Kasus Suap Proyek di Kota Cimahi, Atty-Itoc Terancam 20 Tahun Penjara

oleh

BANDUNG | Harian Waktu – Mantan Wali Kota Cimahi Atty Suharti, dan suaminya Itoc Tochija terancam 20 tahun penjara. Keduanya terbukti telah menerima suap dari pengusaha untuk memuluskan tender proyek di Kota Cimahi.

Demikian terungkap dalam sidang kasus dugaan penyuapan pembangunan Pasar Atas tahap II yang digelar di Pengadilan Tipikor pada PN Kelas 1A Bandung, Jalan RE Martadinata, Kota Bandung, kemarin.

Dalam dakwaanya, JPU KPK Mungki Hadi Pratikto menyebutkan, terdakwa Atty dan Itoc selama Desember 2015 hingga Desember 2016. Terbukti telah menerima hadiah uang komitmen atau fee secara bertahap sebesar Rp2,4 miliar ditambah Rp500 juta. Keduanya mendapatkan uang tersebut dari Hendriza Soleh dan Triswara Dhanu Brata (berkas terpisah).

Selain itu mereka juga mendapatkan Rp1,5 miliar secara bertahap dari Samiran. “Total uang suap yang sudah diterima Rp3,9 miliar, dan yang belum diterima Rp500 juta,” katanya usai persidangan.

Padahal hadiah yang diberikan oleh Hendriza, Triswara dan Samiran patut diduga ada hubungannya dengan jabatan Atty yaitu Wali Kota Cimahi.

Seharusnya para terdakwa patut menduga kalau hadiah yang diberikan sebagai upaya agar para penyuap diberikan proyek pekerjaan. Tentunya proyek pekerjaan tersebut ada di SKPD Cimahi Ta 2016-2017.

Akibatnya, keduanya dijerat pasal 12 hurup a UU Tipikor jo pasal 55 ayat 1 ke 1 kuhp jo pasal 64 ayat 1 KUHPidana. Sebagaimana diatur dalam dakwaan kesatu. Juga pasal 11 UU Tipikor jo pasal 55 ayat 1 ke 1 kuhp jo Pasal 64 ayat 1 KUHPidana. “Ancamannya maksimal 20 tahun penjara,” kata Mungki.

Selama pembacaan dakwaan dua pasangan suami istri itu menyimak sambil menunduk. Atty mengenakan baju dan kerudung warna hitam sedangkan suaminya memakai baju batik. Sidang yang dipimpin Sri Mumpuni ditunda pekan depan dengan agenda kesaksian. Lantaran tim penasihat kedua terdakwa tidak mengajukan eksepsi.

Atty dan Itoc tersendiri sebelumnya ditangkap oleh Komisi Pemberantasan Korupsi pada awal Desember 2016 lalu. Dalam perjalanannya KPK kemudian menetapkan empat tersangka dalam kasus dugaan suap proyek Pasar Atas Baru Cimahi.

Keempat tersangka itu adalah Wali Kota Cimahi nonaktif Atty Suharti; suami Atty, M. Itoc Tochija; serta pihak swasta yang memberi suap, Triswara Dhani Brata dan Hendriza Soleh Gunadi.  Saat itu Atty berstatus calon Wali Kota Cimahi inkumben pada pemilihan kepala daerah serentak 2017.

Atty menjabat Wali Kota Cimahi periode 2012-2017. Kepemimpinan Atty di Kota Cimahi melanjutkan jabatan suaminya, Itoc Tochija, yang telah dua periode menjadi orang nomor satu di Kota Cimahi. Atty ditangkap pada Kamis, 1 Desember 2016, sekitar pukul 20.00 WIB di kediamannya.

Dalam operasi itu, penyidik menyita buku tabungan yang berisi transaksi penarikan Rp 500 juta. Atty dan Itoc sebagai penerima suap dijerat Pasal 12-a dan atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) juncto Pasal 55 ayat 1 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).

Adapun Triswara dan Hendriza sebagai pemberi suap terancam oleh Pasal 5 ayat 1 dan atau Pasal 13 UU Tipikor juncto Pasal 55 ayat 1 KUHP. Zacky/Net

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

[+] kaskus emoticons nartzco