Pelajar Cianjur Deklarasikan Anti Tawuran

oleh

CIANJUR │Harian Waktu “Pemkab Cianjur berkomitmen akan memberikan sanksi tegas bagi siswa-siswi yang melakukan aksi tawuran. Salah satu sanksi tegas tersebut, bisa saja si anak akan dikeluarkan dari sekolah yang bersangkutan dan tidak akan diterima di sekolah manapun yang ada di Cianjur,”

Hal itu dikatakan oleh wakil Bupati Cianjur, Herman Suherman, di hadapan para pelajar se-Cianjur, dalam acara penandatangan nota kesepahaman (Mou) sekaligus deklarasi pelajar anti tawuran, di Gedung Bale Praja Kabupaten Cianjur, baru-baru ini.

Herman melanjutkan, kesepakatan tersebut digagas oleh Pemkab Cianjur dan seluruh Kepala Sekolah, baik yang melakukan tawuran maupun sekolah yang tidak terlibat. “Nantinya, agar mereka semua siswa yang sekolah dimana kepala sekolah tersebut hadir bisa mencegah terjadinya tawuran.

Acara deklarasi tersebut yang juga dihadiri dan menandatangi, seperti Pimpinan DPRD Cianjur, Kejari Cianjur, Polres Cianjur, Kodim 0608 Cianjur, Kemenag Cianjur, BNNK Cianjur dan Dinas Pendidikan (Disdik) Propinsi Jawa Barat, tidak ketinggalan para kepala sekolah dan siswa, langsung membubuh tinta di atas piagam.

 Menurutnya, perjanjian kesepakatan ini, telah dipahami sekaligus disepakati oleh seluruh kepala sekolah yang berpartisipasi dalam penetapannya. “Rehabilitasi sosial merupakan sebuah konsekuensi aksi tawuran pelajar. Hal ini, dilakukan untuk memutus mata rantai tawuran yang sudah membudaya . Dan pihak sekolahpun  harus terus didorong untuk kooperatif dalam antisipasi tawuran dan upaya pencegahan tawuran,” katanya.

Sementara itu Kepala sekolah SMK Ams Siliwangi Cianjur, Deni Koswara mengatakan, pihaknya sepakat dengan apa yang disampaikan Wakil Bupati Cianjur, bahwa setiap siswa yang melakukan tawuran akan dikeluarkan dari sekolah dan tidak akan diterima kembali di sekolah yang ada di cianjur.

“Jadi setiap sekolah SMK se-Cianjur akan mengadakan perjanjian,  untuk menyepakati setiap siswa yang melakukan tawuran akan dipindah daerahkan, atau di limpahkan kepada Dinas Sosial untuk dibina,” ujar deni.

Dia mengatakan, selama ini pihak sekolah mengaku bersikap tegas dalam menyikapi tawuran antar pelajar dan melakukan pencegahan, tapi pihaknya pun mengakui, semaksimal apapun pihak sekolah tetap harus didampingi pengawasan dari linkungan terutama keluarga.

“Kita kan melakukan pengawasan sesuai dengan jam pelajaran, yaitu dari jam 8.00 wib sampai jam 16.00 wib. Jadi selebihnya kami serahkan kembali ke pihak keluarga,” imbuhnya. Ismat Nasrulloh.

B1

Jurusan Akutansi Diharapkan Mampu Bersaing di Era Perdagangan Bebas

CIPANAS – SMK Negeri 1 Cipanas, menyiapkan salah satu jurusan andalannya yaitu jurusan Akutansi, agar siswa lulusannya mampu bersaing, malah bisa dikatakan punya kelebihan dari lulusan sekolah lain. Jurusan ini mendidik siswa memiliki Skill Passport, yang merupakan sebuah capaian kompetensi profesional siswa, yang diuji oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi disingkat (BNSP) di tahun ajaran 2016 ini.

Sekretaris Jurusan Akutansi SMK Negeri 1 Cipanas, Herliawan Herwandi mengatakan, dengan kemmapuan  Skill passport ini nantinya siswa diujikan dengan berbagai kualifikasi, dan yang lulus kualifikasi akan mendapat sertifikat setara dengan lulusan pendidikan Vokasi.

“Ketika anak dianggap layak  maka mendapat sertifikat setara dengan sertifikat pendidikan vokasi, dan kami terus usahakan agar lulusan tahun ini mampu menjawab tantangan jaman, dimana perkembangannya terus berkembang, dari waktu ke waktu,” katanya.

Dalam pelaksanaannya, tutur dia, nantinya siswa atau alumni akan sama-sama ikut ujian, dan hanya siswa yang lulus saja yang bisa mendapat sertifikat vokasi tersebut. “Pada dasarnya, jurusan Akutansi ini kan tidak berbasis kepada keterampilan khusus, akan tetapi lebih ke penyediaan jasa akutansi, jadi sangat dituntut lulusan mempunyai sikap professional di bidang Akutansi,” tutur dia.

Lebih lanjut ia mengatakan untuk mempersiapkan lulusan yang professional, pihaknya mendorong anak untuk memiliki kecakapan etika, dan mental, dengan menciptakan program literasi budaya yang baik. “Yang kita lakukan, menuju persaingan perdagangan bebas Asean, dengan itu maka lulusan harus mempunyai mental kerja yang kuat,” ujarnya.

Tidak hanya itu berbagai usaha yang dilakukan oleh pihak sekolah juga melibatkan orang tua untuk sama-sama memberikan pendidikan dan pengawasan terhadap anak didik. “Langkah kami pun merambah kepada orangtua, untuk memberikan edukasi kepada orangtua setiap triwulan sekali, agar mereka bisa memberikan pengawasan dan pendidikan pembiasaan, atau budaya yang baik,” pungkas dia. Ismat Nasrulloh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

[+] kaskus emoticons nartzco