Petani Geruduk Gedung Pendopo

oleh

Saling Klaim Penggarap dan Perusahaan

[highlight style=”red”]SUKABUMI | Harian Waktu[/highlight] Ratusan petani dari Desa Pasirdatar dan Sukamulya, Kecamatan Caringin, Kabupaten Sukabumi geruduk Pendopo Sukabumi, kemarin. Aksi tersebut terkait pengambilan kembali lahan HGU oleh PT Surya Nusa Nadicipta (SNN).

Berdasarkan pantauan, ada sekitar 400 petani yang mendatangi Pendopo Sukabumi. Para petani penggarap itu datang dengan membawa berbagai atribut dan tuntutan.

Ketua Serikat Petani Pasir Datar, Bubun menolak lahan yang telah digarap oleh para petani selama 20 tahun itu diambil alih oleh perusahaan PT SNN. Sebab menurutnya, sudah lebih dari 20 tahun ditelantarkan. “Sudah 23 tahun ditelantarkan, sekarang pihak perusahaan ingin menggarap lahan itu lagi. Makanya kami datang ke sini untuk meminta agar dikeluarkan SK terlantar,” ujarnya, kemarin

Apalagi saat ini, kata Bubun, PT SNN mulai membuat jalan di lahan tersebut. Apalagi dari 370 hektare lahan yang digarap petani, 320 hektarenya adalah HGB PT SNN. “Jadi 320 HGB, sisanya itu sertifikat. Kami tidak ingin kehilangan mata pencaharian,” ucapnya.

General Manajer PT SNN, Kadar mengatakan, selama ini lahan di Desa Pasirdatar dan Sukamulya itu digunakan sebagai mana mestinnya. Bahkan, sejak 2016 lalu dirinya bekerjasama untuk lahan pertanian. “Kita bekerjasama seluas 10 hektare untuk pangan,” ungkapnya.

Bahkan, lahan HGB itu masih milik PT SNN hingga 2024. Selain itu, terkait kondisi lahan yang terlantar atau tidak, itu keputusan dari BPN. “Yang berhak menentukan terlantar atau tidak lahannya adalah BPN. Yang pasti lahan itu masih HGB kita hingga 2024 nanti,” terangnya.

Selama ini, PT SNN terus membayar pajak. Sementara pihak penggarap hanya menggunakan lahan secara gratis tanpa dipungut apapun. “Iya, selama ini kami yang bayar pajak, mereka petani hanya menggarap dan menghasilkan,” jelasnya.

Ke depan, PT SNN akan membangun agrowisata di tempat itu. Bahkan lahan yang dipakai pun hanya 150 hektare dari total keseluruhan 320 hektare. “Sisa yang belum digarap oleh kami, bisa dikelola dengan masyarakat,” paparnya.

Namun, sistemnya harus di bawah naungann PT SNN. Sehingga, tanaman yang ditanam sesuai dengan konsep agrowisata yang akan dibuat. “Jadi masih ada lahan yang bisa digarap oleh masyarakat. Hannya saja tanaman yang diatur,” jelasnya.

Hal itu juga, untuk mencegah konflik antar penggarap. Sebab, jumlah garapan saat ini tidak berkeadilan. “Satu penggarap saat ini bisa mencapai 10 hingga 16 hektare. Makanya nanti akan kami bagi sesuai porsinya. Sebab, ada yang tidak kebagian lahan itu juga,” pungkasnya.Mohamad Pajar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

[+] kaskus emoticons nartzco