Kondisi SDN Jayamekar Cianjur Memprihatinkan

oleh

SINDANGBARANG, waktunews.com – SDN Jayamekar yang terletak di Kampung Bantaka, Desa Muaracikadu, Kecamatan Sindangbarang, Cianjur Selatan kondisinya sangat memprihatinkan.

Selian itu di SDN Jayamekar hanya terdapat dua guru. Lebih parah, dalam satu ruangan dibagi menjadi tiga kelas. Ruangan pertama di isi siswa kelas I, II dan III, sementara ruangan lainnya diisi kelas IV, V dan VI.

Semakin memprihatin melihat sekat pembatas ruangan dari kayu dan triplek sudah bolong-bolong. Tak jarang saat kelas I, II dan III belajar, siswa dari kelas sebelah mengintip melalui lubang yang ada dimana-mana.

“Saya sudah lima sampai enam tahun jadi kepala sekolah. Pokoknya sejak 2011. Saya juga sudah bingung mau dibagaimanakan lagi. Dibenahi sudah, ditata sudah. Segala upaya dengan segala cara, termasuk mengusulkan bangunan. Tiga kali mengajukan bantuan tapi gagal terus. Kondisinya sudah begini sebelum saya pindah tugas ke SDN Jayamekar,” ujar Kepala SDN Jayamekar, Yusup Suparta.

Jumlah siswa di SDN Jayamekar kurang dari 50 siswa. Kelas I ada delapan siswa, kelas II lima siswa, kelas III dan IV ada tujuh siswa, kelas V 11 siswa, serta kelas VI 10 siswa. Alasan itu yang kerap membuat pengajuan bantuan SDN Jayamekar ditolak mentah-mentah oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Cianjur.

Yusup juga sudah mengusulkan agar ada bantuan tenaga pengajar PNS di sekolahnya. Namun, lagi-lagi penolakan yang diterima. “Kita inginnya ada satu guru wanita yang mengajar di sini. Guru PNS lebih bagus. Saya sempat mengajak beberapa guru yang membina PAUD, terus membicarakan soal honornya. Tapi sampai sekarang belum ada jawaban. Pada tidak mau bertugas di SDN Jayamekar. Kepala sekolah lainnya juga pada tidak mau. Kalau saya tugas mah dimana saja,” pungkasnya.

Buruknya kondisi SDN Jayamekar diakui Kepala UPTD Pendidikan Kecamatan Sindangbarang Sugiono.  Lantaran kondisinya yang sudah tidak memungkinlan lagi untuk dilanjutkan, Sugiono berencana menggabungkan (merger) SDN Jayamekar dengan sekolah lain.

“Tapi itu baru rencana. Jadi atau tidak, itu belum jelas. Yang pasti kalau soal pemberian bantuan lihat situasi dan kondisi siswa. Murid kurang, jadi rasanya lebih baik dimerger. Aturan yang baru sekarang kan per kelas harus sekian siswa. Tapi tetap kualitas pendidikan tidak akan berkurang. Sekolah tetap disana, tapi namanya saja yang berganti,” terang Sugiono. DJ/Net

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

[+] kaskus emoticons nartzco