Seniman Akan Ikut Mengajar, Bangun Pendidikan Karakter

oleh

CIANJUR, waktunews.com – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan melibatkan seniman dalam menerapkan program Penguatan Pendidikan Karater (PPK). Mereka akan mengajar di sebanyak 1.340 sekolah dasar dan menengah se-Indonesia dengan durasi 32 kali pertemuan selama 4 bulan. Para seniman yang terlibat di antaranya, pelukis, pelaku seni peran, pemusik dan pelestari kebudayaan seni tari tradisional.

Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbud Hilmar Farid menuturkan, seniman seperti Gilang Ramadhan, Sundari Sukoco dan Ineu Febriyanti terlibat langsung dalam penyusunan program Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS). Menurut dia, GSMS akan mengisi kegiatan ektra kurikuler sekolah yang siap menerapkan kebijakan sekolah 8 jam sehari selama 5 hari. “Tahun 2016 ada 280 sekolah di tujuh provinsi yang sudah menerapkan GSMS. Para seniman mengajar sebanyak sembilan kali pertemuan,” ucap Hilmar di Kantor Kemendikbud, Jakarta, Jumat, 21 Juli 2017.

Ia mengklaim, GSMS merupakan upaya mendasar dari pemerintah untuk menguatkan peran kebudayaan dalam dunia pendidikan. Menurut dia, pengelanan beragam kesenian kepada anak usia sekolah, terutama sekolah dasar, sangat penting untuk pengembangan ilmu pengetahuan. Kesenian memiliki korelasi kuat dengan tingkat kecerdasan siswa. “Seni adalah bagian dari budaya bangsa. GSMS ini langkah awal untuk mengarusutamakan kebudayaan dalam dunia pendidikan,” katanya.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy mendukung penuh program tersebut. Ia menegaskan, selama ini, pendidikan dasar dan menengah nasional lebih mengutamakan prestasi akademik ketimbang merangsang pengembangan otak kanan siswa. Padahal, di semua negara maju, pengenalan budaya dan melatih minat dan bakat siswa sudah menjadi yang utama. “Sejak tahun 1967 hingga sekarang, basis pendidikan nasional masih soal pemberantasan buta huruf. Itu berimplikasi pada cara mengajar guru dan kurikulum yang dibentuk,” ujarnya.

Ia mengatakan, kurikulum tersebut sudah kurang relevan dengan kondisi pendidikan dunia saat ini.  “Saat ini, saya masih gagal menjadikan kebudayaan sebagai arus utama dalam pendidikan dasar. Saya iri dengan negara-negara maju. Di sana, anak SD itu mempelajari seni dan budaya bangsanya. Di Indonesia, 70 persen masih soal membaca menulis dan menghitung. Seni dan budaya penting dikenali sejak dini agar saat dewasa kita tidak terserabut dari lingkungannya,” ujar Muhadjir.

Ia menuturkan, program GSMS akan berjalan lancar dan mencapat target jika mendapat dukungan penuh dari para guru. Pasalnya, guru harus berani dan mau mengubah cara pandang, pola mengajar, dan waktu mengajar terkait kemajuan pendidikan nasional. “Yang paling susah adalah mengubah mindset guru, ini yang sedang saya bongkar. Mengubah landasan pendidikan dasar ini sudah, banyak yang menentang. Tapi saya yakin, pendidikan dasar akan lebih baik jika kebudayaan menjadi yang utama,” katanya. DJ/Net

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

[+] kaskus emoticons nartzco