Hubungan Sikap Guru terhadap Kompetensi Profesional Guru

Link Banner

Oleh : Nurhayati, S.Pd., MM

Profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oeh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, dan kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta mernerlukan pendidikan profesi (UU. No. 14 Tahun 2005 Tentang guru dan Dosen pasal 1.4). guru sebagai pendidik profesional dituntut untuk selalu menjadi teladan bagi masyarakat di sekelilingnya. Pada dasarnya profesi guru adalah profesi yang sedang tumbuh. Walaupun ada yang berpendapat bahwa guru adalah guru semi profesional, namun sebenarnya lebih dan itu. Hal ini dimungkinkan Karena jabatan guru hanya dapat diperoleh pada lembaga pendidikan yang lulusannya menyiapkan tenaga guru, adanya organisasi profesi, kode etik dan ada aturan tentang jabatan fungsional guru (SK Menpan No. 26/1989).

Usaha profesionalisasi merupakan hal yang tidak perlu ditawar-tawar Iagi Karena uniknya profesi guru Profesi guru harus memiliki berbagai kompetensi seperti kompetensi profesional, personal dan sosial. II. Sasaran Sikap Profesional guru Secara umum, sikap profesional saorang guru dilihat dari faktor luar. Akan tetapi, hal tersebut belum mencerminkan seberapa baik potensi yang dimiliki guru sebagai seorang tenaga pendidik. Menurut PP No. 74 Tahun 2008 pasal 1.1 Tentang guru adalah  UU No. 14 Tahun 2005 pasal 1.1 Tentang guru dan Dosen, guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaiuasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalar pendidikan format, pendidikan formal dan pendidikan menengah. 1) Sikap terhadap peraturan perundang-undangan Pada butir sembilan Kode Etik guru. Indonesia disebutkan bahwa: “guru melaksanakan segala kebijaksanaan Pemerintah dalam bidang pendidikan”. (PGRI, 1973).  Kebijaksanaan pendidikan di negara kita dipegang oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan melalui ketentuan-ketentuan dan peraturan-peraturan yang harus dilaksanakan oleh aparatur dan abdi negara. guru mutlak merupakan unsur aparatur dan abdi negara. Karena itu guru harus mengetahui dan malaksanakan kebijakan-kebijakan yang ditetapkan. Setiap guru di Indonesia wajib tunduk dan taat terhadap kebijaksanaan dan peraturan yang ditetapkan dalam bidang pendidikan, baik yang dikeluarkan oleh Depdikbud maupun departemen lainnya yang berwenang mengatur pendidikan. Kode Etik guru Indonesia memiliki peranan penting agar hal ini dapat terlaksana. 2) Sikap terhadap organisasi profesi Dalam UU. No. 14 Tahun 2005 pasal 7.1.i disebutkan bahwa “guru harus memiliki organisasi profesi yang mempunyai kewenangan mengatur hal-hal yang berkaitan dengan tugas keprofesionalan guru”. Pasal 41.3 menyebutkan guru wajib menjadi anggota organisasi profesi lni berarti setiap guru di Indonesia harus tergabung dalam suatu organisasi yang berfungsi sebagai wadah usaha untuk membawakan misi dan memantapkan profesi guru. Di Indonesia organisasi ini disebut dengan Persatuan guru Republik lnoonesia (PGRI). Dalam Kode Etik guru indonesia butir delapan disebutkan : guru secara bersama-sama memelihara dan meningkatkan mutu organisasi PGRI sebagai sarana perjuangan dan pengabdian. Ini makin menegaskan bahwa setiap guru di Idonesia harus tergabung dalam PGRI dan berkewajiban serta bertanggung jawab untuk menjalankan, membina, memelihara dan memajukan PGRI sebagai organisasi profesi. Baik sebagai pengurus ataupun/sebagai anggota. Hal ini dipertegas dalam dasar keenam kode etik guru bahwa guru secara pribadi dan bersama-sama mengembangkan, dan meningkatkan martabat profesinya.

Peningkatan mutu profesi dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti penataran, lokakarya, pendidikan lanjutan, pendidikan dalam guru, studi perbandingan dan berbagai kegiatan akademik lainnya. Jadi kegiatan pembinaan profesi tidak hanya terbatas pada pendidikan prajabatan atau pendidikan lanjutan di perguruan tinggi saja, melainkan dapat juga dilakukan setelah lulus dari pendidikan prajabatan ataupun dalam melaksanakan jabatan. Guru bersama-sama memelihara dan meningkatkan mutu organisasi PGRI sebagai sarana perjuangan dan pengabdian. Maka dari itu setiap orang harus memberikan waktu sebagiannya untuk kepentingan pembinaan profesinya dan semua waktu dan tenaga yang diberikan oleh para anggota ini dikoordinasikan oleh para pejabat organisasi tersebut, sehingga pemanfaatannya menjadi efektif dan efisien. 3) Sikap terhadap teman sejawat Dalam ayat tujuh. Kode Etik Guru disebutkan bahwa “guru memelihara hubungan seprofesi, semangat kekeluargaan, dan kesetiakawanan sosial”. lni berarti bahwa: guru hendaknya menciptakan dan memelihara hubungan sesarna guru dalam lingkungan kerjanya. Guru hendaknya menciptakan dan memelihara semangat kekeluargaan dan kesetiakawanan sosial di dalam dan di luar lingkungan kerjanya.

Dalam hal ini ditunjukkan bahwa betapa pentingnya hubungan yang harmonis untuk menciptakan rasa persaudaraan yang kuat di antara sesama anggota profesi. Di lingkungan kerja, yaitu sekolah, guru hendaknya menunjukkan suatu sikap yang ingin bekerja sama, menghargai, guru, dan rasa tanggungjawab kepada sesama personel sekolah. Sikap ini diharapkan akan memunculkan suatu rasa senasib sepenanggungan, menyadari kepentingan bersama, dan tidak mementingkan kepentingan sendiri dengan mengorbankan kepentingan orang Iain. Sehingga kemajuan sekolah pada khususnya dan kemajuan pendidikan pada umumnya dapat terlaksana. Sikap ini hendaknya juga dilaksanakan dalam pergaulan yang Iebih luas yaitu sesama guru dari sekoIah lain. 4) Sikap terhadap anak didik Dalam Kode Erik guru Indonesia disebutkan : “guru berbakti membimbing peserta didik untuk membentuk manusia Indonesia seutuhnya berjiwa Pancasila Dasar ini mengandung beberapa prinsip yang harus dipahami seorang guru dalam menjalankan tugasnya sehari-hari, yakni: tujuan pendidikan nasional, prinsip membimbing, dan prinsip pembentukan manusia indonesia yang seutuhnya. Tujuan Pendidikan Nasional sesuai dengan UU. No. 2/1989 yaitu membentuk manusia indonesia seutuhnya berjiwa Pancasila. Prinsip yang Iain adalah membimbing peserta didik, bukan mengajar atau mendidik saja. Guru membimbing seperti yang dikemukakan oleh Ki Hajar Dewantara yaitu  ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso,  dan  tut wuri handayani.  Kalimat ini mengindikasikan bahwa pendidikan harus memberi contoh, harus dapat memberikan pengaruh, dan harus dapat mengendalikan peserta didik. Prinsip manusia seutuhnya dalam kode etik ini memandang manusia sebagai kesatuan yang bulat, utuh baik jasmani maupun rohani, tidak hanya berilmu tinggi tetapi juga bermoral tinggi pula. Dalam mendidik guru tidak hanya mengutamakan aspek intelektual saja, tetapi juga harus memperhatikan perkembangan seluruh pribadi peserta didik, baik jasmani, rohani, sosial, maupun yang lainnya sesuai dengan hakikat pendidikan.

Profesional guru merupakan kondisi, arah, nilai, tujuan dan kualitas suatu keahlian dan kewenangan dalam bidang pendidikan dan pengajaran yang berkaitan dengan pekerjaan seseorang yang menjadi mata pencaharian. Profesional guru yang dimaksud adalah guru yang profesional. Adapun guru profesional itu sendiri adalah guru yang berkualitas, berkompetensi, dan guru yang dikehendaki untuk mendatangkan prestasi belajar serta mampu mempengaruhi proses belajar mengajar siswa, yang nantinya akan menghasilkan prestasi belajar siswa yang lebih baik.


*Penulis merupakan Kepala Sekolah Dasar Negeri di Cibeber, aktif di berbagai organisasi kewanitaan, menyukai sastra.

Category: OpiniTags:
example banner
No Response

Leave a reply "Hubungan Sikap Guru terhadap Kompetensi Profesional Guru"

[+] kaskus emoticons