Jalur Alternatif Bandung-Soreang Rusak dan Licin

oleh

BANDUNG │ Harian Waktu – Pengguna jalan yang sering melintasi Kampung Wates RT/RW 01/01, Desa Banyusari, Kecamatan Katapang, Kabupaten Bandung mengeluhkan kerusakan jalan di kampung mereka. Padahal jalan tersebut selama ini sering digunakan sebagai jalur alternatif Bandung-Soreang.

Jalan rusak sepanjang sekitar 50 meter tersebut, cukup mengancam keselamatan warga karena sering tergenang air bercampur lumpur sisa hujan ketika kawasan tersebut diguyur hujan sehingga jadi licin. Selain itu, kondisi jalan yang rusak juga kerap mengakibatkan kemacetan.

Jajang Nurjaman (48) salah seorang warga mengatakan, kerusakan jalan di kampungnya itu sudah terjadi cukup lama. Jalanan berlubang dengan lumpur tanah merah sangat mengganggu pengguna jalan. Terlebih saat hujan turun, kubangan air terlihat dimana-mana. Jika tak berhati-hati, banyak pengendara motor yang jatuh karena melindas jalan tanah licin dan berlubang.

“Banyak yang naik motor jatuh, soalnya jalan berlubang. Penuh lumpur dan licin. Selain itu, kalau kendaraan yang lewat sedang banyak jadi macet, karena melambat saat melintas disini,” kata Jajang kepada Harian Waktu, kemarin.

Selain itu, kata Jajang, kerusakan jalan tersebut juga mengakibatkan dinding rumah yang berada di tepi jalan tersebut kotor karena kerap kecipratan air lumpur dari kubangan.

“Apalagi kalau anak-anak lewat, kotoran tanah menempel di kaki dan pakaiannya. Yah namanya juga anak-anak, kaki dan pakaian banyak lumpurnya juga seenaknya saja masuk ke rumah. Kalau sudah begitu, yah kami orangtuanya yang repot,”ujarnya.

Jajang menambahkan, sepengetahuannya, jalan di kampungnya itu merupakan tanggung jawab Pemkab Bandung. Karena beberapa waktu lalu pun pengecoran jalan di bagian lain jalan tersebut, dilakukan oleh Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Bandung.

“Memang tinggal bagian ini saja yang tersisa belum dicor atau diaspal. Sedangkan bagian lainnya sudah diperbaiki oleh Pemkab Bandung. Yah walaupun tinggal sedikit lagi, tetap saja membuat kami warga sekitar dan pengguna jalan tidak nyaman, apalagi ini jalan alternatif dari Katapang menuju Soreang yang cukup padat dilalui kendaraan,” katanya.

Andi (38) salah seorang warga Soreang, juga mengaku kesal setiap melintas di jalan yang lebih mirip kubangan kerbau tersebut. Karena, selain menyebabkan macet karena harus melambat, pakaian kerja yang dikenakannya pun selalu kotor. Padahal, jalan tersebut setiap hari dilaluinya saat pergi dan pulang kerja.

“Ini jalan alternatif untuk menghindari kemacetan Jalan Raya Kopo-Sayati. Setiap hari saya lewat sini, tapi risikonya yah sepatu sama celana kotor kena lumpur. Bahkan saya pernah jatuh gara-gara licin,” pungkasnya. Rustandi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

[+] kaskus emoticons nartzco