Menafsir Puisi Adat Dari Rahim Willy Ana

oleh

Oleh : Ubai Dillah Al Anshori

“Tabot”

Lelaki putih
Perempuan putih
Makin pipih

Laut tak lagi bergelombang
Pantai jadi warna warni
Seperti pasar malam di kota-kota

Tak ada lagi Syeikh Burhannuddin Imam Senggolo itu
Memimpin tetabuhan
Pada bulan muharram

Ia terperosok pada lobang waktu
Menjadi Artefak
Sunyi dan beku

Tak ada lagi Husein bin Ali bin Abi thalib, cucu sang Rosul
Yang gugur di Karbala
Melawan Yasid bin Muawiyah

Bunyi- bunyian dari dol dan tessa
Hilang di tiup angin
Dan suara- suara parau
Perempuan malam
Mendayu membelah malam

Orang-orang laut pulang
Setelah melarungkan sampan kecil
Berisi doa-doa dan kenangan
Ke laut

20 November 2016

(Puisi Willy Ana)

Puisi di atas sejatinya sebagai pengantar tentang Tabot yang ada di Kota Bengkulu. Seperti diketahui Tabot adalah upacara tradisional masyarakat Bengkulu untuk mengenang cucu Nabi Muhammad SAW, Husein bin Ali bin Abi Thalib dalam peperangan dengan pasukan Ubaidillah bin Zaid di padang Karbala, Irak pada tanggal 10 Muharam 61 Hijriah (681 M).

Perayaan di Bengkulu pertama kali dilaksanakan oleh Syeh Burhanuddin yang dikenal sebagai Imam Senggolo pada tahun 1685. Syeh Burhanuddin (Imam Senggolo) Menikah dengan wanita Bengkulu kemudian anak mereka, cucu mereka dan keturunan mereka disebut sebagai keluarga Tabot. upacara ini dilaksanakan dari 1 sampai 10 Muharram (berdasar kalendar islam) setiap tahun.

Sampai saat ini upacara adat tersebut masih dapat dinikmati oleh masyarakat setempat maupun dari luar daerah. Tetapi, kesakralan dari Tabot tidak lagi dapat dinikmati dengan indah.
Acara-acara adat Tabot kini diwarnai dengan berbagai macam karnaval-karnaval yang diadakan oleh pihak-pihak tertentu. Hal itu yang di zaman sekarang ini menghilangkan ketajaman dan kesakralan.

Puisi tersebut terlahir dari rahim Willy Ana yang berasal dari Bengkulu. Hadir sebagai keganjalan tentang adat yang sudah tidak memiliki kesakralan setelah kota tersebut kehilangan tetua-tetua adat.

Dalam larik-larik tersebut lelaki dan perempuan putih makin pipih sebagai pembuka atau pengantar puisi Tabot. Setelahnya ia merasakan kehilangan Syeikh Burhannuddin yang sudah masuk ke dalam lobang hitam adalah ancaman bagi kota Bengkulu. Begitu juga, dengan kepergian Husein bin Abi Thalib.

Bunyi-bunyian dari dol dan tessa seraya sudah hilang. Itulah yang saat ini digambarkan oleh Willy Ana sebagai pengarang. Ia sudah benar – benar kehilangan ciri khas dari Bengkulu.

Suara-suara dari alat musik itu sudah berganti menjadi suara wanita yang mendayu dan dapat membelah malam. Larik demi larik dilansirnya, kesedihan terbenam di jantungnya.

Pada bait puisi ke 2, Willy Ana menyatakan laut sudah tak bergelombang, pantai menjadi warna-warna seperti pasar malam di kota -kota. Ketajaman laut sudah hilang, ombak sudah punah ditelan oleh modern yang ada di dunia.
Willy Ana dalam puisinya berharap besar untuk perubahan kota kelahirannya untuk menjadikan kembali kesakralan dari Tabot. Sebagaimana puisi-puisi lain dari Willy Ana memang kebanyakan bertemakan tentang Bengkulu.
Kembali pada puisi bait terakhir mari kita simak

Orang-orang laut pulang
Setelah melarungkan sampan kecil
Berisi doa-doa dan kenangan
Ke laut

Willy Ana menyatakan kalau orang-oramg telah pulang. Karena, semua yang akan mereka laksanakan telah usai. Dengan menggunakan sampan kecil menuju laut yang sudah tak bergelombang.
Sepertinya semua telah tiada. Hanya tinggal doa-doa dan kenangan yang akan berlabuh ketepian laut.
Willy Ana sebagai penyair muda bengkulu terus mempertahankan budaya-budaya yang ada disana serta terus menggali apa yang dapat dilahirkannya dari kota tersebut. meski, kini ia sudah tidak menetap disana.


*Penulis adalah Mahasiswa UMSU dan bergiat di komunitas diskusi sastra FOKUS UMSU Medan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

[+] kaskus emoticons nartzco