OPINI : Idul Adha dan Refleksi Diri

0 647
Link Banner

    Idul Adha adalah momentum terbesar kepasrahan manusia (muslim) terhadap Alloh SWT yang direpresentasikan melalui penyembelihan hewan kurban. Momentum penyembelihan hewan kurban menjadi sebuah refleksi atas ketabahan Nabi Ibrahim dengan kerelaan serta kesungguhan hatinya, yang bersedia mengorbankan putranya Ismail untuk Allah. Meskipun akhirnya digantikan oleh Allah SWT dengan seekor domba.

Oleh : Lilis Nuraeani

        Idul Qurban mengambil cermin kehidupan tiga manusia yang beriman sempurna yaitu Nabi Ibrahim, Siti Hajar, dan Ismail. Mereka adalah manusia-manusia kamil yang taat dan tunduk kepada perintah Alloh SWT tanpa adanya kesangsian.

       Idul Adha atau lebaran haji merupakan simbol kekuatan islam itu sendiri. Idul Adha memberikan gambaran tentang betapa kuatnya ideologi dan sejarah. Ritual ibadah haji terus diikuti, dilaksanakan sampai dengan abad modern ini. Tetap berlangsung, tidak tergerus oleh teknologi dan perubahan zaman. Karena sejatinya ibadah haji merupakan substansi dari pengejawantahan kehidupan manusia untuk merefleksikan dirinya agar menjadi lebih baik menuju insan kamil.

         Ibadah haji mengantarkan manusia kepada pengalaman kemanusiaan yang universal, sebab haji dan umrah menyampaikan pesan persamaan kemanusiaan. Dalam ibadah umrah sebagai puncak ibadah haji muslim mengenakan pakaian seragam yaitu pakaian ihram yang putih sebagai lambang kerendahan hati. Pakaian ihram mencerminkan bahwa manusia dengan manusia lainnya di hadapan Alloh adalah setara. Tiada yang berhak mengklaim dirinya lebih dari manusia lainnya, kecuali dalam pencapaian penyerahan dirinya (ketaqwaannya).

       Dari tahun ke tahun masyarakat Indonesia yang religius berbondong-bondong menunaikan ibadah haji ke tanah suci. Antusiasme muslim Indonesia pergi ke tanah suci untuk melaksanakan ibadah haji tidak pernah surut, tetap tinggi bahkan semakin membludak. Bertahun-tahun menunggu kuota haji yang memakan waktu begitu panjang. Menurut data di Kabupaten Cianjur saja, harus menunggu sekitar 10-12 tahun untuk dapat menunaikan ibadah haji.

         Keadaan ini mencerminkan betapa momen indah ibadah haji merupakan cita-cita sejati setiap muslim. Kerinduan yang mendalam terhadap sang Khalik tercipta dalam manifestasi kesempurnaan ibadah sebagai muslim setelah shahadat, shalat, puasa, dan membayar zakat. Apabila dilapangkan rezeki dan kesehatannya, setiap umat islam berharap pergi ke tanah suci sebelum ajal menjemput.

         Ibadah haji merupakan penyerahan diri manusia secara mutlak kepada Alloh. Mengembalikan diri kepada Alloh, berpulang keharibaan Alloh untuk menuju kesempurnaan mengusung nilai-nilai kemanusiaan, dan keadilan. Ibadah haji merupakan suatu simbol yang memberikan fakta bahwa Islam mempunyai kekuatan yang besar yaitu ideologi juga sejarah.

Refleksi Diri

        Penyembelihan hewan kurban memberikan makna yang mendalam mengenai implementasi iman yang sesungguhnya, yaitu mengharap ridha ilahi demi terwujudnya masyarakat adil dan makmur yang selama ini terabaikan. Melalui penyembelihan hewan kurban kita diingatkan untuk selalu bergandengan tangan memperkuat kepedulian dan empati terhadap yang kekurangan. Penyembelihan hewan kurban pada Idul Adha ini setidaknya ada kontribusi mengentaskan kemiskinan, dan mestinya terus diupayakan lewat upaya-upaya nyata yang berkelanjutan tidak hanya saat Idul Adha saja.

      Idul qurban adalah adalah salah satu bentuk perwujudan masyarakat adil makmur yang dicita-citakan semua elemen lingkungan sosial masyarakat. Momen Idul Qurban adalah tindakan nyata untuk menyadarkan kita semua bahwa kepedulian harus terus dibangun untuk memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi lingkungan.
Melalui ritual penyembelihan hewan kurban, umat manusia diajak untuk semakin peka terhadap lingkungan sosial serta peduli pada nasib fakir–miskin serta kaum yang lemah. Kita berlomba-lomba untuk melaksanakan kebaikan, menggalakkan aksi solidaritas sosial kebangsaan dan keumatan. Sehingga niscaya terwujudnya masyarakat adil dan makmur yang diridhai oleh Allah SWT.

      Dalam era modern ini Idul Qurban dimanifestasikan dalam dua kontkes namun sinergi, satu sama lainya tak dapat dipisahkan, yaitu hubungan antara makhluk dengan sang pencipta mengenai loyalitas penghambaan diri seutuhnya kepada Yang Maha Kuasa tanpa adanya kesangsian atas perintahNya. Kemudian dalam makna yang lebih luas, yaitu pendekatan kemanusiaan, untuk membina kepedulian, dan kasih sayang terhadap sesama yang ditengarai mulai luntur oleh rasa individualistis.

      Dari perjalanan sejarah ritual Idul Qurban ini umat dapat mengambil manfaat yang sebanyak-banyaknya terhadap seluruh aspek kehidupan manusia.


*Penulis adalah seorang pendidik di SMPN 1 Cianjur. Menulis opini, esai, puisi, dan cerpen di beberapa media online dan cetak.

Category: OpiniTags:
resto
No Response

Leave a reply "OPINI : Idul Adha dan Refleksi Diri"

[+] kaskus emoticons