia meminta-minta kepada kaum senasib seperjuangan. Dalam kamus hidupnya, meronta-ronta kepada mereka sama saja dengan menginjak harga diri sendiri. Waktu badannya berbalik, tiba-tiba lengan kanannya ditarik dari belakang. Lantas seorang pemuda kerempyeng menampakkan gigi dan mendermakan uang.
Antara ragu dan bimbang, Si Pura-pura Buta menerima pemberian. Hampir saja ia menolak, bila mana otak warasnya membiarkan. Penolakan adalah penghinaan. Ungkapan itulah yang bertukas-tukas membuntang dari pikiran.
Usai berterima kasih, ia langsung lunglai. Ia sangat terpukul dengan peristiwa memalukan tersebut. Rasanya, baru kali itu kehormatannya dicabik-cabik oleh sesama pengemis.
Di atas trotoar sempit, ia membuka telapak tangan yang masih mengepal. Di dalamnya bercokol rupiah yang turut serta menurunkan derajatnya sebagai pengemis. Ia terperangah, sebab kertas bernilai yang digenggam adalah uang dua puluh ribu rupiah.
Ia tidak habis pikir, kenapa kini dunia amat sukar ditebak. Jutaan pengalaman mengemis yang ditenggak Si Pura-pura Buta ternyata bukanlah jaminan untuk leluasa menggali profil korban. Di balik kejadian janggal itu, ia memetik banyak hikmah dan pelajaran. Di antaranya yaitu: “jangan menilai orang dari fisiknya!”
***
Si Buta dan Si Pura-pura Buta menggelesot santai di serambi masjid Bait al-Qohhar. Sial! Si Pura-pura Buta begitu benci dengan situasi demikian. Situasi serupa dengan beberapa minggu sebelumnya. Situasi di mana ada dua orang buta dalam satu masa. Masa yang menunjukkan orang buta satu kelelahan sehabis kerja, sedang orang buta lainnya capai setelah meminta-minta. Dalam situasi tersebut, niscaya orang paling gila pun bakal menanam simpati pada yang pertama.
Benar. Tanpa meminta, beberapa orang yang hendak shalat Ashar mengulurkan rupiah kepada Si Buta. Dalam waktu relatif singkat, kantong Si Buta disesaki uang. Adapun Si Pura-pura Buta hanya memandangi saingannya itu. Lalu-lalang orang sama sekali tidak memperhatikan keberadaannya.
Usai shalat berjamaah, Si Buta tertidur di barisan belakang. Kesempatan langka yang amat baik untuk dimanfaatkan. Waktu paling telak guna melampiaskan dendam. Si Pura-pura Buta merogoh dompet Si Buta yang berlimpah uang. Dan, klek! Dompet hitam sudah beralih ke tangan.
Genap melancarkan niat, Si Pura-pura Buta turun dari masjid lalu berjalan gontai. Merasa aman, ia melucuti hasil curian. Matanya memicing saat mendapati foto kusam keluarga Si Buta: wanita renta dengan empat anak mengapitnya. Hatinya bergetar. Ia membayangkan, keringat Si Buta tengah dinanti-nanti untuk sekadar ditukar nasi.
Angin berkesiur. Ubun-ubun Senja mulai tampak di cakrawala. Si Pura-pura Buta terjerat gamang: dompet dikembalikan ataukah berpuluh lembar uang bakal diketam.


*Riza Multazam Luthfy, kontributor tetap komunitas Sastra Minggu. Karya-karyanya bertebaran di beberapa media, seperti Kompas, Jawa Pos, Republika, Suara Merdeka, Seputar Indonesia, Suara Pembaruan, Lampung Post, Koran Jakarta, Jurnal Nasional, Sinar Harapan, Kedaulatan Rakyat, Minggu Pagi, Koran Merapi, Tribun Jogja, Harian Jogja, Joglo Semar, Bali Post, Pikiran Rakyat, dan lain sebagainya. Kumpulan tulisannya bisa dirunut di rizamultazamluthfy.blogspot.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

[+] kaskus emoticons nartzco