Diminta Diulang Kembali, Pemilihan Ketua IDI Cacat Hukum

oleh

 

CIANJUR  | Harian WaktuPara dokter yang tergabung dalam Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Cianjur, meminta agar pemilihan Ketua IDI Kabupaten Cianjur dalam Musyawarah Cabang (Muscab) IDI minta diulang. Pasalnya, muscab yang berlangsung beberapa lalu tersebut dinilai cacat hukum, karena terkesan dipaksakan dan telah dikondisikan sebelumnya.

Sehingga, sedikitnya 120 dokter di Cianjur telah membubuhkan tanda tangan penolakan hasil sementara Muscab IDI Cianjur di salah satu rumah makan di Cianjur. Dalam surat protesnya itu para dokter di antaranya menuntut proses dan hasil Muscab IDI diulang dan cacat hukum. Alasannya, panitia Muscab IDI  tidak komprehensif dan tidak berdasarkan asas profesionalisme, Polling calon tidak memenuhi asas transparansi. Kemudian terdapat persyaratan administrasi calon ketua yang tidak disosialisasikan terlebih dahulu dan cenderung manipulatif. Sehingga melahirkan proses aklamasi yang tidak memenuhi syarat-syarat demokratis.

Salah seorang dokter mengaku, adanya aroma keganjilan saat pemilihan ketua baru. IDI sebagai organisasi profesi dokter harusnya mengesampingkan kepentingan-kepentingan politik.

 “Faktanya aroma politik lebih dominan dan mulai terkuak. Hal ini bisa dilihat dari awal pembentukan presidium dan tata tertib persyaratan calon ketua. Misalnya soal kepemilikan KTA dan mekanisme aklamasi yang tidak terlebih dahulu ditawarkan ke forum, untuk itu hal yang paling bijaksana menurut kami diadakan muscab ulang,” ujar salah seorang dokter yang tidak mau disebut namanya. Menurut dia, ada empat orang yang maju sebagai calon ketua. Dua orang ditengah perjalanan mengundurkan diri. Sedangkan dua orang lagi, yaitu dr Sanny Sanjaya  dan dr Trini Handayani maju sebagai calon.

Ditengah perjalanan pula, tutur dia, dr Sanny terganjal salah satu syarat sehingga dengan sendirinya gugur sebagai calon ketua. Sedangkan dr Trini secara otomatis menjadi calon tunggal dan aklamasi menjadi ketua terpilih.

Sementara itu, peserta Muscab IDI Cianjur lainnya, membenarkan kisruh dan persoalan serius dalam Muscab IDI Cianjur ini. “Tentu  kita perlu mengajukan protes dan keberatan,” katanya.

Sementara itu, Pengamat Kesehatan Cianjur, Nurjaman Prawira menilai, IDI merupakan wadah pemersatu guna  meningkatkan harkat dan martabat, kesejahteraan, kompetensi, jenjang karir, sebagai pelindung dan advokasi (bargaining) terhadap masa depan profesi. Sedangkan di era sekarang ini, peran IDI sangat menentukan masa depan dokter, dokter hanya bisa berlindung pada IDI.

Namun, jika organisasi IDI tercoreng, apalagi ada pengkondisian terhadap salah satu calon dan tidak demokratis, maka IDI tidak akan berjalan optimal. “Peran IDI di Cianjur sangat sentral untuk mempersatukan para dokter kearah lebih baik lagi,” tegas dia.

Ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum (YLBH) Cianjur, Erwin Rustiana, menyayangkan dengan organisasi sebesar IDI mengalami kebuntuan dalam proses suksesi kepemimpinannya, sehingga menyisakan perpecahan dan kekhawatiran diantara anggota. “Kita tentu sangat menyayangkan organisasi sebesar IDI mengalami kebuntuan dalam proses suksesi kepemimpinannya, sehingga menyisakan perpecahan dan kekhawatiran diantara anggota,” kata Erwin di Kantor YLBH Cianjur Jl. Siti Bodedar Dalem Kaum Cianjur, Senin (3/4).

Erwin mengaku mendapat laporan dari sejumlah dokter yang kecewa terhadap proses Muscab IDI Cianjur yang berlangsung tidak demokratis dan penuh rekayasa .

Pihaknya saat ini tengah membantu mengkaji apakah ada unsur-unsur pelanggaran hukum dalam muscab IDI tersebut.”Jika memang ada, bisa saja para dokter yang merasa dirugikan oleh keputusan sepihak itu melakukan gugatan dan melaporkan penyelenggara Muscab ke pihak terkait termasuk ke pihak kepolisian,” katanya.

Disebutkan Erwin, pada saat Muscab IDI, tiba-tiba para peserta diminta untuk menyetujui secara aklamasi calon tunggal ketua IDI Cabang Cianjur berinisial dr. T. “Ibu Trini ini adalah Ketua IDI Cabang Cianjur 2013 – 2016 dan istri dari Ketua IDI Cabang Cianjur periode sebelumya,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Muscab IDI Cianjur, Dr. Tito menyatakan dirinya tidak mengetahui persis kejadian kisruhnya acara Muscab IDI. Pihaknya mengaku, jabatan sebagai ketua panitia dirasakannya hanya sebagaimana layaknya Even Organiser. “Jadi hanya mempersiapkan kelancaran Muscab, perkara bagaimana teknis pelaksanaannya kan presidium yang punya tanggung jawab,” ujarnya.

Tito beralasan, pada saat pelaksanaan Muscab IDI tersebut dirinya justru sibuk karena banyak masalah teknis. Terutama kelistrikan yang sering padam di tempat pelaksanaannya. “Jadi saya tidak terlalu fokus,” kilahnya.

Ditanya soal posisi dirinya dalam kepengurusan IDI Cabang Cianjur hasil aklamasi kemarin, Tito menjelaskan bahwa dari hasil pemilihan belum dibentuk kepengurusan yang baru. “Kalau dalam kepengurusan sebelumnya hanya sebagai koordinator wilayah 6,” ucapnya. Deni Abdul Kholik/Ruslan Ependi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

[+] kaskus emoticons nartzco