Cerpen Kartika Catur Pelita

oleh

NYAWA

Oleh:  Kartika Catur Pelita

     Jantung seolah dipompa,  bergemuruh. Kau  menyuruh suamimu menghentikan mobil di depan bis yang sedang parkir di halte. Buru-buru kau memasuki pintu belakang bis, menelusuri bangku demi bangku, meneliti  sosok penumpang satu demi satu, dan menemukan apa yang kau cari!

     Ia berambut panjang  kepang dua,  berpita merah.  Baju seragam merah putih yang dikenakan. Tak salah lagi!  Ditempa kerinduan yang teramat sangat,  kau memanggil nama dan menyentuh bahunya. Ia menoleh. Terkejut.

     “Maaf, Ibu siapa?”

    Ternyata bukan! Tanpa berkata apa-apa, seraya menguras air mata kau gegas turun dari bus. Dan suamimu telah siap menampung badai yang memompa kepiluan dan menuangkan air hangat di pipi

     “Bunda menemukannya?” suara  itu getir, parau. Kau tak berani menatap. Nelangsa.

     “Kita harus tetap mencarinya, Pa. Bunda yakin  akan bisa menemukan jantung hati Bunda yang hilang!”

                                                                         ***

    Namanya Sri Lestari. Ia satu-satunya jantung hati kami. Ia lahir setelah sebelas tahun kami menikah dan  belum dikarunia momongan. Puluhan dokter, tabib, paranormal, ‘orang pintar’ sudah disambangi. Resep, petuah, anjuran sudah dilakukan. Hasilnya nihil.

    Saat umroh, kami berdoa pada Allah di depan Ka’bah,  memohon dikarunia  keturunan. Tatkala kembali ke tanah air, Allah ternyata mengabulkan doa kami,  Saifah, istriku hamil dan sembilan bulan kemudian melahirkan putri jelita,  yang  kami beri nama : Sri Lestari. Ia cantik jelita  dan tumbuh sehat. Ia  menggemaskan,  pipinya  bulat, matanya bundar, dan hidung  bangir. Ia cerdas, selalu dapat ranking pertama. Sejak kelas satu hingga kelas enam SD. Ia  punya banyak teman dan suka menolong.

     Ia harta kami yang paling berharga. Satu-satunya. Kami menjaganya penuh luapan  perhatian dan kasih  sayang. Ke mana Sri Lestari pergi, kami menyertai.  Hingga akhir  Juni, usai kelulusan SD, ia memohon izin untuk merayakan pesta perpisahan  dengan teman-temannya.

     “Kami hendak rayakan  kelulusan SD, Bunda. Sebagian teman hendak sekolah ke kota lain. Setelah ini tak bisa bertemu lagi. Kami ingin membuat kenangan. Hendak merayakan perpisahan di Pantai Bandengan.”

     “Pantai…?”

     “Kami hanya makan-makan, Bunda. Bu guru juga ikut.”

     “Apakah kamu  sudah  minta izin ayahmu, Sayang?”

     “Sudah, Bunda. Tapi Ayah tak  beri. Menurut ayah ini musim gelombang tinggi. Bahaya pergi ke pantai.”

     “Ayahmu benar, Sayang.”

     “Kita ke pantai bukan untuk berenang, Bunda. Kita hanya makan-makan.”  Suara dan mimik  itu terlihat mengiba. “Apakah Bunda mengizinkan? Ini terakhir Bunda. Bolehkah?”

     “Sayang, Bunda  telepon Ayah dulu, ya. Bunda mengizinkan, tapi Ayahmu harus tahu.”

     “Baiklah, Bunda.”

     Ia menelepon suaminya, tapi  tak terhubung. Sibuk. Entah. Ia memilih menelepon  guru kelas. Ia berpesan untuk menjaganya.

     “Baiklah, kamu boleh ikut, Sayang. Tadi Bunda  sudah menelepon Bu Wita. Ia akan menjaga kalian. Sayang, Bunda sebenarnya ingin ikut, tapi tak bisa bawa motor. Gimana?”

     “Bunda,  pantainya  dekat,  kan. Kita   nanti rencana naik sepeda bareng-bareng. Bunda  bisa  ikutan.”

     Ia membatalkan karena tiba-tiba sakit perut. “Pergilah, Sayangku. Hati-hati, “

     “Terimakasih.  Bunda Selama ini  sayang pada Sri. Sri  pergi. Salam untuk Ayah. Bunda hati-hati, ya. Bunda jaga kesehatan. “

     Ia melambaikan  tangan pada jantung hatinya  yang mengayuh sepeda. Berangkat bareng  seorang  kawannya. Mereka bidadari-bidadari  kecil yang polos.

                                                                        ***

     “Saya sudah di rumah, Tante. Loh kok Tari belum pulang?” suara belia di seberang terdengar heran.

     “Justru Tante menanyakan padamu, Cetta? Di mana Tari?”  ia sangat khawatir. Tak biasanya Sri Lestari pulang telat. Biasanya ia berkabar. Bukankah putri jelitanya membawa  ponsel?

     “Tadi saat pulang dari pantai kami naik sepeda sama-sama, Tante. Saat memasuki gerbang perumahan sepeda Tari bocor. Ia menambalkan sepeda. Saya duluan pulang,  Tante karena saya…saya sakit perut, datang bulan”.

     Ia gegas  mendatangi bengkel dekat gerbang perumahan. Jelang mahgrib bengkel sudah tutup. Ia gamang menelepon permata hati. Tak ada balasan. Telepon mati. Ia tercekat menelepon suaminya. Tapi sibuk melulu. Apa yang harus dilakukannya? Ia memilih menelepon guru anaknya.

     “Tadi Lestari sudah pulang, Bu. Karena  cuaca buruk saya meutuskan pulang lebih awal, ” jelas Bu Wita, dari seberang. Santun.

     “Tapi Tari  belum pulang?”

     “Mungkin  ia  main ke rumah  temannya, Bu.”

     “Tari  tak pernah bepergian tanpa pamit.”

     “Baiklah. Ibu  yang tenang. Saya akan membantu menghubungi teman-teman Tari. Semoga Tari cepat pulang,” janji Bu Wita, masih dengan suara lembut dan santun.

     Ia panik kembali menelepon suaminya. “Papa harus pulang, anak kita hilang!”

     Suaminya menenangkan, dan gegas  pulang. Mereka menemukan rumah si pemilik bengkel, pemuda 20-an tahun, gondrong dan  ceking. “Tadi ada  anak perempuan yang ciri-cirinya seperti ibu tuturkan menambal ban. Tapi setelah selesai ia pergi.”

     “Ke arah mana?”

    Si pemilik bengkel menunjukkan arah jalan  ke luar dari gerbang  perumahan. Ia semakin panik.

                                                                         ***

    Bulir-bulir hujan jauh menetes ke bumi, pelan seperti berabad-abad. Ia hendak melapor  pada polisi. namun harus menunggu 24 jam. Ia  hillir mudik pada sekeliling rumah. Sungguh ia tak bisa tidur. Namun kelelahan membekapnya, sejenak lena  di atas  sofa panjang kayu jati Jepara.

     Saat itu sudah malam, hujan menderas, ia terjengat saat pintu  rumah diketuk,  sempoyongan membuka, dan melihat si jantung hati berbasah, bibir membiru, kedinginan, gemetaran.  Ia buru-buru menerobos hujan, ini tubuh  Ibu untuk  pelindung hujan, penghangat  mantel kasih sayang, bersembunyilah di sini, Sayang. Ia mendekap, memeluk jantung hati, namun yang dirasakan hanya  angin dan basah hujan. Ia terbangun, suaminya menyentuh  kuduk, menegaskan.

    “Ia datang, Sri Lestari barusan datang, Pa.” Ia meracau, betapa ia sudah bersua permata hati di antara derai hujan. Betapa ia merasa melihat, menyentuh, membelainya. Namun…

    “Tak ada siapa-siapa. Bunda mimpi?”

    “Ia kedinginan. Aku melihatnya. Sungguh, Pa.”

    “Bunda nglindur.”

    “Tapi… di mana Tari sekarang? Ayo, kita ke pekarangan,  Pa. Anak kita kedinginan, kehujanan. Kita harus menolong, melindunginya.”

    Mereka menguakkan pintu dan jendela. Hanya pekat hitam dan hujan deras menyelimuti malam. Betapa tak ada kesedihan yang lebih rekat selain kehilangan anak.

                                                                         ***

     Setelah tiga hari lapor polisi, siang terik merekah,  polisi mengajak ke tengah pematang sawah. “….kami menemukan jenazah tak beridentitas. Mungkinkah…”

     Bergetar mengenalinya. Kau  terbata memandangi boneka  mengerikan berbaju  lusuh, meringkuk   di dalam kardus kumal. Aku seperti pernah melihat  baju pink itu, pita itu, gelang manik itu, tapi di  mana?

     “Bukan, Pak. Itu bukan putri kami.  Sri Lestari cantik,  tinggi langsing. Tak sebesar ini…”

     “…sudah beberapa hari. Jenazah mengalami pembengkakan….”

     Pasca tes DNA, polisi menyatakan jika boneka mengerikan di tengah sawah adalah putri kami yang hilang. Benarkah, -ia- Sri Lestari si jantung hati? Ia  manekin yang sangat memilukan. Rambut kotor. Baju berlumpur. Sungguh  kasihan, sungguh menggiriskan! Menakutkan!

     “Kami sudah menemukan pelaku. Dia mengaku melakukan aksinya…karena tergiur  tubuh korban dan sepedanya. Ini kasus perampokan,  pelecehan seksual,  sekaligus pembunuhan!”

     Biadab! Pemudi kurus,  20-an tahun, guru yang tak bisa digugu-ditiru.  Tak merasa bersalah. Bahkan beralibi, menutupi borok  bejat yang sudah ditorehkan.

     “Hukum dia seberat-beratnya. Cincang, gorok lehernya, setrum listrik, gantung dia. Tembak mati!  Ia pembunuh, pembunuh. Hukum mati…!”

     “Ibu tenanglah. Kami akan mengadilinya sesuai hukum…”

     “Hukum yang mana? Kau tahu, ia sudah  merampas matahariku, merampok bulanku, menculik bintangku, merenggut permataku. Ia sudah membunuh jiwaku,   menghilangkan jantung hatiku, hingga aku harus terus mencari, ke mana, di  mana lagi  aku menemukan  jantung hati?”

                                                                            ***

Kota Ukir, 11 Oktober 2016-05 Maret 2017

[infobox style=”alert-custom red”]Kartika Catur Pelita, lahir 11 Januari 1970. Cerpen, esai, dan puisi dimuat di Suara Merdeka, Suara Pembaruan, Kartini, Koran Merapi, Kedaulatan Rakyat, Minggu Pagi, Solo Pos,  Sabili, Annida, Analisa, Lampung Pos, Soeara Moeria, Bangka Pos, Metro Riau, Republika, Media Indonesia, Genie, Inilah Koran  Jabar, Koran Rakyat Sultra, dan Nova. Buku fiksi “Perjaka”, “Balada Orang-orang Tercinta.” Bermukim di Jepara, bergiat di komunitas Akademi Menulis Jepara (AMJ).[/infobox]

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

[+] kaskus emoticons nartzco