Jadi Percontohan Bidang Agraris dan Hortikultura, Uzbekistan Belajar Tanam Cabai ke Cianjur

oleh

CIANJUR, waktunews.com – Delegasi dari Negara Uzbekistan di bidang pertanian dan pemerintahan mengunjungi pendopo Kabupaten Cianjur kemarin (22/8). Kedatangan rombongan dari negara bekas pecahan Uni Soviet ini ke Indonesia, untuk berbagi ilmu bercocok tanam.

Rombongan tersebut di antaranya terdiri dari Menteri Agraria, duta besar, gubernur, walikota, hingga rektor pada salah satu universitas di negerinya. Mereka disambut hangat oleh Wakil Bupati Kabupaten Cianjur, serta para pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD).

Wakil Perdana Menteri bidang pertanian dan sumber daya air, Uzbekistan, Zoir T Mirzaev menyebutkan, ia bertolak dari negara asalnya ke Indonesia dan bertemu dengan Presiden RI Joko Widodo untuk meminta izin menimba ilmu di sektor pertanian.

Kemudian ia pun diarahkan oleh kementrian pertanian untuk mengunjungi Kabupaten Cianjur sebagai bahan studi. Di Cianjur usai berkunjung ke pendopo, rombongan itu pun langsung dibawa ke Kecamatan Pacet di mana di sana banyak petani cabai.

“Uzbek juga merupakan negara agraris. Kami identik dengan hal yang berbau pertanian. Di sana kita punya 40 macam sayuran dan buah-buahan, biji2an dan juga kapas,” ungkapnya saat ditemui Harian Waktu, kemarin (22/8).

Menurut Zoir, hasil pertanian dari negaranya saat ini sudah mampu mengekspor ke 80 negara di dunia. Namun begitu, ia mengaku ada beberapa varietas produk pertanian yang masih belum puas dengam hasilnya. Dia ke Cianjur untuk bertukar informasi agar bisa menanggulangi ketidak puasannya. Terutama di varietas cabai dan paprika.

“Karena setelah saya pahami ternyata iklim di negara kita mirip dengan Indonesia khususnya Cianjur. Maka dari itu saya yakin bisa bekerjasama agar kita bisa saling mendapatkan hal positif,” jelasnya.

Kerjasama itu, tambah Zoir, bisa dijalin seperti pada teknologi di bidang pertanian. Selain itu, dia juga memantau bahwa proses penanaman di Cianjur khususnya mirip seperti di negaranya.

“Untuk beberapa waktu di negeri kita ada cuaca yang memang mirip sekali dengan Cianjur. Tapi selanjutnya kurang mendukung pada bidang pertanian. Kalau musim dingin bisa dingin sekali hingga mencapai minus 25 derajat celcius, dan kalau panas bisa sampai 50 derajat celcius. Sehingga fase penanaman di negara kami sangat terbatas waktunya,” paparnya.

Dijelaskannya, masa vegetasi di Uzbekistan hanya berkisar dari Maret hingga November saja. Maka dari itu kedatangannya guna mencari solusi dari kendala yang dimilikinya.

“Makanya kami ke sini untuk menseleksi sisilitbang, saling bertukar dari segi teknologi budidaya cabe khususnya. Kita juga mampu bekerjasama masalah penanggulangan hama. Semoga bisa kerjasama ini bisa berkelanjutan,” kata dia.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan, Pangan dan Hortikultura Kabupaten Cianjur, Mamad Nano menambahkan, pihaknya tengah fokus di bidang holtikultura semacam cabai. Sebagai penyangga ibu kota, Cianjur dipercayakan memasok kebutuhan cabai. Saat ini diakuinya Cianjur mampu mendistribusikan sebanyak 40Ribu ton cabai pertahun ke 16 pasar, dan 8 pasar Swalayan di Jakarta.

“Kendalanya itu kalau over produk. Fluktuasi harga yang belum bisa kita kendalikan. Kemudian juga terjadinya hujan bisa membuat produk menjadi busuk,” tambahnya.

Dari kegiatan ini, Mamad berharap, jika Cianjur bisa terus mengembangkan hortikultura jauh lebih pesat lagi supaya bisa menjadi percontohan, dan mensejahterakan masyarakat. Eky Rizky

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

[+] kaskus emoticons nartzco