Peran Sastra dalam Menyikapi Kehidupan Pelajar

oleh
Oleh : Ihsan Subhan

Hampir mendekati pertengahan tahun 2017, Cianjur mengalami krisis moral yang harus sesegera mungkin diatasi. Minggu terakhir di Kabupaten Cianjur Jawa Barat contohnya, sudah terjadi pembunuhan, gegaranya tawuran yang mereka lakukan. Kejadian seperti itu tidak sedikit mungkin di Negara kita. Hanya saja saya akan fokus menyoroti kejadian Tawuran yang terjadi munggu terakhir kemarin di kalangan pelajar di kota yang memiliki gerakan keagamaan dan kebudayaan. Entah apa sebenarnya, penyebab utamanya. Yang jelas ini membuktikan, tindakan anarkis semacam itu merupakan tindakan kriminal yang harus segera diantasipasi, sehinggta tidak terulang kembali.

Dalam kasus demikian, yang menjadi subjeknya adalah para pelajar atau peserta didik yang ada di sekolah negeri maupun swasta. Jika dihubungkan dengan apa yang mereka konsumsi sehari-hari terkait pelajaran yang didapatnya di sekolah, saya rasa mereka menerimanya di sekolah, seperti pelajaran Pendidikan Agama Islam yang kental mengajarkan tata cara beribadah, hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan alam, manusia dengan sesame manusia. Bahasa dan Sastra Indonesia, Sosiologi, dan Bidang studi pendidikan lainnya yang saya kira masih ada pembelajaran moralnya yang bisa dihubung-hubungkan oleh pendidiknya/guru. Yang menjadi pertanyaannya, apakah guru tersebut mahir untuk mengolah suatu mata pelajaran yang terkoneksi juga dengan etika-etika tertentu atau pembelajaran moral lainnya yang sesuai dengan kebudayaan daerahnya atau lingkungannya. Ataukah hanya sekedar mengajar, dan mengejar ketuntasan materi pelajaran sesuai kalender pendidikan?

Peran mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, ini merupakan mata pelajaran yang selalu dipelajari oleh pelajar dari jenjang pendidikan Dasar sampai Menengah Atas/SMA. Keberadaannya masih tetap ada, dan masih menjadi mata pelajaran yang wajib di setiap sekolah, dan bahkan di jenjang SMP dan SMA, ada penambahan jam pelajaran yang telah diatur oleh kemdiknas terkait Kurikulum 2013.

Yang saya yakini, dari mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia itu adalah, banyaknya pelajaran-pelajaran moral, kelembutan hati, dan nasionalisme dalam berbahasa. Apalagi materi sastra yang di ajarakan di dalamnya, mengandung pelajaran-pelajaran yang sangat berharga. Puisi; mengajarkan kelembutan jiwa dari setiap kata-katanya yang mengandung makna sebuah kehidupan. Bagaimana peserta didik menjadi pribadi yang santun, lembut, berkarakter dan penuh kasih sayang di dalamnya. Puisi juga berperan agar siswa dapat memahami ungkapan kepedihan dan kebahagiaan dari penulisnya. Banyak sekali para penyair yang membuat puisi-puisi yang bertemakan kehidupan sosialnya, seperti puisi-puisi A. Mustafa Bisri, Taufik Ismail, Chairil Anwar, dan penyair lainnya. Apalagi kehidupan percintaanya dengan bahasa yang puitis, nada yang ritmis, tempo yang mengalun, metafora yang kuat, dan dengan pilihan diksi yang relatif dan dapat dibaca nyaman. Puisi akan menjadi alternatif bagi pelajar yang ingin melunakkan hati dari kerasnya kehidupan di sekitarnya.

Ada pula cerita pendek atau Cerpen yang menguak cerita-cerita kehidupan seseorang secara nyata atau pun surrealism. Apapun itu bentuk cerpennya, dalam mempelajari ceritanya, tentu dapat menemukan pembelajaran-pembelajaran kehidapan yang secara arif dapat tersampaikan dengan bijak melalui plot, penokohan, gagasan pemikiran, dan pembelajaran lainnya yang biasanya sesuai dengan kondisi zaman dan kehidupan manusia itu sendiri. Hampir sama dengan cerpen, Novel pun menjadi bahan ajar para pelajar. Fungsinya masih tetap sama, untuk mempelajari karakter-karakter tokoh di dalamnya, pesan moral di dalam ceritanya dapat kita ambil sebagai cerminan atau pembelajaran kehidupan yang lebih baik.

Jika pembelajaran sastra tersebut benar-benar diterapkan dan diaplikasikan oleh peserta didik seluruhnya atau minimal setengah dari para pelajar dari satu sekolah misalnya, maka lingkungan di dalamnya akan mengikuti, dan terpengaruh dalam menanamkan atau mengaplikasikan lingkungannya yang menerapkan moralitas kehidupan sesuai dengan anjuran, baik itu agama secara utuh maupun nilai-nilai kebaikan dalam kebudayaan dan sosial.

Tawuran antapelaran, mungkin salah satunya adalah dampak dari kurangnya pembelajaran sastra, kurangnya menerapkan materi-materi sastra, membaca karya sastra, dan memperhatikan sastra sebagai salah satu ruh dalam menjalani kehidupan yang vertical. Padahal sudah terbukti bahwa pembelajaran sastra adalah sebuah perenungan yang dapat membuat setiap orang tersentuh, seperti halnya ayat-ayat dalam Al-Quran, yang banyak sekali terdapat cerita-cerita bijak dari setiap zaman, dan memiliki struktur kata-kata yang indah. Bukankah Tuhan Yang Maha Esa, menyukai keindahan. Maka indahkanlah diri kita sendiri dengan prilaku yang baik, dan mari kita berbuat kebajikan bukan bermain dalam kebathilan. Sebagaimana yang telah diperintahkan Allah dalam surat Al-Alaq. Agar kita harus membaca, dan salah satunya adalah bacaan sastra. Literatur yang dapat memberikan kelembutan hati dan ketentraman jiwa.


*Ihsan Subhan, Penyair dan Esais kelahiran Cianjur Jawa Barat. Aktif di berbagai kegiatan sastra, tulisan-tulisan sastranya dalam bentuk puisi tersebar di berbagai media lokal maupun nasional.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

[+] kaskus emoticons nartzco