Bisnis Fotography Jadi Incaran Masa Kini

oleh

CIANJUR | Harian Waktu– Sebagian orang mungkin masih banyak yang beranggapan bahwa bisnis fotografi adalah bisnis padat modal, bisa dihitung dari jumlah asset yang harus dimiliki seorang fotografer, cukup besar untuk memiliki sebuah studio lengkap dengan peralatan foto yang profesional. Akan tetapi, saat ini paradigma itu telah bergeser. Bahkan dunia digital membawa perubahan besar terhadap perkembangan fotografi itu sendiri.

Secara umum fotografer adalah seseorang yang bekerja memberikan jasa fotografi, biasanya melalui tahapan proses seperti bertemu klien, mengambil gambar, mencetak, memberikan gambar tersebut kepada klien, dan mendapatkan bayaran atas jasa tersebut. Tetapi saat ini ruang lingkup pekerjaan fotografer bukan hanya itu saja.

Menurut pemilik usaha fotography di Cianjur yang berada di bilangan RSUD Cianjur Jepret studio, L Nur Hakim mengakatan, Sebelum memulai bisnis fotografi. Setiap orang harus memiliki segmentase pasar, siapakah calon konsumen dan hal lainnya. Bahkan, mereka bisa bertanya kepada diri sendiri, skill apa yang sudah dimiliki, karena semakin tinggi skill semakin tinggi pula calon klien dan semakin besar juga bayaran yang akan didapatkan.

“Biasanya membuat Portfolio yang seperti kumpulan karya, bisa berupa foto portrait, fashion, jurnalistik, still life, dan sebagainya yang semuanya tergantung lagi kepada segmentasi pasar. Portfolio bisa dicetak dan disusun dalam satu album, atau bisa juga menempatkannya pada media-media sosial di internet.” Papar L Nur Hakim saat ditemui di kantornya.

Biasanya untuk melakukan promosi awal, pemilik pengusaha foto bisa memulainya dengan memberikan jasa foto grastis atau dibayar ongkos cetak, mouth to mouth marketing sebagai salah satu cara yang paling efektif dan efisien untuk mengenalkan bisnis promosi usahanya fotonya kepada masyatakat.

“Ya, kita mulai semuanya dengan melakukan promosi. Setelah itu nanti pun bakal mengikuti. Sebabm untuk membuka studio foto seperti ini saya perlu mengeluarkan modal awal yang kurang lebih 40 juta rupiah,” tuturnya L Hakim.

Dalam sesi melakukan bisnis foto, biasanya sang pemilik harus memahami dulu kajian tetang kaitan foto yang diantaranya seperti Foto Komersial, foto stock, buku foto, pameran foto, kelas foto dan foto hunting.

Foto komersial model yang paling konvensional. Sebab, fotografer biasanya memotret dahulu kemudian dibayar. Bahkan. Dahulu banyak orang mengenal istilah ‘fotografer keliling’. Konsep fotografer komersial tidak jauh beda dengan fotografer keliling.

“Foto komersil soalnya harus bisa menawarkan jasa dulu baru klien membayar. Jasa yang diberikan bisa foto portrait perorangan atau keluarga, foto pernikahan, foto produk yang besaran klien dan pendapat bisa ditentukan sendiri,” ujarnya.

Biasanya, usaha fotography yang dijalankannya tersebeut memiliki keuntungan yang tidak teratur setiap bulannya. Meski bagitu, tak kurang dari 5 hingga 10 juta perbulan bisa didapatkan dari hasil usaha foto dengan berbagai permintaan.

“Ya, kalau secara jelas kita mungkin tidak teratur, paling ranchnya dalam kisaran 5 hingga 10 juita perbualan dan tergantung dengan bulan juga, soalnya ada beberapa bulan yang biasanya bagus untuk menikah, disitu memang permintaan foto pun meningkat,” tandasnya. ●Putra Lugina Sukma

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

[+] kaskus emoticons nartzco