Status Siaga Bencana Sampai 30 Maret

oleh

BANDUNG | Harian Waktu – Pemprov Jabar telah menetapkan status siaga darurat bencana sampai 31 Mei. Namun Pemkab Bandung melalui Keputusan Bupati tentang Perpanjangan Penetapan Status Siaga Darurat Bencana tanah longsor, banjir dan puting beliung di wilayah Kabupaten Bandung berakhir pada tanggal 30 Maret 2017.

Hal tersebut diungkapkan Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung Tata Irawan saat memimpin Rapat Koordinasi Siaga Darurat di Ruang Rapat Assisten Pemerintahan Setda Kabupaten Bandung, kemarin.

Selain perwakilan Perangkat Daerah, Muspida dan Muspika hadir pula forecaster dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang sengaja diundang untuk memaparkan kondisi iklim di Jabar pada umumnya dan wilayah Bandung khususnya.

“Pihak BMKG sengaja kita undang, juga Perangkat Daerah terkait sehingga nantinya penetapan ini menjadi komprehensif dan menjadi Keputusan Bupati sehingga apabila situasi bencana meningkat maka kita bisa meningkatkan status dari siaga menjadi tanggap darurat,” jelasnya.

Menurutnya Sampai saat ini di Kecamatan Baleendah dan Dayeuhkolot masih terdapat pengungsi yang total sebanyak 145 KK, rinciannya 471 jiwa, 56 lansia, 48 balita, tiga orang ibu hamil, 10 ibu menyusui dan satu orang sakit. “Data tercatat pada Kamis pagi, karena BPBD melakukan assessment ke wilayah tersebut 2 kali dalam sehari yaitu pagi dan sore,” jelasnya.

Sementara itu, Jadi Hendarmin Forecaster dari BMKG, memaparkan bahwa bencana hidrometeorologi pada saat ini rawan terjadi. Dari hasil prediksi BMKG dan dari data klimatologis BMKG dari tahun 1981 sampai 2010 untuk wilayah Jabar pada bulan Maret ini masih dalam kondisi musim penghujan.

Untuk wilayah Bandung dan sekitarnya, menurutnya puncak musim hujan terjadi di bulan November dan Maret, jadi wajar jika pada bulan November dan Maret intensitas hujan lebih tinggi, namun dari press release BMKG sampai sejauh ini masih memonitor perkembangan dinamika atmosfir yang ada di wilayah Indonesia.

“Awal Maret kondisi suhu muka laut dengan atmosfir yang berada di Pasifik Tengah, lalu juga dengan adanya pengaruh indeks yang ada di wilayah barat Sumatera nampaknya masih dalam kondisi yang normal, sehingga potensi penambahan massa uap air khususnya di wilayah Bandung masih dalam kisaran normal,” paparnya.

Bulan Maret ini curah hujan di wilayah Jabar dalam kisaran tinggi dan sangat tinggi karena berada dalam kisaran di atas 300 mm dalam satu dasariannya (satuan waktu meteorologi, yang lamanya adalah sepuluh hari).

“Untuk bulan Juni, Juli, Agustus ada peluang el nino dalam kisaran lemah sehingga suhu muka laut di wilayah Jawa dan selatan Jawa akan mendingin dan berpotensi  bulan September akan lebih kering dari biasanya,” paparnya

Seperti yang terjadi pada Tahun 2015 terjadi el nino dalam skala lemah menengah hingga pengaruhnya di Indonesia kering, kemudian pada Tahun 2016 terjadi la nina dalam kisaran lemah sehingga pengaruhnya di Indonesia basah.

BMKG, lanjut Jadi, masih memonitor dan akan selalu meng up date hasil monitoring ini dan akan share ke instansi terkait untuk mengantisipasi kebencanaan yang diakibatkan oleh bencana hidro meteorologi.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bandung, Heru Kiatno, mengatakan bencana banjir yang intensitasnya timbul tenggelam puncaknya terjadi pada minggu kedua bulan Maret.

“Namun demikian kami mengamati pada tanggal 25 Februari 2017 sudah ada tanda-tanda akan terjadi bencana banjir dan memang itu sudah terjadi tepatnya tanggal 27 Februari 2017 dikarenakan curah hujan yang tinggi di wilayah Kabupaten Bandung sehingga mengakibatkan terjadinya banjir dan longsor di beberapa Kecamatan,” jelasnya. Rustandi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

[+] kaskus emoticons nartzco