Diduga Akibat Masalah Listrik, Bayi Baru Lahir Meninggal, Pihak RSUD Harus Bertanggungjawab

oleh

CIANJUR | Harian Waktu – Kasus meninggalnya bayi baru lahir putra pasangan Nazran (25) dan Ai (21) warga Kampung panyusuhan Desa Mekarjaya Kecamatan Sukaluyu, di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cianjur, yang diduga akibat permasalahan listrik mengundang komentar berbagai pihak.

Seorang Aktivis dan Advokad publik, Dedi Nasrudin, meminta agar pihak RSUD Cianjur menjelaskan permasalahan teknis kelistrikan di lingkungannya kepada masyarakat umum. Terlebih lagi pihak managemen jangan alergi terhadap keberadaan para wartawan yang benar-benar menginginkan informasi.

Dedi juga menambahkan adanya hak masyarakat sebagai konsumen dari RSUD mendapatkan pelayanan yang maksimal sebagaimana diatur dalam undang-undang perlindungan konsumen. Serta masyarakat pun berhak mengetahui duduk persoalan menyangkut sebuah peristiwa yang diatur pada undang-undang keterbukaan informasi publik.

“Kalau saja terbuka dan selalu bersedia dikonfirmasi, masyarakat bisa mengetahui duduk perkaranya dengan jelas,” ungkapnya.

Salah seorang yang aktif dalam dunia kesehatan bayi, menjelaskan bahwa dalam penanganan persoalan gangguan kesehatan baru lahir memang hampir semua kasus ujungnya harus dimasukan kedalam inkubator. “Awalnya tetap harus dari hasil diagnosa dari dokter yang menangani,” ucapnya.

Dalam prakteknya, tambah orang yang  minta dirahasiakan jati dirinya, ada tahapan – tahapan sendiri pada penanganan bayi baru lahir. Pertama setelah didiagnosa melalui pemeriksaan darah, nanti status gangguannya ditahap mana ? Misalnya hasilnya panas, sepsis, bilirubin ataupun afiksi ringan, sedang dan berat. “Yang paling darurat adalah afiksi berat. Ini yang harus di micu,” ucapnya.

Untuk Ruang Markisa RSUD Cianjur ini, lanjut dia, memang hampir 95% bayi baru lahir penanganannya di inkubator. Dan kalau memang daya listriknya bermasalah, Celaka. “Ini bukan kesalahan prosedur dokter praktek ataupun petugas medis lainnya. Pihak managemen RSUD bertanggung jawab atas segala fasilitas vitalnya, termasuk kelistrikan atau penyediaan jenset sebagai cadangan,” ungkapnya.

Sementara, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Dr. Irvan N Fauzi menjelaskan bahwa pihak Dinkes, melalui Puskesmas Sukaluyu ataupun bidan yang melakukan persalinan awal sudah melakukan tindakan yang benar dengan merujuk si bayi ke RSUD Cianjur.

Menurutnya, kalau dalam penanganannya  bayi tersebut berat badannya terlalu rendah, ataupun ada gangguan lainnya yang tidak bisa ditangani oleh Puskesmas, prosedurnya adalah dirujuk ke Rumah Sakit. “Dalam hal ini Puskemas Sukaluyu sudah sesuai SOP,” ujarnya.

Setelah bayi tersebut berada dalam penanganan pihak Rumah Sakit, lanjut Dr. Irvan, pihak Puskemas Sukaluyu tidak lagi mempunyai kewenangan dalam hal penanganannya. Kalaupun ada hambatan dalam hal teknis seperti sarana dan prasarana, itu urusan lain. “Kami tidak tahu dan tidak berwenang kearah itu,” katanya.

Hingga saat ini, pihak RSUD Cianjur belum memberikan komentar terkait masalah meninggalnya bayi baru lahir yang diduga akibat penanganan medis.

Diberitakan sebelumnya, Pasien di RSUD Cianjur mengeluhkan dengan kondisi lingkungan RS yang gelap.  Bahkan, salah seorang bayi yang baru lahir, anak dari pasangan suami istri (Pasutri) Nazran alias Dalah (25) dan Nyai (21) warga Kampung Panyusuhan, Desa Mekarjaya, Kecamatan Cilaku, meninggal dunia, setelah menjalani perawatan di RSUD Cianjur, yang diduga tidak menggunakan inkobator.

Padahal, bayi yang lahir beberapa jam sebelum di rujuk ke RSUD Cianjur, kondisinya sakit dan harus menjalani perawatan dengan menggunakan inkobator. Namun, saat itu, kondisi di lingkugan RSUD Cianjur, dalam keadaan gelap tanpa ada penerangan aliran listrik.Ruslan Ependi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

[+] kaskus emoticons nartzco