Tolak Full Day School Diterapkan, Ribuan Guru dan Santri Diniyah Turun ke Jalan

oleh

CIANJUR, waktunews.com – Ribuan santri dan guru madrasah diniyah takmiliyah awaliyah (MDTA) Kabupaten Cianjur menggelar aksi jalan kaki dari Kantor Kementrian Agama (Kemenag), hingga ke lapangan Supermall Cianjur, kemarin (29/8).

Kegiatan dimulai pukul 09.00 Wib dengan jalan kaki sepanjang tiga kilometer, Di lapangan, para peserta aksi menggelar orasi dan doa bersama,

Aksi tersebut dilakukan sebagai penolakan program sekolah lima hari atau Full Day School, karena dinilai menggangu jadwal sekolah MDTA. Selain itu, program tersebut juga akan menghabisi profesi guru madrasah yang selama ini mengabdi dalam membentuk karakter santri sekaligus siswa sekolah formal.

Ketua Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah Awaliyah (FKDT) Kabupaten Cianjur, Muhammad Toha, mengatakan waktu belajar delapan jam di sekolah dapat mematikan eksistensi madrasah diniyah dan pondok pesantren. Selain itu, kebijakan tersebut bisa memotong ruang interaksi bagi siswa dengan lingkungannya.

“Seperti diketahui, di pesantren atau di kampung-kampung, pendidikan madrasah diniyah sudah berjalan bertahun-tahun. Kalau kemudian Mendiknas memberlakukan Full Day School selama 8 jam dan lima hari dalam sepekan, maka akan terpotong jam di madrasahnya,” terangnya.

Dia mendesak agar program itu tidak dilaksanakan, dengan mengeluaarkan peraturan persiden yang mencabut pemberlakuan Full Day School. Hal itu karena di Kabupaten Cianjur, pendidikan diniyah sudah menjadi program dan diakomodir dalam Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2014 Tentang Diniyah. Program ini mendapat respons positif dari masyarakat karena sangat bermanfaat.

“Yang jelas adanya program mendiknas tahun ini dapat mengganggu program wajib madrasah diniyah di Kabupaten Cianjur yang sudah berjalan sejak lama,” tegasnya.

Dari catatan FKDT Kabupaten Cianjur, ada sekitar 1.200 lembaga, dengan guru sebanyak  lebih guru 13.000 dan sebanyak 122.726 santri MDTA yang masih aktif. Mereka terus-menerus melakukan kegiatan pembelajaran

“Kalau kemudian benar-benar direalisasikan, maka ribuan lembaga pendidikan madrasah di Cianjur terancam bubar karena jam siswa terpotong di sekolah formal. Dengan alasan ini nanti akan disampaikan secara tertulis kepada Mendiknas atas keberatan para ulama, guru, dan santri,” tandasnya. Ismat Nasrulloh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

[+] kaskus emoticons nartzco