ABK Bukan Produk Gagal, Mereka Juga Bisa

oleh

[highlight style=”red”]CIANJUR | Harian Waktu[/highlight] Banyak orang yang berpandangan kalau anak-anak yang berkebutuhan khusus itu tidak bisa apa-apa, bahkan sering menyebut mereka sebagai produk gagal. Padahal banyak hal yang mereka bisa lakukan layaknya anak-anak normal pada biasanya. Sejumlah Sekolah Luar Biasa (SLB) di Kabupaten Cianjur ingin menghapuskan stigma masyarakat yang selama ini telah tertanam. Melalui Expo Pendidikan 2017, Pendidikan Luar Biasa menggandeng beberapa SLB untuk eksis menampilkan hasil karya dari tangan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).

“Hampir sebagian masyarakat Cianjur yang tidak mengenal SLB. Banyaknya memandang sebelah mata, sayang sekali pemikiran-pemikiran seperti itu. Padahal anak ABK itu bisa, bahkan bisa lebih dari anak normal,” ujar Robi Achmad, guru SLB Permata Ciranjang.

Karya seni yang ditampilkan sangatlah beragam, mulai dari pakaian, aksesoris, hiasan, sampai dengan mainan yang terbuat dari bahan bekas atau limbah yang mudah dijumpai di sekitarnya.

“Di stand ini hampir semuanya hasil karya seni dari limbah yang di daur ulang oleh anak berkebutuhan khusus. Kebanyakan buatan dari tangan dan kreatif sendiri, meskipun masih dibantu oleh guru,” kata Robi.

Robi juga mengungkapkan harapannya kepada pemerintah khususnya pemerintah Kabupaten Cianjur untuk lebih memperhatikan siswa yang berkebutuhan khusus ataupun sekolah sekolah luar biasa yang ada di Kabupaten Cianjur.

“Mohon maaf sebelumnya, kita ingin sedikit agak diperhatikan karena SLB pun ada di Cianjur walaupun kita tidak memungkiri kalau SLB itu masuknya ke pemerintah provinsi, tapi setidaknya tolong dong lihat, tolong dong datang, tolong dong sosialisasi,” tambahnya.

Sementara itu, siswa-siswa yang berkebutuhan khusus sangat berantusias menyambut para pengunjung yang datang. Faula seorang siswi kelas 1 SMA dan Fidelis seorang siswa kelas 1 SMP SLB Purnama Cipanas yang sama-sama memiliki kebutuhan khusus, dengan ramahnya menyambut para pengunjung dan berusaha menjelaskan isi stand bahkan memberikan pelajaran bahasa isyarat kepada pengunjung yang tertarik untuk berkomunikasi dengan mereka.

Citra Rahmawati, salah satu pengunjung yang datang merasa tertarik untuk mempelajari cara berkomunikasi dengan anak berkebutuhan khusus  bahkan terinspirasi untuk menjadikan mereka sebagai bahan penulisan skripsi.

“Sebenarnya buat bahan penelitian skripsi aja, disini saya belajar juga, jadi nanti pas praktek nya saya sedikit udah tau cara bekomunikasi dengan mereka. Sebenarnya bahasa isyarat itu menarik untuk dipelajari,” ujar mahasiswa ilmu keperawatan itu.

Citra juga sedikitnya pernah merasakan apa yang dialami oleh anak berkebutuhan khusus. Dia  juga sangat menyambut baik adanya pameran untuk menampilkan hasil karya anak-anak berkebutuhan khusus.

“Orang itu kebanyakan bilang SLB itu produk gagallah, atau gak bisa apa apa. Padahal sebernarnya mereka juga bisa buat karya dari bahan-bahan bekas menjadi sesuatu yang berguna. Saya juga sih sebenarnya sedikit pernah merasakan apa yang mereka rasakan sekarang,” katanya.

Apa yang telah dibuat dan ditampilkan oleh mereka bisa menjadi sumber inspirasi bagi semua orang khususnya pengunjung yang datang dan langsung berkomunikasi dengan mereka.

“Menginspirasi saya sendiri, mereka saja yang punya kebutuhan khusus aja bisa membuat semua itu, kenapa kita yang normal gak bisa,” pungkasnya. Anisa Nur Afrianti

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

[+] kaskus emoticons nartzco