Berdagang di Zona Merah Didenda Rp250 Ribu

oleh

BANDUNG, waktunews.com – Pemerintah Kota Bandung melalui Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) akan memberikan sanksi kepada pedagang asongan di kawasan zona merah dengan menerapkan denda sebesar Rp250 ribu hingga Rp1 juta rupiah.

“Kita mengejar pelanggar Perda K3 (Ketertiban, kebersihan, dan keindahan) . Kita persempit ruang gerak mereka dengan memberikan biaya paksa dari Rp250 ribu hingga Rp 1 juta,” ujar Kasatpol PP Kota Bandung Dadang Iriana di Alun-alun Bandung, Senin.

Menurutnya, sanksi tegas itu dilakukan untuk membuat efek jera bagi para pedagang di zona merah. Pasalnya, seiring dengan masih dalam masa libur sekolah, kawasan seperti alun-alun masih dipadati masyarakat. Hal ini pun menarik perhatian para pedagang.  “Akhir pekan perintah Pak Wali Kota terjadi peningkatan (pengunjung) sangat luar biasa. Begitu juga dengan pedagang. Sehingga perlu ditertibkan sesuai Perda,” kata dia.

Pemberlakukan denda ini juga berlaku bagi pembeli serta perokok yang berada di zona merah. Mereka akan langsung ditindak oleh petugas yang berkeliling di area Taman Alun-alun Bandung.      “Pengunjung tidak boleh membeli zona merah. Dengan membeli di zona merah ada sanksi. Begitu juga dengan perokok,” katanya.

Menurutnya, untuk sementara biaya paksa hanya dilakukan di Alun-alun Kota Bandung. Ke depan, kegiatan serupa digulirkan di wilayah zona merah lainnya seperti Asia Afrika, Dewi Sartika, Dalem Kaum, Diponogoro, Tegalega dan sejumlah tempat lainnya.  “Tujuh titik zona merah kita pantau. Untuk sementara, kita konsentrasi di Alun-alun dahulu. Kita berharap, apa yang kita lakukan hari ini bisa memberikan efek jera baik kepada mereka khususnya para pedagang,” ujar dia.

Meski demikian, dari sekian banyak pengunjung, hanya segelintir saja yang mengetahui soal aturan tersebut. Banyak dari pengunjung, mengaku baru mengetahui adanya larangan untuk berbelanja di zona merah.  “Saya belum tahu ada larangan itu, (membeli di zona merah). Baru tahu tadi pas liat  petugas Satpol PP yang bawa papan larangan,” ujar salahsatu pengunjung asal Ujung Berung Bandung, Dewi (31) yang datang bersama keluarganya.

Ia mengaku mendukung langkah yang dilakukan Pemerintah Kota Bandung dalam menciptakan kenyamanan kota. Namun, kata dia, alangkah lebih baiknya, pemerintah lebih menyosialisasikan terlebih dahulu aturan serta sanksi tersebut.  “Saya setuju-setuju aja sih. Tapi harusnya adain sosialisasi dulu dong. Harus jelas jangan ujug-ujug didenda,” katanya. Abud/net

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

[+] kaskus emoticons nartzco