Petani Ingin Ada Harga Patokan Pemerintah

oleh

KARANGTENGAH | Harian Waktu – Petani menginginkan adanya patokan harga yang diprakarsai oleh pemerintah untuk menjaga tarap hidup layaknya. Pasalnya dalam kurun waktu dua dekade para petani selalu kesulitan mengetahui kisaran harga dari tanaman yang diolahnya. Petani selama ini hanya tahu soal berapa harga hasil jerih payahnya dari para tengkulak saja dan ini sangat merepotkan bagi kalangan petani.

Salah seorang petani dari wilayah Kecamatan Cugenang, Saepul Anwar menegaskan keinginan adanya patokan harga oleh para petani itu karena selama ini merasa nasibnya tidak lebih dari pemasang lotre.

Menurutnya, petani tahunya menanam bibit dan memeliharanya sampai layak panen. Tapi menjelang panen bahkan sampai saat panen sendiri, petani tidak mempunyai pengetahuan berapa hasil jerih payahnya. Hanya saat berhadapan dengan para tengkulak sajalah harga itu ditentukan.

Patokan harga sangat dibutuhkan oleh petani agar bisa menaksir antara pengeluaran dan hasil pendapatan. Berapa biaya yang sudah dikeluarkan, berapa waktu yang terpakai dan berapa hasil bersih yang bisa pakai menyambung hidupnya. “Inilah pentingnya patokan harga tersebut,” ucapnya.

Saepul Anwar juga menerangkan bahwa sistem tanam dan penjualan para petani masih mengikuti bulan-bulan khusus. Artinya, petani mempunyai kalender tanam, panen dan jual tersendiri mengikuti momen dimana masyarakat membutuhkan lebih banyak hasil pertanian. Hitungan bulannya sendiri bukan menurut hitungan kabisat, melainkan hitungan bulan Islam atau Sunda. “Bulan Rajab, Puasa dan Rayagung adalah bulannya panen para petani,” tambahnya.

Masih menurut Saepul Anwar, petani tidak bisa memprediksi mengenai harga jual hasil keringatnya. Mending kalau harganya bagus alias tinggi, kalau pas panen harganya turun, petani rugi. Bahkan bisa-bisa seperti petani ubi jalar bulan kemarin yang bermodal 10 juta saat tanam harga ubi 5000 rupiah perkilo, tapi hanya kembali 1 juta rupiah karena saat panen harga ubi turun dikisaran 300 rupiah perkilo.

Dinas Pertanian Perkebunan Tanaman Pangan dan Holtikultura (DPPTPH) Kabupaten Cianjur, melalui Kepala Bidang Holtikultura, U. Supriatna Hasan memaparkan bahwa sekarang ini sudah berlaku Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No. 63 tahun 2016.

Menurut Bah Hasan, begitu biasa disapa, dalam Permendag tersebut dibahas mengenai patokan harga berbagai komoditas pertanian. Antara lain untuk komoditas beras, jagung, kedelai, gula, bawang merah, cabai dan daging sapi.

Lanjut Bah Hasan, beras sebagai makanan pokok dipatok pada harga paling bawah diangka  Rp. 7.300 perkilo gram dan patokan harga paling tinggi diangka Rp. 9.500 perkilogram. Untuk harga cabai sendiri, dalam Permendag tersebut dipatok pada harga paling bawah untuk cabai keriting dan cabai merah Rp. 15. 000 sedangkan untuk cabai rawit Rp. 17.000 rupiah. Sementara harga paling tinggi untuk cabai keriting dan cabai merah dikisaran Rp. 28. 500 perkilogram dan untuk cabai rawit dikisaran harga Rp. 29.000 perkilogram. Ruslan Ependi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

[+] kaskus emoticons nartzco