Emil Bisa Blunder Politik

oleh

BANDUNG | Harian Waktu – Deklarasi dukungan politik Partai Nasdem kepada Wali Kota Bandung Ridwan Kamil untuk maju sebagai Cagub Jawa Barat dinilai, berpotensi jadi blunder politik bagi masa depan karier politik sosok yang akrab disapa Emil tersebut.

Hal tersebut diungkapkan pengamat politik yang menjabat sebagai Ketua Pusat Studi Politik & Keamanan (PSPK) Universitas Padjadjaran Muradi. Menurutnya, langkah terlalu dini menerima pinangan untuk dicalonkan sebagai cagub pada pilgub 2018 mendatang menjadi potensi masalah yang bakal dihadapi Emil.

Ditegaskan Muradi, ada lima alasan mengapa potensi Emil bisa melakukan blunder politik. Pertama, deklarasi tersebut membuat warga Kota Bandung merasa ditinggalkan dengan sisa waktu kurang dari dua tahun.

“Kehadiran Emil pada deklarasi tersebut juga mensiratkan ambisi politik Emil yang menggebu. Secara etika politik, baik bagi Emil untuk tetap fokus menuntaskan program kerjanya di Bandung. Meski tetap membangun komunikasi dengan partai politik dan relawan dalam kerangka Pilgub jabar 2018,” ujar Muradi.

Sebab, lanjutnya, pasca deklarasi juga akan membawa konsekuensi mengganggu konsentrasi Emil dalam menjalankan peran dan fungsinya sebagai kepala daerah di kota bandung.

“Yang kedua, deklarasi tersebut juga secara eksplisit menutup ruang koalisi bersama dalam pengajuan Emil sebagai bakal cagub jabar 2018. Dengan hanya 5 kursi di DPRD Jabar, keberadaan Nasdem tentu tidak akan bisa mengajukan sendiri dalam mengusung Emil, perlu dukungan dari partai lain,” tegasnya.

Langkah Nasdem dengan mengambil momentum tersebut, bagi Muradi, hanya akan membuat partai lain berpikir dua kali untuk ikut dalam gerbong dukungan ke Emil. Sementara partai politik lain yang sejak awal ingin mengusung Emil juga akan mengambil sikap yang sama.

Situasi ini, yang ia anggap akan menyandera Emil dalam situasi politik yang tidak cukup nyaman. Hal ketiga, Emil berpotensi tersandera oleh politik kepentingan dari Partai Nasdem.

Betapapun partai nasdem menegaskan tetap membuka ruang bagi dukungan bersama untuk Emil, lanjut Muradi, tapi sebagai partai yang pertama kali mengusung dan mendeklarasikan Emil sebagai bakal Cagub, Nasdem akan memilih untuk membangun daya tawar politik kepada partai-partai politik lainnya.

Keempat, pascadeklarasi tersebut akan mengubah peta politik di Jabar. Partai-partai politik yang sejak awal menunggu waktu yang tepat kemudian melihat situasi tersebut, bukan tidak mungkin akan membangun barisan yang lebih kokoh namun pragmatis.

“Misalnya Partai Golkar dan PDIP yang kecil kemungkinannya melakukan koalisi dengan PKS, maka hal tersebut dimungkinkan untuk mengusung calon yang dianggap bisa mematahkan posisi politik Emil di Jabar,” tuturnya.

Kelima, lanjut Muradi lagi, karena peta berubah, maka potensi hasil survei juga akan mengubah hasil dari yang selama ini beredar dari hasil sejumlah survei di Jawa Barat. Jika sinisme menguat karena deklarasi yang terlalu dini untuk maju di Jabar, maka posisi Emil berpotensi secara bertahap akan goyah juga dan tergeser dari puncak.

“Situasi ini jika tidak dikelola dengan baik, maka nasib Emil akan sama Dede Yusuf pada Pilgub 2013. Yang sistematis tergeser terjun bebas, kalah pada Pilgub 2013. Padahal Dede yusuf sejak awal selalu memuncaki hasil survei,” Muradi menegaskan.

Sementara itu pakar politik dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Karim Suryadi menilai, deklarasi Partai Nasdem yang mengamplifikasi pilihan kepada Emil untuk bersaing merebut kursi Jabar satu, tidak bisa diabaikan dalam pasar politik. Walaupun untuk peluang  tergantung dari ikhtiar yang dilakukan oleh orang nomor satu di Kota Bandung tersebut.

“Soal peluang itu bergantung pada ikhtiar, Emil sudah punya modal yang cukup. Meski kekuatan utamanya di pasar politik Kota Bandung, namun warga Jabar cukup mengenalnya berkat jejak-jejak kepempinannya di Kota Bandung,” tuturnya.

Menurutnya, meski Ridwan Kamil tidak rajin menebar baliho, tapi warga dapat terbaca track record-nya dari caranya menata manajemen pemerintahan, menata kota dan merespons persoalan warga. Dengan demikian, melalui kinerjanya telah berkampanye dan kunjungan warga Jabar ke Bandung adalah kampanye gratis.

“Bagusnya Emil tidak menunjukkan nafsu berkuasa yang bergelora agar tampil apa adanya,” terangnya.Zacky

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

[+] kaskus emoticons nartzco