Kajian Psikologis Tiurmaida Karya Hasan Al Banna

oleh

Oleh : Ubai Dillah Al Anshori

Pada dasarnya, psikologi sastra dibangun atas dasar asumsi-asumsi genesis, dalam kaitannya dengan asal usul karya, Artinya psikologi sastra dianalisis dalam kaitannya dengan psike dengan aspek-aspek kejiwaan pengarang.

Menurut Endraswara Psikologi sastra adalah sebuah interdisiplin antara psikologi dan sastra. Mempelajari psikologi sastra sebenarnya sama halnya dengan mempelajari manusia dari sisi dalam.

Sesngguhnya mempelajari psikologi sastra amat indah, karena kita dapat memahami sisi kedalaman jiwa manusia, jelas amat luas dan amat dalam.

Psikologi sastra sebagai telaah karya sastra yang diyakini mencerminkan proses dan aktivitas kejiwaan. Dalam menelaah suatu karya psikologis hal penting yang perlu dipahami adalah sejauh mana keterlibatan psikologi pengarang dan kemampuan pengarang menampilkan para tokoh rekaan yang terlibat dengan masalah kejiwaan.

Menurut Aminuddin Tokoh dalam karya fiksi selalu mempunyai sifat, sikap, tingkah laku, atau watak-watak tertentu. Tokoh adalah pelaku yang mengemban peristiwa dalam cerita rekaan sehingga peristiwa itu menjalin suatu cerita, sedangkan cara sastrawan menampilkan tokoh disebut penokohan.

Amang oi! Kontan ia melonjak setengah berteriak. Induk jarinya pecah bercucur darah. Sambil menggendong tangan kirinya yang kebas, ia bergegas turun ke bawah. Mencari daun pagapaga untuk dikunyah, sesegera mungkin dilumurkan ke jarinya yang terbelah.

Biasanya, pagapaga yang sudah bercampur ludah itu ampuh menyumpal luka yang merekah. Nian berhenti pula semburan darah. Tinggal menanggungkan denyutnya saja, seperti menahankan desakan puluhan jarum yang datang bergelombang menusuk ulu luka.

Tiurmiada baru saja memulai pekerjaan. Karungnya pun baru berisi sepertiga. Padahal, matahari yang melesat dari timur, sejengkal lagi melintasi kepala. Sesiang ini, Tiurmaida semestinya sudah menyelesaikan empat karung batu.

 Tapi satu karung belum genap, di jarinya seliang luka malah datang menyergap. Ia memang telat naik ke bukit. Tadi pagi Marsius mengamuk lagi. Baru beberapa langkah beranjak dari pintu, Tiurmaida mendengar lesetan umpat-serapah suaminya. Tiurmaida lalu berpaling langkah, menyurut sepasang kaki kembali ke rumah.

Sinopsis diatas dapat sedikit memperjelas bagaimana psikologis Tiurmaida sebagai tokoh utama dalam cerpen tersebut. Setelah kehilangan amak semata wayang Marsius yang menjadi suami dari Tiurmaida merasa terpukul.

Bagaimana tidak terpukul, anak yang didambakan selama bertahun-tahun telah menjadi kenangan bagi pasangan mereka.  Marsius selalu mengganggu ketentraman warga.

Marahmuda adalah nama dari anak mereka. Setiap kali, Marsius melihat anak seumuran Marahmuda maka ia akan merampas meskipin dari gendongan Ibunya. Hal itu yang membuat warga selalu menjadikannya sebagai bulan-bulanan.

Tiurmaida yang tidak ingin kehilangan Marsius dan mencintai dengan sepenuh hati. Masih akan terus menjaga dan merawat. Tak jarang Tiurmaida harus mendapatkan seluka lebam akibat hantaman Marsius.

Bahkan lebab di dadd kiri masih berbekas selama berhari-hari. Tiurmaida terpaksa memasung suaminya. Agar tidak menjadi masalah lagi bagi warga kampung.

Pskologis Tiurmaida juga terguncang.

Setelah kematian anaknya, suaminya juga mengalami gangguan kejiwaan. Hal-hal itu yang menjadi beban pikiran Tiurmaida. Menurut Minderop ada beberapa aspek yang mejadi media atau jembatan untuk menjadi titik temu dalam menelusuri jejak psikologisnya:  Naluri, Kecemasan, Depresi, Kesabaran, Ketakutan.

Kecemasan tokoh Tiurmaida dapat dilihat dari kutipan dibawah ini:

“Rasa cemas selalu mendebarkan Tiurmaida. Mengapa tidak? Tabiat Marsius makin tak terkendali. Ia sering merampas anak-anak kecil seumur Maramuda dari gendongan para ibu di kampung itu. Karena ulahnya, tak jarang Marsius harus terperosok ke dalam kekalapan warga kampung. Marsius dilempar, dihajar, dan terkapar. Ia direndam ke lumpur sawah, lalu dipulangkan sambil memanggul luka yang parah.” (Sampan Zulaiha 2011: 84)

Ketakutan Tokoh Tiurmaida juga tergambar dalam kutipan berikut ini:

 “Ya, Tiurmaida harus hati-hati melaksanakan rutinitas itu. Ia tidak boleh serampangan membuka-pasang gembok pasung. Ketika hendak memakaikan baju, ia cukup melepas kekangan di gelangan Marsius. Pun sebaliknya, melepas kaki yang terkunci jika hendak mengenakan celana.” (Sampan Zulaiha 2011:80)

Psikologis tokoh Tiurmaida sangat terguncang. Tetapi, sejauh ini bagaianakah gambaran psikologis pengarang saat menuliskan cerpen Tiurmaida?

Apakah kejiwaannya juga terguncang atau hanya sekadar imajinasi saja yang bermain?


*Penulis adalah Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP UMSU dan Bergiat di Komunitas Diskusi Sastra FOKUS UMSU

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

[+] kaskus emoticons nartzco