Kakek Marta Berjualan Kitab Demi 6 Putrinya

oleh

 

[highlight style=”red”]CIANJUR | Harian Waktu[/highlight] TUBUH ringkih Marta (76) masih terduduk di kursi ruang tunggu belakang Dinas Pertanian Perkebunan Tanaman Pangan dan Holtikultura Kabupaten Cianjur. Disampingnya dari kain blue jean besar tampak kempis kurang isi, sedangkan dihadapannya beserakan kitab dan buku–buku agama Islam.

Marta warga Kampung Warung Danas, RT. 001 RW. 007, Desa Bojong itu adalah penjual kitab ilmu ulama klasik atau kitab karangan Ulama Shalafus Shaleh beserta buku–buku panduan ibadah lainnya. Dia menjualnya dengan cara berkeliling dari satu tempat ke tempat yang lain.

Saat ditanyakan sudah laku berapa buku yang dijajakannya itu, sontak Marta menjawab belum satupun yang terjual. ”Belum saja mungkin Pak,” ujarnya dengan senyum ramahnya.

Marta ternyata sudah melakoni hidupnya sebagai penjual kitab dan buku agama itu sejak tahun 1970. Dia beralasan, dengan menjual kitab dan buku agama selain mendapatkan hasil dari penjualan dia berharap para pembelinya mau membaca dan mengamalkan isinya. “Mudah–mudahan saja ada amal ibadah dari si pembeli yang mengamalkan isi kitab atau buku yang sampai juga pahala pada dirinya,” ucapnya.

Tumpukan kitab dan buku–buku itu jugalah yang menurutnya turut membantu perjuangannya membesarkan ke 6 anak perempuannya. Hingga saat ini empat orang anaknya sudah bekerja diluar daerah seperti Jakarta, Bekasi, Bandung dan Palembang. Tinggal anak ke lima yang bekerja di Cianjur dan si bungsu yang masih duduk dikelas 3 SMK.

“Anak saya itu sebenarnya 7 orang, semuanya perempuan. Tapi meninggal satu, saat masih bayi,” katanya.

Diantara keriput dan tubuh ringkih kecilnya, Marta berjanji akan terus berjualan kitab dan buku agama sampai dirinya tidak kuat lagi. Baginya, memperjuangkan anak-anaknya adalah yang paling utama, tidak perduli akan usia dirinya yang sudah begitu senja. Walaupun dirinya pernah juga mencoba beralih profesi sebagai kuli bangunan dan pemulung, tapi akhirnya kitab dan buku agamalah sebagai pelarian terakhir dari mencairian nafkahnya.

“Dulu saat ibunya anak–anak masih ada, beban terasa tidak begitu berat, walaupun cuma diam di rumah Almarhumahlah yang setia mengurus para buah hatinya,” tutur Marta menceritakan istrinya yang meninggal pada tahun 2012 lalu. Ruslan Ependi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

[+] kaskus emoticons nartzco