Sampah Dibiarkan Menumpuk, Warga Jadi Enggan ke Pasar Sayati

oleh

 

BANDUNG | Harian Waktu – Kabupaten Bandung masih darurat penanganan sampah, selain sampah rumah tangga juga sampah yang berada di areal pasar masih menjadi persoalan. Sebab, sampai saat ini masih banyak tumpukan sampah yang belum terangkut bahkan semakin menggunung karena dibiarkan begitu saja.Ironisnya, retribusi kebersihan tetap dilakukan petugas pemerintah kepada para pedagang, tapi tumpukan sampah terus bertambah dan dibiarkan. Hal itu mengakibatkan omzet pedagang pasar sayati menurun, bahkan ada sebagian toko tutup karena lapaknya terhalang tumpukan sampah.

Tempat pembuangan sampah (TPS) Pasar Sayati, Kabupaten Bandung. Sudah tidak muat menampung yang mengakibatkan meluap ke jalan bahkan menutupi sebagian ruko milik pedagang.

Sampah nampak menggunung bahkan mengular ke jalan mencapai 10 meter. Bau tak sedap nan menyengat cukup terasa. Selain itu, bak sampah yang nampak terisi sampah sudah empat hari tidak diangkut oleh petugas kebersihan.

Jajang S,55 (nama samaran) salah seorang pekerja di Pasar Sayati mengatakan seluruh pedagang mengeluhkan kondisi sampah yang jarang diangkut. Padahal tiap hari para pedagang dimintai bayaran untuk retribusi penanganan sampah.

Selain itu, bau menyengat yang keluar tercium hingga ke ruko-ruko di tengah pasar. “Bak sampah sudah empat hari belum ada yang angkat. Pedagang disini udah kesal,” jelasnya kepada Bandung Ekspres di lokasi Pasar Sayati, Senin (24/4).

Menurutnya, biasanya untuk mengeruk sampah yang sudah menggunung harus memakai alat berat, beko. Sebab, jika hanya mengandalkan bak sampah tidak akan tuntas bersih.sampah-sampah yang menggunung di jalan pasar tersebut, sudah menumpuk sejak satu bulan lalu.

Bahkan, ada tumpukan sampah yang tidak terangkut dan menumpuk sejak satu tahun lamanya. Dirinya mengaku jumlah petugas kebersihan yang biasa membersihkan sampah di pasar tersebut pun minim hanya dua orang. Sementara sampah yang berasal dari dalam pasar dan luar pasar semakin bertambah.

“Banyak sampah yang berasal dari komplek dibuang juga di sini. Seharusnya ada yang jaga supaya mereka tidak buang kesini. Biasanya malam hari banyak yang buang kesini,” tuturnya.

Salah seorang pedagang, Entis Sutisna mengaku biasanya truk sampah datang tiga hari sekali untuk mengangkut sampah. Tapi sekian bulan terakhir sudah tidak rutin. Namun, tidak membuat sampah di pasar Sayati habis dan menjadi bersih sebab truk sampah tersebut hanya mengangkut sebagian sampah saja.

“Sekarang sudah dua minggu lebih, bak sampah gak diangkut-angkut, hal ini membuat tumpukan sampah mengalur ke jalan dan menutupi sebagian  ruko yang ada dipinggir jalan utama Pasar Sayati,” ungkapnya.

Entis menambahkan akibat sampah yang menggunung dan mengular sampai menutupi sebagian jalan, juga mengjalangi ruko milik beberapa pedagang. Hal tersebut, membuat masyarakat yang hendak berbelanja menjadi enggan ke pasar dan membuat omzet pedagang semakin menurun.

“Tumpukan sampah dibiarkan tidak diangkut sekitar dua minggu. Hal ini, mengakibatkan tumpukan sampah terus meluap sehingga menutupi sebagian badan jalan dan menutupi sebagian ruko,” pungkasnya. Rustandi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

[+] kaskus emoticons nartzco