Sastra, Budaya dan Intelektualitas Pengarang

0 706
Link Banner

Oleh: Fachru Rozi

Sastra merupakan kegiatan kreatif yang mampu melahirkan sebuah karya seni. Hakikat karya sastra dapat ditinjau dalam kerangka komunikasi karya sastra secara menyuluruh, yaitu pengarang-karya sastra-budaya-pembaca. Lagi pula, pada dasarnya karya sastra adalah hasil dari pekerjaan seni yang memerlukan sebuah proses kreatif yang terbagi atas perenungan, pengendapan ide, pematangan, dan langkah-langkah tertentu yang diterapkan oleh pengarang terhadap karya sastranya. Maka proses kreatif yang diterapkan  oleh Ahmad Tohari akan berbeda dengan yang dilakukan oleh Ramadhan K.H, Ajib Rosidi, A.A Navis, Putu Wijaya, Chairun Harun, Hasan Al-Banna, Sartika Sari atau Yulhasni. Karya sastra memerlukan bakat, intelektualitas dan wawasan kesusasteraan.

Terlepas dari bakat dan wawasan kesusasteraan tersebut, intelektualitas adalah sebuah pemikiran yang terbungkus dalam bentuk khusus. Jadi dapat dikatakan bahwa karya sastra diciptakan untuk mengungkapkan pemikiran-pemikiran hebat. Hal ini tidak terlepas dari anggapan bahwa karya sastra adalah dokumen sejarah pemikiran dan filsafat, karena sejarah sastra sejajar dengan sekaligus mencerminkan sejarah pemikiran. Secara langsung atau melalui alusi-alusi dalam karyanya, seorang pengarang tentu menganut aliran filsafat tertentu, mempunyai hubungan dengan paham-paham yang domain pada zamannya, atau paling tidak mengetahui garis besar ajaran paham-paham tersebut yang tertumpah dalam setiap karya sastranya.

Namun, bila ditinjau lebih jauh, pengaruh paling besar yang diterima oleh sebuah karya sastra adalah budaya yang berkembang dalam kehidupan masyarakat. Hal ini menjurus pada intelektualitas pengarang yang sudah semestinya sesuai dengan pemikiran-pemikiran dalam kehidupan masyrakat. Sebab bagaimanapun masyarakat memiliki peranan penting sebagai penikmat sekaligus penilai dari sebuah karya sastra. Selain itu, Sapardi (1979: 1) memaparkan bahwa sastra itu adalah lembaga sosial yang menggunakan bahasa sebagai medium. Bahasa itu sendiri merupakan ciptaan sosial. Sastra menampilkan gambaran kehidupan, dan kehidupan itu sendiri adalah suatu kenyataan social.

Respon estetik yang diberikan oleh budaya melalui perantara masyarakat terhadap sebuah karya sastra adalah satu-satunya alasan pengarang agar karya sastranya dapat diterima dengan baik. Maka berdasar hal tersebut sudah dapat dipastikan bahwa intelektualitas pengarang mengenai sastra mesti berbanding dengan budaya yang sedang berkembang dalam kehidupan masyarakat tertentu.

Untuk meyakinkan hal tersebut kita bisa bertolak dari karya-karya W.S Rendra yang memang hampir keseluruhan puisi-puisinya menggambarkan seperti apa kondisi dan situasi budaya yang berlaku dalam masyarakat ketika itu, termasuk seperti puisi “Diponegoro” karya Chairil Anwar, dan berikut juga novel “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk” karya Hamka yang menggambarkan begitu apiknya budaya masyarakat Padang.

Semua karya sastra tersebut dinilai memenuhi dan merangkum konsep pemikiran masyarakat yang berlaku saat itu. Sehingga karya sastra tersebut mampu melesap begitu jauh ke dalam kehidupan masyarakat yang memiliki fungsi estetikator bagi sebuah karya sastra. Maka dari itu keintelektualitasan pengarang tidak akan bisa terlepas dari budaya yang juga berperan penting sebagai patokan utama untuk menyatakan bahwa karya sastra tersebut dapat dikatakan bakal berkembang dalam kehidupan masyarakat atau tidak sama sekali.

Nah, kalau kita sedikit menyentil ke arah karya sastra yang pada saat ini. Mayoritas pengarang lebih mengarah ke ‘keterbukabebasan’ dalam karya sastranya. Kita (baca: saya) memaknai ‘keterbukabebasan’ di sini adalah yang tidak terikat oleh aturan-aturan yang mengekang seperti dalam pusi lama. Namun tetap saja, semua itu berakar pada keterbukaan lengan-lengan budaya masyarakat guna menerima atau tidaknya sebuah karya sastra. Sekuat apapun intelektulitas pengarang untuk mencurah imajinasi ke dalam karya sastra jika itu bertolak belakang dengan budaya yang ada dalam masyarakat, tetap saja karya sastra tersebut hanya akan kandas pada sebuah kebakuan makna yang tidak memiliki fungsi apa-apa.

Sebagai contoh, saat ini kita mengetahui bahwa banyaknya sastra-sastra kontemporer yang beredar di berbagai media sosial yang dikenal dengan nama cyber sastra. Karya sastra yang menyimpan bentuk pemikiran atau intelektualitas seseorang yang (bisa jadi) sudah pasti tak sesuai dengan fenomena, ajaran dan budaya yang berkembang dalam kehidupan masyarakat. Sudah barang tentu hal tersebut perlahan-lahan bakal mempengaruhi respon estika karya sasra yang lebih mengarah ke bentuk yang semakin menyimpang.

Jika hal tersebut terus berlanjut, tidak dapat dipungkiri akan terjadi kecederaan dalam tubuh sastra. Bakal berakibat pada semakin senjangnya jarak antara karya sastra dengan kehidupan masyrakat sebab ketidaksesuaian yang terus dilahirkan oleh sastra-sastra kontemporer di berbagai sosial media. Memang, walau bagaimanapun konsep dari karya sastra itu sendiri dikembalikan kepada masyarakat sebagai estetikator terlepas dari kesakralan budaya.

Tapi yang perlu ditanam dalam benak bahwa setiap karya sastra yang dilahirkan dari intelektualitas-intelektualitas hebat pengarang, yang sesuai dengan budaya yang diakui dalam kehidupan masyarakat-selektif-adalah karya sastra yang dapat dikatakan memiliki keestetikaan murni, baik jika dinilai dari budaya masyarakat maupun dari karya sastra itu sendiri.

 

Fachru Rozi. Mahasiswa aktif Sastra Indonesia di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara ini lahir di Tanjung Balai. Menulis esai dan puisi di beberapa media cetak dan online. Sedang bergiat di komunitas menulis, Fokus UMSU. Saat ini berdomisili di Medan, Jalan Pembangunan 1 No. 1 Kecamatan Medan Timur Kelurahan Glugur Darat II.

Category: OpiniTags:
resto
No Response

Leave a reply "Sastra, Budaya dan Intelektualitas Pengarang"

[+] kaskus emoticons