Ketoprak Betawi Puluhan Tahun Ada di Kota Tauco

oleh

[highlight style=”red”]CIANJUR | Harian Waktu[/highlight] Anda pasti sudah kenal dengan makanan asal dari Betapi yang biasa disebut  Ketoprak. Seperti halnya makanan lain, yang namanya berasal dari singkatan bahan–bahan untuk membuat makanan itu, begitu pula dengan ketoprak. Ketoprak adalah singkatan dari ketupat, toge dan digeprak. Memang, ketoprak terdiri dari irisan ketupat, tauge yang sudah direbus, tahu goreng, mentimun, dan bihun lalu diguyur saus kacang, plus kerupuk.

Tahukah anda sejak kapan ketoprak ada di Cianjur dan siapa yang membawa makanan ini ke kota Tauco?

Ternyata Ketoprak hadir di Cianjur, sejak dua puluh tahun lalu dan yang membawa makanan khas Betawi ini ke Cianjur adalah Mbak Assakinah (44) atau yang biasa akrab di panggil Bu Tina. Menurut wanita paruh baya yang berasal dari Berebes ini. Pertama kali dia mengenalkan ketoprak ke warga Cianjur, sama sekali tidak membuat warga Cianjur tertarik. Malah tak jarang dia pulang ke rumah dengan gerobak yang masih terisi utuh.

“Wah dulu itu pas awal saya dagang ketoprak di sini, sangat pahit sekali. Saya sering pulang ke rumah tanpa menjual sepiring ketoprak pun. Yang ada di ketawakan, karena menurut orang yang saya tawari ketopra, ketoprak itu kuda berlari (kotoprak…kotoprak) katanya,” cerita Tina.

Tina menjelaskan, dia butuh waktu satu tahun untuk merintis usahanya. Setelah satu tahun baru bisa merasakan usaha yang stabil. Seiring berjalannya waktu kini ketoprak Bu Tina, sudah terkenal di Cianjur. Malah tak jarang para pelanggannya ini rela mengantri dan datang dari jauh, hanya untuk menikmati ketoprak buatan Bu Tina.

“Alhamdulillah pa, sekarang dalam sehari saya bisa menjual 200 porsi ketoprak, kalo diambil rata–rata omzet saya dari ketoprak ini sekitar Rp. 1.000.000 perharinya, lumayanlah buat kumpul–kumpul menikmati hari tua di kampung,” ucap Tina.

Ketoprak Bu Tina dengan tenda biru  yang biasa kita temui di samping kana jalan dari arah Jln. Taifur Yusuf, Suge. Namun kini berpindah tempat, ke sebuah kedai disebrang tempat semula. Di kedai ketopraknya yang sekarang, dia dibantu oleh sang suami dan dua orang anaknya.

“Sekarang saya dibantu oleh anak dan suami, karena disini Alhamdulillah pelanggannya makin banyak, stok bahan yang biasanya untuk satu hari berjualan. Disini bisa habis dalam setengah hari, jadi saya harus di bantu sama suami dan dua anak saya, supaya tidak keteteran. Kedai ini sekarang buka dua puluh empat jam, jadi memang harus ada yang mengaplus,” katanya.

Rupa dan rasa dari ketoprak Bu Tina ini memang sama dengan ketoprak yang ada di Betawi, namun di ketoprak Bu Tina ini, ada kelezatan yang lebih dari ketoprak pada umumnya.

“Resepnya sih resep turun temurun dari keluarga, mengenai rasa kan memang pembeli yang menilai, saya cuma menerapkan resep dari keluarga tanpa ada yang di kurangi dan di lebihi,” terang Ibu yang murah senyum ini. Asep Hendrayana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

[+] kaskus emoticons nartzco