Keluhkan Galian Pasir Kampung Jajaway Warga di Delapan Desa Minta Galian Pasir Ditutup

oleh

CIBEBER | Harian Waktu – Ratusan warga di 8 desa di Kecamatan Cibeber, melakukan aksi protes kegiatan galian pasir di Kampung Jajaway, di depan kantor Desa Sukamaju, kemarin. Mereka menilai, galian pasir tersebut selain diduga illegal, juga merusak insfrastruktur serta memakan korban.

Ke delapan desa tersebut, di antaranya Desa Sukamaju, Sukaraharja, Cibaregbeg, Cimanggu, Cipetir, Cihaur. Bahkan, menurut mereka, sejak dua tahun lalu aksi protes tersebut sudah dilakukan, namun selalu diintimidasi oleh pihak perusahaan galian.

Menurut salah seorang warga Desa Sukamaju, Hafiduddin (47), dalam sehari sekitar 200 truk besar dengan tonase sekitar 5 ton selalu hilir mudik selama 24 jam. Hal ini, kata dia, membuat fasilitas infrastruktur jalan cepat rusak berat dan berdebu.

Bahkan, kata dia, akibat dari lalu lalangnya truk galian tersebut sudah memakan korban, yakni anak lelaki usia 10 tahun yang terlindas truk. “Nah pihak perusahaan tidak ada tanggungjawabnya. Datang saja tidak,” ujarnya.

Pihak masyarakat, lanjut dia, rencananya akan melakukan aksi langsung ke lokasi penambangan. Namun, berhasil dicegah dan diyakinkan untuk berdemo di depan kantor Desa Sukamaju.”Tapi, jika aksi sekarang tidak membuahkan hasil seperti yang diharapkan masyarakat, maka akan ada demonstrasi yang lebih besar lagi,” ancamnya.

Aksi yang dilakukan ratusan warga tersebut langsung ditanggapi dengan melakukan audiensi pihak kepala desa dan sejumlah unsur Muspika Cibeber.

Dalam audiensi tersebut, Kepala Desa Sukamaju, Hendri membantah jika pihaknya sebagai pemilik galian tersebut. Bahkan, dia siap jika galian pasir harus tutup. “Mari kita tutup galian itu, tapi bagaimana dengan orang – orang menggantungkan hidupnya dari galian pasir ini,” ujarnya.

Sementara, pihak perusahaan yang diwakili oleh Syamsu menyatakan, kesiapannya jika galian pasir tersbeut harus di tutup. Namun, hal tersebut, jika ada regulasi dari pemerintahan yang melarang penambangan pasir secara keseluruhan di Kabupaten Cianjur. “Jadi tidak ditempat dimana kami mencari nafkah saja. Semua galian pasir harus ditutup,” katanya.

Audiensi yang dilakukan tersebut belum menemukan titik terang. Sehingga Camat Cibeber Supardan ikut mengajukan solusi dengan memberikan jalan tengah. Hal itu, kata dia, agar semua pihak, baik pendemo ataupun pengembangan, yaitu soal tonase yang dikurangi pada setiap armada truk pengangkut pasir.

“Karena sebagai wakil dari pemerintahan, camat juga merasa keberatan bila jalan yang dibangun diwilayahnya rusak berat, tapi ini cuma sebagai usul saja,” ujarnya. Ruslan Ependi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

[+] kaskus emoticons nartzco