Paskakasus Bullying di SDN Longkewang, Siswa Diberikan Trauma Healing

oleh

SUKABUMI, waktunews.com – Dinas Pendidikan dan Kabudayaan Kabupaten Sukabumi melakukan trauma healing bagi siswa-siwi kelas dua SD Negeri Longkewang, Cicanyatan, Kabupaten Sukabumi, kemarin. Kegiatan ini untuk memotivasi kembali semangat belajar siswa-siswa tersebut, pasca meninggalnya siswa berinisal Sr yang dibully atau perundungan oleh yeman sekelasnya.

“kegiatan ini untuk memotivasi semangat belajar siswa yang sekarang terlihat loyo, serta tidak ada gairah untuk belajar,” ujar Sekdis Disdikbud Kabupaten Sukabumi, Sulaeman, kemarin.

Selain itu, lanjutnya, pihaknya berharap agar kegiatan ini juga mampu menghilangkan kekerasan di lingkungan sekolah. Dimana siswa-siswi kelas dua menjadi sasaran kegiatan trauma healing ini.

Malah guru-guru disini juga akan diberikan pembekalan bagaimana menghilangkan kekerasan atau peristiwa yang telah terjadi. agar proses kegiatan belajar mengajar berjalan normal. “sasarannya tidak hanya siswa, namun guru-guru juga diharapkan mampu memberikan pengajaran dan pembelajaran yang lebih maksimal. “Seharusnya, semua pihak terlibat agar peristiwa yang menimpa sekolah ini bisa diselesaikan,” katanya

Mengenai, kasus yang membelit sekolah SD Negeri Longkewang ini, pihaknya menyerahkan kepada aparat kepolisian. Yang jelas disdik lebih ke arah pembinaan serta pengawasan pembelajaran. “Kami sifatnya lebih kepada pembinaan, bimbingan guru, serta pengawasan yang dilakukan oleh sekolah,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Kepolisian Resor (Polres) Sukabumi, AKBP M Syahduddi, akhirnya mengungkapkan kronologis hasil pemeriksaan yang menimpa SR (8 tahun), siswa Kelas Dua SD Negeri Longkewang Desa Hegarmanah, Kecamatan Cicantayan, korban meninggal dunia. “Ya, jadi hasil pelaksanaan otopsi atau bedah mayat sudah dilakukan kemarin (Rabu-red) oleh dokter forensik. Memang ada luka lecet di bagian pelipis kiri korban akibat benturan benda tumpul,” ujarnya.

Namun, lanjutnya,itu pun bukan merupakan masalah penyebab kematian korban. Kemudian lanjutnya, pemeriksaan di bagian kepala ada semacam kelainan di pembuluh otak yang diduga ada pengerasan dan sering diistilahkan aneurisma.

“Ini perlu dilakukan sinkronisasi sebagai petunjuk yang harus kita dalami lagi dan diperlukan penyesuaian, antara keterangan dari ahli dr forensik dengan fakta-fakta apa yang nanti kan kita cari, yang kita temukan di tempat kejadian (TKP),” terangnya.

Mengenai perkelahian, Syahduddi menambahkan, menurut konfirmasi awal yang didapat pihaknya, memang ada semacam konflik atau pertengkaran, antara si korban dan anak tersebut. “Dimana yang diketahui oleh seorang gurunya atau wali kelasnya. Sehingga data tersebut membuat kami menduga peristiwa ini diawali pertengkaran/konflik, antara si anak tersebut,” imbuhnya.

Kini penanganan kasus tersebut kata Syahuddi, pihaknya berpedoman pada Undang-undang (UU) Nomor 11 tahun 2012 tentang sistim peradilan pidana anak. “Kita mengacu pad UU Nomor 11 tahun 2012 tentang peradilan pidana anak, dimana peradilan ini dalam penyelesaian perkara anak wajib diupayakan yang namanya diversi,” terangnya.

Diversi adalah suatu upaya pengalihan penyelesaian perkara karena terhadap anak di proses peradilan pidana ke luar. “Proses peradilan pidana ini kita akan upayakan tentunya melibatkan semua pihak terkait permasalahan ini, baik dari keluarga korban, kemudian keluarga orang tua si anak (Pelaku-red) termasuk juga melibatkan lembaga-lembaga atau pun insititusi/organisasi yang berkompenten,” pungkasnya. Rezky ADisty
=====9999====

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

[+] kaskus emoticons nartzco