Memasuki H-4 Kendaraan Pemudik Mulai Memadati Jalur Puncak-Cianjur

oleh

Puncak Arus Mudik Diprediksi H-1 Lebaran

CIANJUR, waktunews.com – Kendaraan pemudik mulai memadati Jalur Puncak-Cianjur, rombongan kendaraan yang didominasi pemudik bersepeda motor itu meningkat jumlahnya pada Rabu, kemarin.

Memasuki H-4 Lebaran 2017 pemudik bersepeda motor memadati Jalan Raya Puncak hingga Jalan Raya Bandung terus bertambah jumlahnya, bahkan ketika Rabu sore rombongan sepeda motor dengan ciri khas mudik terlihat melintas menuju arah Bandung dan selanjutnya berombongan.

Meskipun pemerintah mengimbau warga tidak mengunakan sepeda motor ketika mudik untuk menekan angka kecelakaan yang masih tinggi terutama ketika musim mudik dan balik lebaran, imbauan tersebut terkesan tidak dihiraukan karena sebagian besar pemudik bermotor menilai biaya yang dikeluarkan lebih murah dan ringan.

“Kalau mudik naik kendaraan umum, baik bus, kereta atau pesawat sekalipun, tetap saja harus mengantri jauh-jauh hari untuk dapat tiket. Kalau pakai sepeda motor, kami bisa cepat sampai dan biaya yang dikeluarkan sangat irit dan ketika kembali ke perantauan tidak perlu mengantri atau menunggu lama,” kata salah seorang pemudik, Ridwan Ahmad.

Dia menuturkan, sengaja pulang lebih awal ke kampung halamannya dengan perantau lainnya, agar dapat singgah ke beberapa kota untuk berbelanja keperluan untuk lebaran.”Kalau pakai motor bisa belanja dulu pakaian di Bandung untuk diberikan ke sanak saudara di kampung, kalau pakai kendaraan umum tidak bisa,” katanya.

Dia menambahkan, untuk terhindar dari cuaca panas saat di perjalanan mudik, dia dan rombongan memilih waktu sore hari untuk melakukan perjalanan.”Biar di jalan tidak kepanasan, saya lebih memilih sore hari karena cuaca siang hari sangat menyengat. Kasihan istri saya kalau diajak jalan siang,” katanya.

Kasatlantas Polres Cianjur, AKP R Erik Bangun Prakarsa, mengatakan, pihaknya mengimbau pemotor agar mematuhi semua aturan lalu lintas, agar terhindar dari resiko kecelakaan lalu lintas.

“Kami juga mengimbau pemudik bermotor tidak membawa banyak barang bawaan dan tidak berboncengan lebih dari satu orang karena akan mempengaruhi saat berkendara serta menggunakan helm SNI,” katanya.

Dia menjelaskan, memasuki hari ke empat menjelang lebaran, volume kendaraan pemudik yang melintas di Jalur Utama Mudik Cianjur, terus meningkat dan masih didominasi kendaraan roda dua bernopol Jabodetabek.

“Volume kendaraan pemudik yang melintas terus meningkat dan diperkirakan akan terjadi puncaknya pada H-1 lebaran, dimana pemudik jarak dekat akan mendominasi seperti ke Bandung, Garut dan Tasikmalaya,” katanya.

Sementara itu, Erik mengaku, pihaknya, terus berkoordinasi dengan dinas terkait untuk menambah atau memperbaiki sejumlah sarana dan fasilitas penunjang seperti marka jalan dan lampu penerangan jalan umum (PJU) di sepanjang jalur mudik di wilayah itu.

Hal tersebut, kata Erik, untuk menekan angka kecelakaan selama pelaksanaan arus mudik dan milir serta untuk memberikan kenyamanan dan keamanan pada pemudik, pihaknya terus menambah rambu peringatan dan lampu penerangan yang dinilai kurang di sejumlah titik.

“Untuk memberikan keamanan dan kenyamanan bagi pemudik, jajaran Polres Cianjur  menyiapkan sejumlah pos pengamanan dan pos pelayanan serta tempat istrihat. Polres Cianjur menyiapkan Pos PAM di sepanjang jalur Cianjur-Bandung  agar pemudik merasa nyaman dan aman selama melakukan perjalanan,” katanya.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Cianjur, Joni Rozali menyatakan adanya lonjakan penumpang dalam arus mudik sebesar 70%. Dia juga memaparkan bahwa barometer dari arus mudik di Kabupaten Cianjur adanya di Terminal Pasir Hayam. Sedangkan Terminal Rawa Bango adalah jalur perlintasan antara Bandung dan Jakarta.

“Untuk persoalan tarif atau ongkos sudah ada keputusan dari Kementerian Perhubungan. Namun saya belum menerima,” ungkap Joni.

Sedangkan Kepala Terminal Pasir Hayam, Deni Cahyana menerangkan bahwa menjelang Hari Raya Idul Fitri sekarang ini ada penurunan drastis  jumlah penumpang kearah Cianjur Selatan, “Biasanya, H-5 saja sudah 100% lonjakan penumpangnya,” paparnya.

Menurut laporan dari para supir bus, Deni menjelaskan penurunan tersebut diakibatkan oleh armada bus travel yang ngambil penumpang dari daerah dimana masyarakat Cianjur Selatan bekerja seperti Jakarta, Bandung, Bekasi atau daerah kerja masyarakat lainnya.

Deni memaparkan bahwa bus travel sangat merugikan para supir bus Terminal Pasir Hayam karena ngambil penumpang langsung dari daerah kerja sampai tujuan si pemudik. Inilah yang menjadi penyebab utama dari penurunan pendapatan para supir.

“Solusinya, kami petugas Dishub akan menghentikan bus travel demi kelancaran hidup para supir,” tukasnya.

Semua jalur Cianjur Selatan, lanjutnya, banyak yang mangkrak tidak kebagian penumpang. Bahkan ada juga armada bus sudah hampir satu minggu, diam tidak bisa beroperasi karena penumpangnya tidak ada. “Hanya jalur Kecamatan Kadupandak saja yang masih terbilang agak normal,” ucapnya.

Mengenai ongkos atau tarif bus, Deni mengaku belum ada peraturan khusus yang mengaturnya. Hanya saja, misalnya ongkos ke Kadupandak yang asalnya Rp 35 ribu rupiah, sekarang naik jadi Rp 40 atau Rp 45 ribu per orang.

“Sebenarnya, tidak naik juga jauh lebih bagus. Karena harga ongkos sebelum menjelang Hari Raya Idul Fitri pun sudah terhitung melebihi,” katanya.

Sementara salah seorang masyarat Kecamatan Pagelaran Ismatulloh (25), sebagai calon pemudik mengharapkan adanya aturan baku mengenai tarif atau ongkos bus arah Cianjur Selatan.

Menurutnya, aturan baku tersebut agar tidak membuat kebingungan ditengah masyarakat. Dan untuk menghindari penerapan ongkos yang semena-mena oleh para supir bus. Dan aturan baku itu harus disosialisasikan minimal H-7 menjelang lebaran.

“Terkadang saya menyaksikan pertengkaran antara penumpang dan kondektur soal ongkos ini,” ungkapny. Syamsuri/Ismat Nasrulloh/Asep Hendrayana/Ruslan Ependi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

[+] kaskus emoticons nartzco