Ponpes Perlu Ada Ekstrakulikuler Tambahan

oleh

[highlight style=”red”]CIANJUR | Harian Waktu[/highlight] Pondok Pesantren (Ponpes) adalah lembaga pendidikan keagamaan dengan sistem mempertahankan tradisi lama yang baik dan menagambil yang baru yang lebih baik. Namun seiring dengan perkembangan jaman seperti sekarang ini, Ponpes sudah mulai ditinggalkan oleh masyarakatnya atas dasar itulah pimpinan pondok pesantren Hibbatusa’diyah memperkenalkan metode baru selain mempertahankan pembelajaran Salafynya yaitu dengan ekstarakulikuler tambahan.

Pimpinan Pondok pesantren Hibbatusadiyah Desan Nagrak, Cianjur, Kiai Cepy Hibatusadiya mengatakan, untuk terus mempertahankan metode kepesantrenan, memang perlu ada tambahan belajar disamping ilmu keagamaan wajib yang harus di ikuti oleh para santri. “Pesantren itu dibagi dua ada pesantren yang murni salafy dan ada juga pesantren moderen yang biasanya dilakukan juga pendidikan formal, di Hibbatusadiyah itu mengkaji tentang 12 Fan  ilmu agama yaitu sorfun, bayannun, ma’ani, nahu, kopiyah si’run, a’run istikok, munadoroh, khatun, insya dan lugoh, dan di topang dengan usul fikih dan fikih,” ungkapnya.

Untuk menyeimbangkan antara ilmu agama dan keterampilan atau keahlian, kata Kiai Cepy mengatakan, di pesantrennya ada pendidikan ekstrakulikuler dan pelatihan-pelatihan keterampilan. “Stigma di masyarakat mengatakan bahwa dengan mondok tidak akan menjamin anak kerja, maka dari itu  saya mendidik ke santri agar senantiasa bisa mandiri, artinya bagai mana santri bisa mengembangkan fasilitas pondok pesantren untuk menopang kemajuan dan kepentingan para santri itu sendiri,” tuturnya.

Hingga saat ini di pesantrennya, ada beberapa kelompok keahlian santri diantaranya, kelompok santri pembudidaya lele jumbo, telor asin, sabun cuci , peternakan puyuh, cacing sutara , disain grapis, dan persablonan, lukisan dan kaligrapi. “Ekstrakulikuler yang ada ini tidak lain untuk menyeimbangkan antara pengetahuan dan keahlian, atas dasar kesadaran kami bahwa di suatu saat santri itu tidak hanya dituntut, untuk memimpin masyarakat, tapi bagai mana santri kami bisa menerapkan skilnya sebagai tambahan penghasilan bagi dirinya sendiri,” tegasnya.

Karena pada prinsipnya, ungkap dia, pesantren itu juga dididik secara sistem mandiri, jadi santri mempunyai skil multidimensi, sehingga khajanah keilmuan semakin berkembang. “Sampai saat ini ada santri yang mampu mandiri, sehingga bisa membangun pondok secara mandiri, bahkan sewa tanah untuk kepentingan usaha santri, nah, ini adalah tolak ukur bahwa pesantren salafy tidak bisa dianggap enteng dan sudah menjadi solutif, bukan lagi menjadi alternatif,” pungkas Kiai Cepy. Ismat Nasrulloh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

[+] kaskus emoticons nartzco