Manisan Oleh-oleh Wajib Cianjur

oleh

CIANJUR │ Harian Waktu – Kalau  dengar kata Cianjur, orang pasti mengkaitkannya dengan beras, tauco, ayam pelung dan juga manisan buahnya. Cianjur sebagai kota lintasan antara Jakarta dan Bandung memang cukup terkenal sebagai sentra kuliner sejak lama. Salah satunya yang cukup banyak diminati adalah manisan. Toko-toko manisan berderet disepanjang jalan ketika memasuki kota Cianjur, baik dari arah Jakarta maupun arah Bandung.

Siapa orang yang tidak kenal dengan manisan buah. Hampir semua orang pernah mencicipi manisan buah. Jenis manisan buah pun bermacam-macam, ada yang manisan salak, jambu, mangga, cermai, pala, pepaya dan juga kedondong. Selain itu, rasanya juga beragam ada yang manis saja tapi ada pula yang pedas manis.

Kalau berjalan-jalan di kota Cianjur, hampir di setiap sudut kota ada saja penjual manisan buah dan sayur. Biasanya manisan-manisan ini ditaruh di toples beling berukuran besar, dan biasanya lagi dijual per kilo. Manisan buah ini dibuat selalu baru oleh penjualnya. Yah, meskipun ada saja penjual yang nakal yang menyajikan manisan-manisan ini tidak segar lagi.

Manisan buah paling enak disantap saat siang hari, ketika cuaca tengah terik. Dan biasanya disajikan dalam keadaan dingin. Simpan manisan buah ini dalam lemari pendingin. Dan keluarkan ketika akan disantap. Manisan buah ini juga cocok dijadikan oleh-oleh untuk keluarga dan kerabat di akhir pekan ini.

Pembuat manisan yang paling terkenal berada di gang sempit, Gang Karya IV, Kelurahan Solokpandan, Kecamatan Cianjur. Setia pagi  sejumlah orang sibuk mengupas buah. Ada yang mengupas buah salak dan ada yang mengupas kedongdong. Di bangunan yang tak begitu luas mereka seperti berlomba mendapatkan hasil kupasan buah lebih banyak.

Para orang ini ternyata sejumlah pekerja pada industri rumahan manisan Cianjur yang masih bertahan. Dari masa kejayaan manisan Cianjur beberapa waktu lalu, hanya beberapa industri rumahan yang masih bertahan dan bisa dihitung dengan jari.

“Saya membuat manisan Cianjur sejak 21 tahun yang lalu. Namun, sejak tahun 1970-an sudah berkecimpung jadi pekerja pembuat manisan. Ya Alhamdulillah sampai sekarang masih ada dan bertahan meski mengalami penurunan omset yang tidak sedikit,” kata Jaja Jaelani (57), salah seorang pembuatan manisan yang masih bertahan

Jaja mengaku tidak bisa memenuhi permintaan untuk seluruh jenis buah-buahan yang biasa dibuat manisan. Selain bahan baku yang musiman ada, manisan buatannya juga tak cepat habis karena pembeli semakin menurun.

Akhirnya ia mensiasati permintaan pelanggan, pihaknya membuat manisan dari buah lain,seperti bengkuang atau jenis buah-buahan yang pasokannya tidak mengandalkan musim.

Usaha rumahan yang dijalani Jaja ini pun mampu memproduksi rata-rata 500 kilogram buah dalam dua sampai tiga hari. Para pekerjanya pun borongan dari para tetangganya. “Sekalian memberi peluang para pemuda di sini. Sekarang dapat pasokan buah 500 kg juga susah. Tahun ini paling susah, biasanya kalau gampang, dua ton juga kami produksi,” tuturnya.

Usahanya yang dijalani sejak 1992 ini, kata Jaja, merupakan upaya dirinya untuk mempertahankan salah satu oleh-oleh khas Cianjur yang bisa dijadikan kebanggaan. “Manisan yang dijual di toko, tidak semuanya dari Cianjur, ada juga dari daerah lain. Tapi kan jadi lucu, namanya manisan Cianjur, tapi dibuatnya dari daerah lain. Makanya, saya akan tetap bertahan menjalankan usaha ini,” katanya. DJ/Net

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

[+] kaskus emoticons nartzco