Cerpen Risda Nur Widia

oleh

Jerangkong Jelita: Sebuah Kisah Selepas Demonstrasi

Aku menemukanmu dalam keindahan tulang-belulang yang nyaris gosong; pada reruntuhan kemalangan; di antara puing-puing kehancuran sisa kerusahan semalam. Pagi hari setelah kerusahan hebat di kota J, kau terlihat manis dengan rongga mata yang tampak kelam. Hitam menyiratkan rahasia. Semalam memang terjadi demostrasi besar yang melululantakkan kota, banyak rumah rusak; toko-toko terbakar hebat. Bahkan—sekilas apabila dipandang dengan mata yang sehat—kota telihat seperti lautan api: merah melumat segalanya. Di antara puing bangunan serta segala macam kekacauan, aku mendapatimu: terpuruk tak berdaya di pojokan; pasrah menunggu seorang menyelamatkan.

ilustrasi/net

Aku tak percaya dengan yang terlihat. Pagi itu aku tak mengira akan menemukanmu kuyu di pojokan. Aku yang baru saja pulang—memisahkan diri dari rombongan demostran tepatnya—melihatmu terkulai meminta pertolongan dalam bentuk onggokan tulang. Bahkan keanehan yang aku rasakan ini sulit dijelaskan. Mungkin seperti keganjilan ketika aku mendapati novel-novel dengan tema-tema absurd. Dan kini semua hal yang kuanggap hanya ada di buku-buku koleksiku menjadi nyata. Bagai mimpi pagi hari yang terlampau buruk, keanehan ini membuat jantungku berdebar cepat. Apalagi ketika aku melihat di dadamu yang hangus dan hanya menyisakan ruas-ruas rusuk; sekuntum bunga merah dan segar; setangkai keindahan tumbuh menyeruak damai di antara kesemerawutan.

Ruap aroma bunga asing berdesir dibawa angin; mengusikku untuk lekas memetiknya. Dari kuncup bunga yang begitu segar, aku seolah mendengar suaramu; pekik seorang wanita yang begitu lemah.

“Tolonglah aku! Setelah itu aku akan mengabdi sebagai teman hidupmu!” Katamu dalam ruang kasat. “Aku akan mendedikasikan hidupku dengan cara yang sulit kau mengerti!”

Suara itu sendu terngiang; sayu mengusik. Bahkan seperti ada seribu roh yang mendorong tubuhku untuk mendekat ke arahmu; duduk di sampingmu. Aku lempar sepasang mataku yang masih setengah mengantuk. Aku menyisir tubuhmu dari ujung kaki sampai kepala. Kembali dadaku ribut oleh suara-suara. Aku merasakan getaran nikmat. Seperti perasaan cinta yang rumit dan terkesan konyol setiap kali memandang tumpukkan tulang-beluangmu. Hingga aku mengambilmu dari tumpukan kekacauan demonstrasi; mengemasmu ke dalam tas jinjing; membawamu pulang ke kontrakanku.

***

Menemukanmu—tulang-belulang yang telah hangus terbakar—seperti memberikan gairah di dalam hidupku. Rasa depresi yang sudah lama mengendap di hati atas semua kekacauan, dan segala hal yang tak bisa aku terima secara wajar; menambah rasa kesepianku terhadap dunia. Bahkan—di sepanjang hidupku yang telah memasuki tahun ke-23—aku telah mengambil keputusan untuk lari dari kenyataan; mengabadikan hidupku pada kisah-kisah ganjil yang aku tulis dan tak perlu dipercaya. Tuhan seolah menciptakan ulang bumi dengan segala isinya setelah aku menemukanmu. Semuanya tampak menyenangkan.

Sayangnya kebahagian yang aku rasakan tidak menular pada orang-orang di sekitarku. Mereka tidak ingin merayakan kebahagiaan yang aku rasakan. Bahkan ketika membawamu pulang—tulang-belulang yang telah hangus—ke ruang sempit serta kumuh kontrakanku. Gaduh cibir malah ditunjukan padaku. Orang-orang itu tidak lelah mengutuk dan melemparkan umpatan yang terdengar nyiyir. Mereka menyumpahiku dengan segala doa paling muram di dunia. Mereka mencaci segala perangaiku sebagai tindakan tak berprikemanusian. Tak luput orang-orang itu mengancam.

“Kau temukan dimana tulang manusia itu!” Kata seorang tetangga. “Kau mencurinya di kuburan!”

“Kau ingin mencari ilmu hitam dengan tulang-tulang itu!” Timpal lainnya.

“Kembalikan tulang-tulang itu atau kami melaporkanmu,” ancam mereka.

Aku tersenyum santai. Aku tidak begitu menanggapi segala caci-maki yang dilemparkan kepadaku. Bahkan dengan riang aku bisa mengutarakan maksud mengapa mengambil tulang-tulang hangus itu. “Tulang-tulang ini terlihat merana dan kesepian. Maka aku menolongnya!”

Aku mengeluarkan tulang-belulangmu yang telah hangus; membaringkannya di depan orang-orang yang terlihat pucat. Wajah mereka mendadak hijau menahan mual saat melihat tumpukan tulangmu. Anak-anak yang berada di sekitar tempat menjerit ketakutan; berlari pulang ke rumah lalu bersembunyi. Lantas dengan tenang aku melampirkan senyumku yang dingin. Akan tetapi bukan pintal senyum balasan yang aku dapat. Serapah dan hujat kembali melayang. Menusukku. Seperti anak panah: Tajam. Dalam. Perih.

“Kau pasti sudah gila!

“Kembalikan tulang itu atau kami melaporkanmu ke polisi!”

“Dasar sinting!”

Semua ungkapan kasar yang menghujat sama sekali tak menggusik pendirianku. Aku tetap menjagamu; merawatmu dengan sepenuh hati. Bahkan saat orang-orang berusaha merenggutmu, aku berusaha keras melindungi. Sampai kemudian mereka kelelahan dan menyerah. Begitulah. Aku sama sekali tidak mendengarkan apa yang dikatakan oleh orang-orang. Tak peduli. Pun tepat tengah malam—sebelum orang-orang melaporkan—aku memilih pergi meninggalkan kontrakan kumuh; mengucilkan diri agar tetap bisa bersamamu.

***

Meninggalkan kontrakan yang lama, aku menyewa tempat di perumahan kumuh yang banyak ditinggali pelacur dan pemabuk. Di sana aku mendapatkan rumah sewa yang murah. Yang lebih penting adalah para pelacur dan pemabuk tak ada peduli denganku. Mereka semua diam; hirau dalam kebungkaman. Mereka seakan lelah dengan kenyataan hidup masing-masing; memilih untuk tak ikut campur dengan urusanku. Maka aku dengan bebas dapat meletakkanmu di dalam rumah. Kau tampak damai dalam tidurmu. Seolah kekacaun yang terjadi di luar tak mengusikmu. Sembari membaringkanmu, aku memperhatikan kelam ceruk mata tengkorakmu. Aku mendapati penderitaan yang sangat panjang dan mengerikan. Aku juga menemukan kejeletiaan miliki seorang gadis yang ingin dicintai.

“Siapa kau sebenarnya?” Kataku lirih. “Apakah kau memiliki nama?”

Aku merebahkan tubuh di sampingmu; memandangmu lebih rapat lagi; ingin membaca jiwamu yang asing. Aku tak lelah menduga-duga segala hal tentangmu: Siapa kau sebenarnya? Bagaimana kau bisa berada di dalam kekacauan? Apakah kau bagian dari demonstran atau menjadi korban kerusahan? Aku terus memikirkan segala hal yang mungkin terlintas tentangmu. Hingga mataku lelah dan terlelap; tak menemukan selarik biografi tentangmu: segala hal yang dapat menjelaskan mengenai siapa dirimu. Akan tetapi apalah arti sebuah nama atau identitas. Karena kau—walau asing—tetap memberi segala kedamaian bagiku.

***

Hari berlalu. Kesunyian terjalin. Kegagalan demi kegagalan terus berpilin. Dunia—dari sudut mataku—semakin membosankan. Bahkan sering terlintas di kepalaku untuk meninggalkan dunia. Maka aku bertambah tekun menghabiskan waktu di depan mesin ketik dan buku. Aku mencoba mengalihkan segala hal yang menjengahkan. Tetapi setiap kali lelah menulis atau membaca lantas tertidur, aku selalu menemukan hal-hal aneh di sekitarku. Seperti pernah aku menemukan sepiring nasi goreng di meja, atau buku-buku yang sering berantakan kembali rapi di raknya. Hal itu terus terjadi sampai suatu malam aku pulang mengisi diskusi; menemukanmu asik membaca buku di perpustakaanku. Kau—dengan tulang-tulang yang hangus—takzim membaca buku karya Ryunosuke Akutagawa berjudul Kappa. Aku mendekat pelan agar tak menakutimu.

“Kau suka buku itu?”

“Sangat menyukainya. Aku membaca buku ini ketika kau tertidur.” Kau terdiam sesaat. “Kau tidak takut melihatku?”

“Takut untuk apa? Hidup ini sudah terlalu sulit untuk dipercaya!” Aku termenung. “Itu buku yang sangat aku suka. Bahkan aku ingin hidup seperti tokoh ‘aku’ di dunia Kappa.”

Memang sudah sejak lama aku menyukai buku itu. Aku terobsesi menemukan dunia sama seperti yang diciptakan oleh Ryunosuke; dunia asing di mana manusia hidup tenang tanpa manusia lainnya. Dunia antah-berantah yang tak lagi menghubungkan manusia dengan obsesi dan kekejian.

“Kau ingin hidup di sana?” Tanyamu

“Betul!”

“Aku tahu caranya!”

“Bagaiaman caranya?”

“Setubuhilah aku dan jadilah suamiku,” katamu.

Tanpa pikir panjang aku menyetubuhimu. Pun tiba-tiba—di antara persetubuhan yang ganjil—aku melihat kejelitaan dari wajahmu.

***

Begitulah. Kisah ini memang tak perlu Anda percaya seutuhnya. Akan tetapi cinta—bila Anda ingin mempercayainya—acap membuat segalanya tak normal. Seperti dongeng Pinokio: kita pasti tercengang mendapati kisah itu. Karena cinta, boneka kayu itu dapat hidup. Juga cintaku. Kini aku dapat hidup dengan bahagia bersama jerangko jelita. Kami menikah. Bahkan pernikahan kami dirayakan dengan meriah: ada terikan kemarahan, lempar batu, dan kertap api yang menghiasi rumah kontrkanku. Seperti mimpiku, sekarang aku berada di dunia indah. Dunia keabadian. (*)


Risda Nur Widia. Belajar di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa. Pernah juara dua sayembara menulis sastra mahasiswa se-Indoensia UGM (2013), Nominator Sastra Profetik Kuntowijoyo UHAMKA (2013). Penerima Anugerah Taruna Sastra dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa; Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia (2015). Nominator tiga  besar buku sastra terbaik Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Yogyakarta 2016. Buku kumpulan cerpen tunggalnya: Bunga-Bunga Kesunyian (2015) dan Tokoh Anda Yang Ingin Mati Bahagia Seperti Mersault (2016). Cerpennya telah tersiar di berbagai media.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

[+] kaskus emoticons nartzco