Sidang Kasus Dugaan Suap Mantan Wali Kota Cimahi Atty Suharti dan Itoc Tochija

oleh

JPU Ungkap Dugaan Aliran Dana Kampanye

BANDUNG | Harian Waktu – Mantan Wali Kota Cimahi Atty Suharti dan suaminya Itoc Tochija menjadi saksi sidang kasus dugaan suap dengan tersangka dua pengusaha yang menyuap mereka. Dalam persidangan itu, terbongkar adanya aliran dana untuk kampanye Atty yang kembali maju dalam Pilwalkot Cimahi.

Persidangan dengan agenda keterangan saksi itu digelar di ruang sidang tipikor Pengadilan Negeri (PN) Bandung, Jalan Martadinata, Kota Bandung, Jawa Barat, kemarin. Itoc dan Atty duduk bersebelahan bersama tiga orang saksi lainnya. Dua terdakwa yakni Triswara Dhanu Brata dan Hendriza Soleh Gunadi juga hadir dalam persidangan.

Dalam persidangan yang diketuai oleh Sri Mumpuni itu, JPU dari KPK sempat memperlihatkan catatan di sebuah layar. Isinya, berupa catatan dana kampanye Atty dengan target dana yang harus terkumpul sebesar Rp20 miliar.

Dalam catatan yang dibacakan salah seorang JPU disebutkan sasaran pengumpulan dana tersebut berasal dari proyek dan bantuan infrastruktur sebesar Rp50 miliar dengan target pencapaian Rp3,5 miliar. Kemudian dari proyek provinsi Pak Polo Rp13 miliar, dari proyek Pasar Antri Atas yang berjumlah Rp135 miliar sebesar 4%, dan dari para kabag dan protokol sebesar 8%.

Namun Atty mengelak. Dia mengaku tidak tahu menahu terkait catatan dana kampanye tersebut. “Saya tidak tahu. Kalau catatan yang lain saya tahu, tetapi untuk catatan itu (dana kampanye) saya tidak tahu dan tidak merasa membuat. Saya juga kaget waktu penyidikan, KPK memperlihatkan itu,” kata Atty.

JPU pun kembali meyakinkan Atty terkait catatan tersebut, Atty pun tetap tidak mengakuinya. Selang beberapa menit, Itoc menyambar dengan mengakui jika tulisan yang ada di ponsel Atty dibuat olehnya. “Bu Atty enggak akan mampu menulis itu, tapi saya mampu,” kata Itoc.

Itoc mengaku sengaja menulis catatan di ponsel pribadi Atty lantaran saat itu ia sedang bertengkar dengan Atty. Sehingga ia mencatat di ponsel Atty agar langsung dibaca oleh Atty. “Saya menulis itu supaya meyakinkan bu Atty untuk kampanye, supaya tidak khawatir,” katanya.

Hendriza dan Triswara didakwa sebagai pihak pemberi suap kepada Atty dan suaminya Itoc. Keduanya diduga menjanjikan uang suap hingga Rp6 miliar kepada pasangan suami istri itu.

Mereka menjanjikan suap agar perusahaannya menjadi pelaksana pembangunan Pasar Atas Baru Cimahi tahap II tahun 2017 yang mempunyai nilai anggaran sebesar Rp57 miliar. Namun dugaan suap itu terungkap dalam operasi tangkap tangan yang dilakukan KPK pada 1 Desember 2017.

Atty dan Itoc tersendiri sebelumnya ditangkap oleh Komisi Pemberantasan Korupsi pada awal Desember 2016 lalu. Dalam perjalanannya KPK kemudian menetapkan empat tersangka dalam kasus dugaan suap proyek Pasar Atas Baru Cimahi.

Keempat tersangka itu adalah Wali Kota Cimahi nonaktif Atty Suharti; suami Atty, M. Itoc Tochija; serta pihak swasta yang memberi suap, Triswara Dhani Brata dan Hendriza Soleh Gunadi.  Saat itu Atty berstatus calon Wali Kota Cimahi inkumben pada pemilihan kepala daerah serentak 2017.

Atty menjabat Wali Kota Cimahi periode 2012-2017. Kepemimpinan Atty di Kota Cimahi melanjutkan jabatan suaminya, Itoc Tochija, yang telah dua periode menjadi orang nomor satu di Kota Cimahi. Atty ditangkap pada Kamis, 1 Desember 2016, sekitar pukul 20.00 WIB di kediamannya.

Dalam operasi itu, penyidik menyita buku tabungan yang berisi transaksi penarikan Rp 500 juta. Atty dan Itoc sebagai penerima suap dijerat Pasal 12-a dan atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) juncto Pasal 55 ayat 1 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).

Adapun Triswara dan Hendriza sebagai pemberi suap terancam oleh Pasal 5 ayat 1 dan atau Pasal 13 UU Tipikor juncto Pasal 55 ayat 1 KUHP. Zacky/Net

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

[+] kaskus emoticons nartzco