Limbah B3 di RSUD Pagelaran Menumpuk, PT. Medives Cicing Wae

oleh

PAGELARAN | Harian Waktu – Sampah Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pagelaran, di soal. Pasalnya, selain menumpuk di lingkungan RSUD, juga merugikan masyarakat sekitar dan pasien.

Juru bicara Komite Peduli Lingkungan Hidup Indonesia (KPLHI) Sodik mengaku, penumpukan sampah Limbah B3 di RSUD Pagelaran sangat merugikan masyarakat sekitar dan penghuni RSUD itu sendiri, baik itu pasien maupun seluruh karyawan. Menurutnya, limbah B3 sebuah energi atau komponen lain yang karena sifat, konsentrasi serta jumlahnya baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat mencemarkan sekaligus merusak lingkungan hidup.

“Tercemarnya lingkungan karena limbah B3 mengancam kelangsungan hidup manusia dan mahkluk hidup lain,” ujarnya.

Berdasarkan hasil investigasi dan kajian tim KPLHI DPD Jabar, kata dia, penumpukan limbah B3 tersebut diduga telah menyalahi aturan dalam pengelolaannya. Pasalnya penumpukan limbah B3 terutama dengan karakteristik infeksius, seperti bekas infus dan kantong darah di simpan di Tempat Pembuangan Sampah (TPS) yang tidak sesuai dengan standar, dan hal itu melebihi kapasitas.

Sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup (Permen LH) RI nomor 56  tahun 2015 Tentang tata cara dan persyaratan teknis pengelolaan limbah B3 dari fasilitas pelayanan kesehatan, kata dia, penyimpanan limbah B3 harus di lengkapi fasilitas yang sesuai dengan standar dan mempunyai aturan waktu maksimal penyimpanan. Apabila terjadi penumpukan dan tidak jelasnya waktu pengangkutan, tegas dia, maka akan membahayakan lingkungan hidup dan kesehatan baik penghuni rumah sakit maupun masyarakat sekitar.

“Dasar inilah yang kami jadikan pijakan terjadinya dugaan keteledoran pihak Rumah Sakit. Bahkan, Bukan hanya RSUD Pagelaran, tapi RSUD Kelas B Cianjur, dan RSUD Cimacam, dinilai telah melanggar aturan Permen LH tadi,” ungkapnya.

Menurut dia, pihak ketiga yang menangani limbah B3 tersebut, yakni PT. Medives, diduga tidak memiliki rekomendasi tertulis dari Kepala Instansi Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Barat. Karena, berdasarkan informasi yang diperoleh, pengangkutan limbah B3 tersebut dilakukan lintas kabupaten/kota, yaitu dari Kabupaten Cianjur ke Kabupaten Karawang.

“Kami menuntut agar pihak RSUD Pagelaran memutus kontak dengan PT. Medives, karena kami nilai untuk sebuah perusahaan yang kurang profesional tidak selayaknya bersikap jumawa dengan mengundur – ngundur pengangkutan limbah B3,” tegasnya.

Kepala Seksi (Kasi) Kesehatan Lingkungan (Kesling) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Cianjur, Sri Suhartini menjelaskan, penumpukan limbah B3 di RSUD Pagelaran dikarenakan belum tercapainya kesepakatan antara pihak RS dengan PT. Medives. “Sejak awal tahun mandegnya kesepakatan itu karena pihak PT Medives menaikan harga,” ujarnya.

Sementara itu, Anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Cianjur, M. Herry Wirawan menegaskan, pengangkutan limbah B3 di tiga RUSD di Cianjur harus rutin dan jangan terlalu lama penumpuk. Karena, kata dia, hal tersebut berdampak pada kenyamanan dan kesehatan pasien.

“Dan yang paling berbahaya, jika limbah tersebut dipungut oleh masyarakat tanpa pemantauan yang terkait. Bisa saja yang sudah dibuang, dipungut dan dijual lagi kepublik, dan itu bisa membuka celah penyakit bagi orang lain yang menggunakannya,” tegasnya.

 Apalagi, lanjut Herry, limbah yang berbahaya harus ditangani dengan profesional. Sehingga, setiap prosedur dan aturan yang berlaku harus dilaksanakan begitupun dengan pengolahan Limbah.

Pihaknya berharap, RSUD Pagelaran, harus menjadi tempat pengobatan alternatif terbaik di Cianjur Selatan, setelah Puskesmas setempat. Pembangunan di CIanjur Selatan, dilakukan agar lebih terjangkau oleh masyarakat dari pada harus dipaksakan ke RSUD Cianjur dengan jarak yang lumayan jauh.

“Saya berharap fokus manajemen RSUD Pagelaran harus pada aspek peningkatan pelayanan dan infrastukturnya. Pelayanan berarti kaitan SDM yang mencukupi dan mumpuni. Infrastukur berarti alat-alat, fasilitas, obat-obatan yang lengkap dan memadai,” katanya.

Karena, kata dia, hal tersebut akan bermuara pada upaya meningkatkan kepercayaan dan kepuasan masyarakat dalam berobat ke RSUD Pagelaran. Jika masih banyak masyarakat Cianjur Selatan dengan berbagai keluhan dan memaksakan diri ke RSUD Cianjur, berarti RSUD Pagelaran masih memiliki PR besar.

“Manajemen peningkatan fasilitas serta pembangunan yang belum efektif tentu juga bisa menjadi persoalan yang krusial pada upaya meningkatkan kepuasan masyarakat. Oleh sebab itu jika ada keluhan atau temuan apapun kepada kami selaku wakil rakyat, pasti kami akan meresponnya dan menyampaikan kepada pemegang kebijakan demi semangat perbaikan yang terus meningkat,” pungkas Anggota DPRD dari Dapil 4. Ruslan Ependi/Ricky

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

[+] kaskus emoticons nartzco