Harga Ubi Jalar Terjun Bebas, Petani Menjerit

oleh

KARANGTENGAH | Harian Waktu – Puluhan petani ubi jalar di Desa Sabandar, Kecamatan Karang Tengah menjerit. Pasalnya harga ubi jalar kali ini terjun bebas membuat para petani terpukul karena mengalami kerugian yang besar. Harga ubi jalar yang biasanya mencapai Rp 5.000 per kilogram, kini hanya dihargai Rp 200 perkilo gram.

Padahal dalam kurun waktu hampir 50 tahun menanam ubi jalar, masyarakat Desa Sabandar yang terdiri dari warga Kampung Cisaat, Kebonbaru, Cinangsi, Salagedang dan Sabandar Kidul, belum pernah merugi sedemikian besar akibat harga jual yang terjun bebas.

Salah seoarang petani, Deni (32) warga Cisaat mengeluhkan, kerugian yang dialaminya sangat besar. Modal awal yang ditanam untuk lahan sekitar satu hektar lebih mengeluarkan Rp. 12. 000.000, sedangkan setelah dipanen dan dijual hanya mampu kembali Rp 2.000.000. “ Saya rugi Rp 10 juta per hektar karena harga jual terjun bebas. Baru kali ini selama menjadi petani ubi jalar, saya mengalami kerugian sebasar ini,” keluh Deni.

Begitu juga dengan Endang (29), modal tanam Rp. 10.000.000 hasil patungan dengan orang tuanya ludes hanya tersisa  Rp 1 juta saja hasil dari penjualan ubi jalarnya. “Jangankan untung, hutang ke bandar saja tidak terbayarkan,” ucap Endang sambil menyenderkan badan ke pintu rumahnya.

“Kalau dulu bandar yang berhutang ke petani, sekarang malah jadi terbalik, petani yang banyak hutang ke bandar,” tambahnya.

Kepala Desa Sabandar Dedi Saepudin, menerangkan bahwa desa Sabandar ibarat sedang mengalami musibah terbesar. Seumur hidupnya, sampai menjabat sebagai Kades, baru kali ini mengalami harga ubi sampai ke angka Rp 200 perkilogram.

Dedi menyebutkan, ubi jalar adalah komoditi utama dari desanya. Dia mencontohkan, kalau di desa lain,sistem tanam dalam setahun adalah tanam padi, lalu palawija. Tapi kalau di Desa Sabandar terbalik jadi tanam palawija dulu lalu tanam padi.

“Makanya, gagal jual ubi jalar yang terjun bebas ini sangat memukul kami,” tuturnya.

Menurut Dedi, dari jenisnya masyarakat di desanya umumnya menanam ubi jalar jenis Ceret, jenis SQ, jenis Jablay terakhir Ubi Ketan.” Populasi masyarakat petani ubi jalar disini hampir 60%. Makanya gagal jual ini adalah musibah besar. Diduga anjloknya harga jual ubi jalar karena pasokan melimpah, panen scera bersamaan dengan daerah lain,” pungkasnya. Ruslan Ependi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

[+] kaskus emoticons nartzco