Ulama Muda Cianjur Lebih Dulu Haramkan HTI

oleh

[highlight style=”red”]CIANJUR | Harian Waktu[/highlight] Bathsul Masa’il pada hari Sabtu malam tanggal 6 Mei kemarin yang membahas keberadaan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang dilaksanakan di Ponpes Hibbatussa’diyah Kampung Tegal Buleud Desa Nagrak Kecamatan Cianjur, menyatakan HTI terlarang ada di Indonesia.

Acara terebut diikuti oleh para kiayi dari 48 Pondok Pesantren di Kabupaten Cianjur, individu dari Ormas Kepemudaan dan personil Polri itu isinya adalah kajian dari ilmu-ilmu agama Islam yang dipadu padankan dengan kondisi kemasyarakatan yang terjadi sekarang ini.

Pengasuh Pondok Pesantren Hibbatussa’diyah, KH. Cepi Hibbatulloh mengutarakan bahwa di dalam acara Syahriyahan Kaum Sarungan Sabtu malam kemarin itu membahas dua hal pokok yakni, keberadaan kelompok Islam Mujasimah atau yang menyamakan Allah SWT dengan mahkluknya. Dan yang kedua pembahasan mengenai organisasi HTI.

” Saya sendiri menjelaskan terlebih dahulu dalil-dalil agama dan kesejarahan kaum Mujasimah,” ujarnya.

Dan bagi kita soal ini sudah selesai lanjutnya, karena dari sisi keilmuan yang kita peroleh tidak ada celah untuk menyerupakan Allah dengan apapun bentuknya. Semua ayat – ayat Mutashabihat dalam kajian ilmu Al Qur’an para ulama Shalafus Salih ditambah dengan Ijma bersepakat untuk dita’wil.

Bahasan yang kedua soal HTI, semua hadirin juga bersepakat untuk dilarang keberadaannya atas dasar membuat keresahan dengan jargon pendirian khilafah dan hendak mengganti ideologi Pancasila yang menurut para alim ulama kita sudah final.

“Sebenarnya, perwakilan dari HTI juga hadir tapi entah alasan apa yang bersangkutan buru-buru pergi sebelum diminta pendapatnya,” ucapnya.

Sekarang, tambahnya, setelah dua hari melaksanakan Bathsul Masa’il, ternyata pemerintah langsung berencana melakukan pembubaran HTI. Ini artinya apa yang kami laksanakan itu langsung mendapatkan respon positif.

“Dan sebelumnya, orang tua kami dari Cidahu Pandeglang, KH. Muhtadi Dimyati juga sudah jauh-jauh hari mengharamkan ada HTI,” paparnya.

Tugas kami sekarang sebagai santri adalah, tetap mengawal hasil Bathsul Masa’il, Fatwa KH. Muhtadi Dimyati dan keputusan pemerintah tentang terlarangnya HTI ada di Indonesia. Terkecuali, pihak HTI menyatakan secara resmi bahwa mereka menerima Pancasila, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI.

Dan itu harus dibuktikan, masih menurut KH. Cepi Hibbatulloh, dengan pada setiap acara-acara yang diadakan oleh HTI dikumandangkan lagu Indonesia Raya, yang diikuti oleh anggotanya yang hadir. Begitu juga dengan pembacaan teks Pancasila, juga diikuti oleh anggota HTI yang hadir.

Selain dari dua keputusan diatas, tambahnya, kita yang hadir Sabtu malam kemarin itu juga sepakat untuk mewakafkan jiwa dibawah bendera Merah Putih, NKRI dalam wadah Nahdlatul Ulama. Ruslan Ependi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

[+] kaskus emoticons nartzco