Harga Cabai Makin Pedas

oleh

Lonjakan Terjadi Lebih dari Sepekan

BANDUNG |Harian Waktu – Setelah sempat mengalami penurunan, harga cabai rawit di sejumlah kota/kabupaten di Indonesia kembali merangkak naik. Termasuk di beberapa pasar tradisional di Kabupaten Bandung yang harganya makin pedas.

Pantauan di Pasar Soreang, harga cabai rawit merah mencapai Rp150.000-160.000/kg. Harga ini lebih mahal delapan kali lipat dari harga normal yang mencapai Rp20.000/kg.

Salah seorang pedagang, Muhtar (61) menuturkan, lonjakan harga tersebut telah terjadi sudah lebih dari sepekan lalu. Ia juga memprediksi harga cabai bakal terus meroket dalam beberapa waktu ke depan.

“Kemungkinan cengek (cabai rawit) bakal naik lagi. Sekarang pasokannya sudah kurang di pasaran. Terus petani juga baru mau mulai menanam cabai lagi,” kata Muhtar kepada Harian Waktu, kemarin.

Pedagang lain, Enung Nurlaela (56) mengaku, kewalahan menjual salah satu jenis rempah-rempah yang sudah jadi kebutuhan pokok masyarakat Indonesia akibat kenaikan harga. Pasalnya, mahalnya harga membuat konsumen kerap mengurungkan niat membeli cabai rawit merah.

“Karena mahal jadi ada juga yang enggak jadi beli. Kebanyakan mengurangi jumlah belanjaannya. Biasanya beli seperempat kilogram, jadi beli satu ons. Ngaruh juga ke pendapatan kita,” ujarnya.

Lantaran hal tersebut, imbuh Enung, sejumlah pembeli beralih menggunakan komoditas cabai rawit merah kering untuk bumbu masakannya. Harga cabai rawit merah kering yang mencapai Rp12.000/ons dinilai mampu menjadi pengganti yang sepadan.

“Harapannya supaya harga cengek bisa cepat-cepat turun. Katanya kemarin-kemarin sudah mau turun. Tapi enggak turun. Malah makin mahal,” ungkapnya.

Kenaikan harga ini membuat beberapa pedagang tak lagi menjajakan komoditas ini di pasaran. Salah satunya Rian Munandar (25). Ia mengaku tak lagi menjual cabai rawit merah sejak harganya melonjak pada peralihan tahun.

“Dari mulai harga naik sudah enggak jualan lagi. Soalnya yang beli suka sedikit. Apalagi sekarang katanya semakin naik. Mungkin nanti kalau sudah turun jualan lagi,” pungkasnya.

Masih pedasnya harga cabai rawit ini ditenggarai karena stok atau pasokan yang terbatas akibat gagal panen yang dialami petani di sejumlah wilayah. Hal itu dibenarkan oleh Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Jabar Doddy Firman Nugraha.

Menurut Doddy kenaikan harga cabai di pasar tradisional terjadi karena terbatasnya pasokan. Namun di sisi lain, bagi petani yang tetap bisa memanen cabai rawit kondisi ini sangat menguntungkan. “Petani merasa untung dengan harga sekarang,” ujarnya.

Petani saat ini hanya memenuhi sekitar 20% dari pasokan normalnya. Di tingkat petani, harga cabai rawit merah sekitar Rp70.000 sampai Rp100.000/kg dan cabai rawit hijau Rp50.000/kg. “Karena pasokan kurang, harga di pasar naik,” papar Doddy.

Ke depan, kata Doddy, Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Jabar dan Balai Penelitian Tanaman Pangan akan menyiapkan bibit cabai untuk dibagikan kepada warga. Budidaya tanaman cabai di halaman rumah warga diharapkan bisa memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Hal itu seperti yang dilakukan Pemkab Sumedang yang melakukan program satu rumah satu tanaman cabai. “Minimal mengurangi permintaan,” jelasnya. Rustandi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

[+] kaskus emoticons nartzco