Kusir Sado Hidup Segan Mati Tak Mau

oleh

[highlight style=”red”]CIANJUR | Harian Waktu[/highlight] – Semakin banyak alat transfortasi umum dan pribadi di Kab. CiaNjur, ternyata  menjadi dilema bagi para kusir dan pemilik delman atau yang lebih akrab di  panggil sado. Semakin jarang  orang yang menggunakan jasa alat transfortasi sado, semakin sulit biaya hidup si kusir sado dan biaya untuk merawat kuda.

Hal itu dialami Pepen Ependi (33) salah seorang kusir sado asal Kamp. Nagrak,  yang biasa mangkal di Jln. Pangeran Hidayatullah, mengakui penghasilan dari sado makin hari semakin berkurang. Akibat banyaknya masyarakat yang saat ini sudah memiliki kendaraan bermotor.

Pepen yang sudah bergelut menjadi seorang kusir delman selama 21 tahun ini, mengungkapkan, pendapatannya selalu menurun setiap tahun sejak 10 tahun terakhir.

”Kalau dulu dalam sehari saya bisa mendapatkan penghasilan mencapai Rp.100.000, tapi sekarang rata–rata nya cuma Rp. 40.000 sehari,” ucapnya saat diajak berbincang Harian Waktu, belum lama ini.

Menurut Pepen, pendapatan Rp. 40.000 tersebut tidak bersih karena masih di kurangi biaya untuk pakan kuda dan biaya lainnya, seperti sepatu kuda yang harus di ganti dua minggu sekali.

“Paling yang di bawa ke rumah cuma Rp. 15.000, saya sih masih beruntung karena sado ini milik saya pribadi, jadi tidak ada setoran tapi kalau teman–teman kebanyakan harus setor ke pemilik sado,” ucapnya.

Menurutnya untuk pendapatan sehari-hari, para kusir delman hanya mengandalkan langganan yang minta diantar pulang ke perumahan  atau anak–anak yang sekedar ingin naik kuda keliling kota.

 “Itupun para kusir delman harus ngetem sampai 2 jam dan kita tidak bisa beroperasi lebih dari 5 jam, karena ketahanan stamina kuda maksimal cuma 5 jam,” tambahnya.

Diakui Pepen, memang jaman sekarang sudah serba sulit bagi kusir maupun pemilik delman. Kendati demikian, dirinya tetap menjalankan usahanya tersebut demi menafkahi keluarganya. Karena tidak ada lagi usaha lain yang bisa dikerjakan.

”Harus bagaimana lagi, saya jalani saja, karena sayah tidak ada keahlian lain. Kalau tidak usaha istri dan dua anak saya mau makan apa,” tutup Pepen yang mengaku sudah menjadi kusir delman sejak usia 12 tahun ini. Asep Hendrayana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

[+] kaskus emoticons nartzco