Puisi : Astrajingga Asmasubrata

oleh

Miryam dan Bayangan Dari yang Berlalu

Masihkah kerlingan itu Miryam, terlihat
Sebagai rubin di ufuk barat. Dongeng lelaki
Dalam ingatan yang padam. Melingkar
Dan berpusar bagai laju jarum jam. Di balik
Waktu. Bayangan dari yang berlalu. /aku/

(pondokbambu, 2017)

 

Sebuah Singapura dari Miryam

​Matanya mengusap patung Merlion pada
Foto di Instagram Miryam. Dari mulut singa itu
Memancur air dan di benaknya yang malam
Ia adalah tetesan hujan di langit-langit kamar

Dia tadah tetes demi tetes itu seperti menampung
Doa ibunya di kampung halaman. Namun resah telah
Tumpah sebelum Miryam pada sebuah Singapura
Berkelakar tentang dering percakapan selamat berpisah

Miryam tahu, tak setiap cemas berasal dari kepergian
Yang lekas. Sebab kangen menyembulkan sejumlah
Iseng juga cinta yang mandul di luar perjumpaan
Kala seseorang menziarahinya via akun Instagram

Masih murnikah kisah jika keduanya melancung pasrah?

(pondokbambu, 2017)

 

Romantika Miryam

​Masihkah kau pilih degup jantung
yang sama, yang mirip geletar detak jam
di dinding itu di sunyi malam. Masihkah
kau pilih nyeri paling pedih dari sobekan
sampul buku puisi sebelum bayangan silam
melintas diam-diam seperti gonggongan anjing
menyambut tamu asing yang datang

Sebagai Miryam kau kian paham
makna ringkih pada selarik puisi
tentang gerimis dini hari. Tapi apakah kau
mengerti mengapa musim tak lagi hangat
di garang secangkir kopi dan sumir kepulan

tembakau sudah menyingkir dari pagi
“hanya dalam pejam kita selamat dari dendam,”
bisikmu sesudah kau kecup amarah di tengkuk kota

Teringat sajak lama dalam percakapan
sepenggal kisah ihwal nasib yang raib
dan kau menggeliat seperti berahi bidadari
sebelum belati kau hunuskan

ke jantungmu sendiri

(pondokbambu, 2017)

 

Dzikir Miryam

Miryam,
remas aku dalam cengkerammu
agar takluk segala kutuk
menjadi redam setelah kecamuk

Miryam,
benam aku dalam hampamu
agar yakin segala mungkin
sebelum muskil semakin mustahil

Miryam,
bakar aku dalam gairahmu
agar regang segala rejang
menjadi arang setelah gelinjang

Miryam,
gapai aku dalam leraimu
agar usai segala sampai
sebelum abai semakin sangsai

Amin!

(pondokbambu, 2017)

 

Dzikir Miryam (2)

Miryamku adalah Miryam para pengembara:
mereka yang menemukan yang tidak dicari
serupa kerinduan – dzikir sunyi, lirih puisi
Miryam para pemulung, dan para peramu

Miryamnya makhluk yang fana; keresahan
detak kata kata sebagai tanda gelora
jiwa membara di kalbu memburu
segala kelak yang luput dari waktu –
Miryam para penakluk, dan para pemeluk

Namun, Miryamku juga Miryam angin,
api, tanah, air, yang melebur jadi kosmos –
Miryam yang dijelajahi para pengembara
dalam dzikir sunyi, lirih puisi
di kalbumu-kalbuku

(pondokbambu, 2017)


Astrajingga Asmasubrata, kelahiran Cirebon tahun 1990. Bekerja sebagai tukang cat melamik – duko – politur di Jakarta Timur. Penggerak Malam Puisi Jakarta. Ritus Khayali adalah buku puisi yang telah terbit.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

[+] kaskus emoticons nartzco