Cerpen : Kacamata Kakek

oleh

Oleh : Tjak S. Parlan

KACAMATA KAKEK

 

Jumat sore yang hujan, ketika pikiran saya masih dipenuhi harum tanah basah dan bunga-bunga di pesarean, seorang laki-laki datang ke rumah. Laki-laki itu menyerahkan sebuah kotak kecil dan mengujarkan permohonan maaf berkali-kali karena merasa bersalah telah begitu terlambat mengantarkan kacamata pesanan kakek. Saya katakan padanya bahwa kakek tak pernah mempersoalkannya—lagi pula, kakek sudah tak perlu memakai kacamata lagi akhirnya.

***

“Bagaimana orang bisa membacanya kalau tulisanmu seperti ini, Fa?” tanggap kakek, sesaat setelah memeriksa tulisan tangan saya.

Itu hari Jumat yang libur, dan saya menawarkan diri kepada kakek untuk menuliskan naskah khotbah Jumat yang akan dibacanya.

“Maksud Kakek, banyak yang salah, ya? Kurang huruf, salah ejaan, atau apa?” tanya saya penasaran.

“Bukan itu. Kalau ingin tulisanmu dibaca orang, mesti jelas dan elok setiap abjadnya.”

“Itulah, Kek, kenapa tadi saya tawarkan diketik saja. Pakai laptop, cepat dan praktis. Dan kita bisa memilih huruf-huruf bagus yang kita suka.”

“Begitu, ya,” kakek tersenyum datar. “Seingat kakek, tulisanmu dulu bagus. Apa jaman sekarang sudah tak ada orang yang menulis tangan lagi, ya?”

Saya hanya meringis mendengar apa yang dikatakan kakek. Memang sudah cukup lama saya tak menulis tangan lagi. Sewaktu saya masih menjadi siswa sebuah Sekolah Dasar, kakek sajalah yang paling rajin mengajari saya menulis halus. Kakek membelikan saya beberapa buku tulis dan meminta saya menuliskan sesuatu yang saya sukai dalam halaman-halaman yang bergari-garis tipis itu. Setelah saya menuliskan beberapa kalimat, kakek akan memeriksanya dan menyalinnya untuk kemudian saya salin ulang sesuai dengan model yang telah dicontohkan oleh kakek. Tulisan tangan kakek bagus sekali. Jika harus membandingkannya dengan seisi ruang kelas, hanya tulisan tangan Bu Guru sajalah yang mampu menyamainya.

“Tapi Kakek masih bisa membacanya, kan?” tanya saya kemudian.

“Sudah tak ada waktu,” ujar kakek sembari menggeleng-gelengkan kepala.

Kakek selalu menulis sendiri khotbah Jumat-nya. Di setiap Jumat pagi, ketika saya sedang bersiap-siap berangkat kerja, saya sering melihat kakek sedang tekun menyendiri di ruang kerjanya yang ada di ruang tengah. Di ruang itu— yang sering saya sebut sebagai ruang kerja kakek— kakek sering menghabiskan waktunya. Biasanya kakek akan duduk tekun di sebuah kursi kayu yang menghadap ke meja untuk menyusun khotbah Jumat.

Namun sudah tiga Jumat berlalu, kakek sepertinya kesulitan menjalani ritual agungnya itu. Saya baru menyadari itu ketika melihatnya sedang menulis. Posisi duduknya tidak seperti biasanya. Biasanya kakek selalu menulis dengan posisi badan membungkuk sehingga wajahnya berjarak lebih dekat dengan permukaan meja. Namun kali itu badanya terlihat begitu tegak, seolah-seolah sepasang matanya sedang menjaga jarak dengan beberapa lembar kertas yang masih kosong di atas meja. Rupanya kakek telah secara tak sengaja menjatuhkan kacamatanya dari lantai atas ketika akan mengambil beberapa buku yang ia simpan di sebuah kamar yang dulunya ditempati  ayah saya.

“Besok Minggu saya akan memindahkan lemari dan buku-buku itu ke bawah sini saja, biar Kakek tak perlu lagi ke atas,” ujar saya.

“Ini sudah yang ke berapa kamu bilang seperti itu, Fa?” tanya kakek datar.

Saya berusaha tersenyum meski merasa bersalah. Saya sudah sering mengatakan hal yang sama kepada kakek, namun tak pernah sekalipun menepatinya. Padahal saya bisa saja meminta tolong salah satu kawan untuk membantu menurunkan lemari buku itu dari atas, tapi selalu saja saya justru keluar rumah ketika hari Minggu tiba. Sejak nenek meninggal, saya tinggal berdua saja bersama kakek. Kedua orang tua saya tinggal dan bekerja di kota lain yang cukup jauh. Sejak masih SMA, saya dan kedua orang tua saya bergantian untuk saling mengunjungi.

“Kalau begitu, besok kita pergi cari kacamata yang baru ya, Kek,” ujar saya, “kebetulan saya juga mau memeriksakan mata.”

“Tak usahlah, Fa. Kakek sudah memesannya sendiri di tempat langganan kakek.”

“Itu tak bisa menunggu, Kek. Berapa lama pesanannya akan sampai? Lagi pula, Kakek perlu diperiksa ulang sepertinya. Biar akurat,” bujuk saya.

“Sama saja. Di langganan kakek itu juga diperiksa. Harganya cocok dan selalu pas untuk mata kakek.”

“Ya, sudahlah. Kalau Kakek merasa cocok dan masih mau menunggu.”

Kakek memang memiliki tempat khusus untuk mengganti kacamatanya. Saya pernah beberapa kali melihat laki-laki tukang kacamata itu datang ke rumah. Laki-laki itu tampak klasik dengan sebuah koper besar berwarna hitam. Ia mengeluarkan sebuah snellen chart usang dan menempelkannya di dinding pada jarak tertentu dan meminta kakek untuk membaca huruf-huruf yang tertera pada poster tersebut. Jika kakek merasa kesulitan membacanya, laki-laki itu akan mengganti lensa yang dipasang di kedua mata kakek, begitu terus, berulang-ulang sampai kakek merasa nyaman.

“Sementara menunggu kacamata, biar saya saja yang jadi juru tulis Kakek,” ujar saya dengan nada kelakar. ”Serius, Kek. Kakek tinggal mendiktekan saja apa yang harus ditulis dan saya akan mengetiknya dengan cepat.”

“Boleh. Sekalian kakek ingin melihat tulisan tanganmu lagi.”

“Saya bisa mengetik dengan sepuluh jari, Kek. Dan itu lebih cepat.”

“Rasanya beda, Fa. Apa tidak boleh Kakek membaca tulisan tanganmu?”

Akhirnya, demi Kakek, saya mulai terbiasa menulis tangan lagi. Saya berusaha menulis dengan baik agar kakek tidak kesulitan membacanya. Tapi tetap saja, hasilnya sungguh beda jika dibandingkan dengan tulisan-tulisan tangan saya sewaktu masih di bangku sekolah dulu. Meski begitu, kakek sepertinya tidak kesulitan ketika membacanya. Ia tampak baik-baik saja setiap kali saya menyerahkan beberapa lembar naskah kotbah Jumat yang baru selesai saya tuliskan.

***

Ketika sampai di rumah sakit, seorang dokter segera memanggil saya untuk masuk ke ruangannya. Dokter tersebut mengatakan dengan penuh simpati perihal yang tengah menimpa kakek. Saya jadi teringat, dulu kakek pernah terkena serangan jantung dan dirawat secara intensif selama seminggu lebih. Siang itu, yang terjadi rupanya tidak jauh beda. Ada sesuatu yang tak beres pada jantung kakek. Dari beberapa tetangga yang mengantarkannya ke rumah sakit, saya tahu bahwa kakek tiba-tiba terjatuh ketika sedang menyampaikan khotbah Jumat di masjid yang tak jauh dari rumah.

“Kami semua panik, tapi langsung melarikannya ke rumah sakit. Sayang sekali, Mbak, nyawa beliau tak tertolong lagi,” ujar salah seorang yang mengantar kakek.

Saya tak tahu harus mengatakan apa, selain hanya menyampaikan terima kasih sekadarnya kepada mereka yang telah membantu kakek di hari terakhirnya. Saya sendiri tidak melihat tanda-tanda yang mencurigakan dalam diri kakek pada hari-hari terakhir itu. Malam Jumat yang lalu, kakek bahkan masih bersikap seperti  biasanya. Ia mendiktekan dengan lancar materi khotbah Jumat dan saya menuliskannya dengan senang hati meski sedikit mengantuk. Saya bahkan tak pernah mendengar kakek mengeluhkan semacam rasa nyeri atau sesak di dadanya. Hanya sekali saja, kakek pernah menyinggung soal kacamata yang telah dipesannya kepada tukang kacamata langganannya itu.

“Kalau kacamata kakek sudah jadi, kamu tak perlu jadi juru tulis lagi,” ujar kakek waktu itu.

“Tak apa-apa, Kek. Saya senang melakukannya,” ujar saya saat itu.

Ketika saya berusaha mengingat-ingat kembali hari-hari terakhir bersama kakek,  tiba-tiba seorang laki-laki mendekati saya dan berbisik, “O, iya, Mbak. Ini sempat saya bawa sewaktu ke sini tadi. Sepertinya sebuah naskah.”

Saya menerima lembaran kertas itu dengan gemetar. Itu adalah tulisan tangan saya. Rupanya kakek telah memberikan coretan-coretan kecil di sana-sana sebagai bentuk koreksi untuk beberapa istilah dalam bahasa arab yang tampaknya telah saya tuliskan secara salah. Memerhatikannya beberapa saat, saya merasa tak enak hati. Jangan-jangan selama ini, saya sebenarnya telah membuat banyak kekeliruan. Apalagi, setelah saya perhatikan kembali, saya merasa kesulitan membaca tulisan saya sendiri.

“Apa almarhum terlihat bisa membaca dengan baik?” tanya saya tiba-tiba.

Laki-laki itu terlihat sedikit bingung dengan pertanyaan saya. “Maksud, Mbak?” tanyanya kemudian.

“Almarhum tidak memakai kacamata. Sudah berapa kali Jumat, ya?”

“Oh, ya. Saya ingat sekarang. Almarhum biasanya hanya memegang beberapa lembar kertas dan melihatnya sesekali saja dan hanya sebentar.”

“Maksud Bapak?”

“Beliau seperti hafal di luar kepala dengan semua isi khotbah yang disampaikannya. Seingat saya sedari dulu begitu, tak ada bedanya saat sedang memakai kacamata atau tidak. Catatan yang di bawanya ke mimbar seolah hanya hiasan saja.”

“Oh. Jadi begitu, ya …” ujar saya lirih.

Selanjutnya, saya hanya bisa tergugu. Saya tahu, hal yang harus dilakukan selanjutnya adalah menyampaikan berita lelayu kepada seluruh keluarga besar saya. Seperti ketika menerima berita semacamnya, saya sangat membenci hal semacam itu.

***

Jumat berikutnya, ketika pikiran saya masih dipenuhi harum tanah basah dan bunga-bunga di pesarean, laki-laki penjual kacamata itu datang ke rumah. Laki-laki itu menyerahkan sebuah kotak kecil dan mengujarkan permohonan maaf berkali-kali karena merasa bersalah telah begitu terlambat mengantarkan pesanan kacamata kakek.

“Kakek sudah tak perlu kacamata lagi sekarang,” ujar saya.

“Maafkan saya, Mbak. Saya juga mendengar kabar itu. Tapi saya benar-benar belum bisa kembali ke kota ini. Saya sulit memercayainya.”

“Tak apa, Pak. Itu tak masalah buatnya. Tapi kakek saya memang tak pernah berminat dengan kacamata dari tempat lain,” ujar saya sembari membuka-menutup kotak kecil itu.

 “Semua kacamata dari saya sesungguhnya tak pernah benar-benar membantu penglihatannya. Almarhum memiliki gangguan yang cukup serius dengan matanya. Saya sudah sering menyarankan padanya untuk menemui ahlinya saja.”

“Maksud Bapak?”

“Almarhum membeli kacamata di tempat saya karena merasa nyaman saja. Saya tahu itu. Ya, saya tahu itu, karena saya memang membutuhkannya.”

Mendengar apa yang dikatakan laki-laki itu, saya semakin merasa bersalah. (**)

Pagesangan, 17 Desember 2016

 


Tjak S. Parlan, lahir di Banyuwangi, 10 November 1975.  Cerpen dan puisinya sudah disiarkan di sejumlah media, antara lain Republika, Radar Surabaya, Media Indonesia, Jurnal Nasional, Femina, Padang Ekspres, Pikiran Rakyat, Lampung Post, Suara NTB, Sinar Harapan, Bali Post dan lain-lain. Kini bermukim di Mataram, Nusa Tenggara Barat.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

[+] kaskus emoticons nartzco