El Clasico Uji Coba Sarat Kenangan

oleh

BANDUNG  | Harian Waktu – Persib Bandung terus mematangkan persiapan jelang bergulirnya kompetisi Liga 1 2017 yang akan dimulai 15 April mendatang. Agenda uji coba pun disiapkan untuk membuat permainan Atep dan kawan-kawan lebih solid.

Setelah tampil di Trofeo Purwokerto, Maung Bandung dijadwalkan akan melakoni sejumlah pertandingan persahabatan. Berbeda dengan sebelum-sebelumnya, kali ini Persib memilih melakoni tur ke luar kota/provinsi. Salah satu di antaranya, melawan PSMS Medan di Stadion Teladan, Medan, Minggu (26/3) lusa.

Pertandingan yang rencananya disiarkan langsung di televisi itu diperkirakan akan berlangsung pukul 16.00 dan seperti diketahui, laga melawan PSMS sudah diibaratkan sebagai pertandingan el clasico bagi kedua tim.

Pasalnya, Persib dan PSMS merupakan dua klub legendaris dalam dunia sepak bola di Indonesia. Sejak zaman Perserikatan hingga Liga Super Indonesia, kedua tim kerap bersaing.

Persib dan PSMS sempat tidak bersua di dua musim kompetisi karena PSMS Medan terdegradasi. Total pertemuan kedua tim pun mencapai 52 kali di berbagai kompetisi sejak tahun 1952. Terakhir, Persib bertemu PSMS Medan pada lima tahun lalu di Stadion Teladan, Medan tepatnya pada 17 Juni 2012.

Mereka pun menaklukkan Persib Bandung dengan skor 3-2. Saat itu, PSMS masih bermain satu level dengan Persib di kompetisi ISL. Kemenangan atas Persib itu sebagai upaya balas dendam setelah sebelumnya Senin 9 Januari 2012 mereka dikalahkan Persib dengan skor 3-1 di Stadion Si Jalak Harupat, Kabupaten Bandung.

Inilah lima pertemuan terakhir lainnya Persib dan PSMS. Persib-PSMS (2-0) pada 13 Mei 2009 di Liga Super Indonesia, PSMS-Persib (1-1) pada Liga Super Indonesia 13 September 2008, PSMS-Persib (1-2) Divisi Uta­ma pada 26 Agustus 2007, Persib-PSMS (0-0) pada 7 April 2007 Divisi Utama, dan Persib-PSMS (0-2) Divisi Utama pada 16 April 2006.

Laga uji coba pramusim antara PSMS melawan Persib ini, khususnya bagi Pelatih Djadjang Nurdjaman jadi pertandingan yang cukup dinantikan. Semua itu karena PSMS bagaimanapun punya sejarah tersendiri buat Persib, terutama di era Perserikatan. Di era 1980-an, tim berjulukan Ayam Kinantan inilah yang membuat Maung Bandung ‘geram’ dan harus menanti lebih panjang untuk meraih gelar juara Perserikatan.

Dua kali PSMS mengandaskan Persib lewat proses yang sama yakni adu penalti. Kalah duel melalui adu penalti memang cukup dibenci dan terasa lebih pahit bagi tim yang menelan kekalahan, sebaliknya menjadi terasa lebih heroik buat tim pemenang. “Memori pertandingan ala Perserikatan, kedua tim musuh bebuyutan,” ungkap Djanur.

Meski punya sejarah sebagai tim yang kerap menyulitkan Persib. Tapi seolah merindukan memori masa lalu, terutama di era Perserikatan pada 1980-an, Djanur berharap Ayam Kinantan kembali ‘berkokok’ dengan menembus kasta teratas Liga Indonesia. Sebab, PSMS memiliki sejarah panjang di sepak bola Indonesia.

Tak hanya Ayam Kinantan, pelatih berusia 58 tahun itu pun berharap kelak Persebaya Surabaya bisa bertarung kembali di kasta tertinggi. Menurut Djanur kehadiran tim-tim tradisional seperti PSMS dan Persebaya yang kini berlaga di Liga 2 akan terasa membuat Liga 1 lebih menarik.

“Sebagai klub legendaris PSMS bangun lagi, meramaikan lagi liga. Kemudian ada Persebaya. Ada PSM, Persebaya, Persija, PSMS dan Persib pasti akan menarik. Tidak hanya di lapangan di luar pun banyak bumbu,” tutupnya. Zacky

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

[+] kaskus emoticons nartzco