Cerpen : Khairul Umam

oleh

Demo Damai

Akhirnya, demo yang kami selenggarakan benar-benar damai. Seperti yang telah menjadi komitmen di setiap musyawarah persiapan dan di setiap aplotan WA group. Seperti telah disepakati, demo bermula sejak pukul 09:00 WIB. Kami melakukan long march dari alun-alun kota. Meski sedikit berubah dari kesepakatan perihal start demo, tak berarti seluruh rangkaian acaranya juga ikut berubah. Berjalan memutar ke arah selatan sebelum akhirnya tiba di depan gedung DPRD yang terhormat. Setelah itu, kami lanjutkan menempuh rute sejauh dua kilo ke selatan untuk menuju kantor bupati yang juga terhormat dan harus dihormati.

Tak ada yang kami lakukan kecuali sekadar orasi seperti biasa, baca puisi di atas sound system yang diangkut pikap L300 berwarna hitam, sholat gaib bersama seorang kiai sepuh di kabupaten ini dan kembali berorasi sebelum akhirnya membubarkan diri. Panas terik yang menyengat kulit kami dan memaksa setiap bulir peluh mengucur seperti pancuran membasahi tubuh yang mulai legam tak bisa menyurutkan semangat yang sudah benar-benar bulat. Seperti bulatan-bulatan tanah yang dikeruk dengan alat-alat berat dan terus menderu di telinga dan dada kami hingga menyisakan kubangan dalam dan luka yang memborok.

Di kantor bupati yang terhormat pun tak banyak yang kami lakukan. Hanya orasi singkat dan gegap-gempita suara peserta demo yang mengalun seperti ombak di laut lepas. Poster-poster kecil yang telah dipersiapkan sengaja kami angkat tinggi-tinggi supaya mereka yang bersembunyi di balik ruangan ber-AC dan hukum bisa melihat dengan jelas. Meski masih terlalu jauh untuk sebuah jarak pandang, tak apalah.

Tanah Milik Rakyat!

Usir Investor Asing Dari Tanah Kami!

Tanah Untuk Pangan Bukan Untuk Bangunan!

Hidup Rakyat, Usir Investor!

Tolak Wisata Menyengsarakan Rakyat!

Setelah terik benar-benar merajam, menusuk setiap pori-pori kulit yang mulai membengkak, matahari berada tepat di atas ubun-ubun tanpa sedikit pun awan, bau aspal mulai menyesaki napas kami dan uap knalpot yang juga mulai membabi-buta memasuki rongga pernapasan, akhirnya kami memutuskan menghentikan demo ini. Dan kami pulang dengan tertib. Begitu damai dan sangat damai. Wartawan yang berjibun dan berupaya mencari angle yang bagus untuk sebuah berita, mungkin juga insiden-insiden kecil yang memantik kerusuhan, tak kunjung menemukan dan akhirnya juga pulang dengan damai sambil mengisap rokoknya perlahan.

Kami kembali berjalan dengan tubuh sedikit lunglai dan wajah lesu menuju parkiran kendaraan. Demi efisiennya waktu dan tenaga yang sudah banyak terkuras, akhirnya kami memutuskan lewat jalur tembus meski sedikit berliku. Kami lewati beberapa rumah warga yang terheran-heran dan sesekali di antara mereka terpaksa menanyakan perihal apa yang terjadi. Menanggapi hal itu, kami hanya tersenyum dan sesekali menjawab tidak tahu-menahu hal yang mereka tanyakan. Sambil berusaha menikmati jalan beraspal dan sedikit rimbun pepohonan yang tersisa di antara bangunan menjulang, kami berjalan dengan kepala terntunduk dan pikiran teraduk.

Akhirnya, kami merasa begitu lega karena demo yang telah diprakarsai bersama masyarakat terdampak memang betul-betul damai. Ini telah membuktikan janji kami pada pihak keamanan yang sempat meragukannya. Mereka berkali-kali mengintrogasi perihal janji itu. Seperti tidak percaya ketika melihat tampang kami yang mungkin awut-awutan saat menghadap. Mungkin juga karena wajah kami sudah tak asing lagi dalam hal demo mendemo dan mereka sangat tahu itu. Atau, entahlah.

Meski akhirnya ijin itu keluar, kami sangat paham bahwa pihak kemanan sangat keberatan. Mungkin tema yang kami usung terlalu berat dan sangat sensitif. Atau demo kali ini memang terlalu besar untuk sebuah kelompok yang sangat kecil seperti kami. Bisa jadi, karena mereka juga merupakan bagian dari objek demo. Entahlah, kami tak mau tahu alasan yang sebenarnya. Yang jelas, wajah-wajah dingin, sinar mata muram dan pelayanan yang dingin telah kami rasakan sebagai aura pertama untuk aksi yang akan segera dilakukan. Mereka berkali-kali menghubungi kami lewat saluran telepon untuk mengingatkan janji yang telah diucapkan. Bahkan, sesekali mengancam jika kemudian janji itu tak ditepati.

Di depan gedung DPRD yang tinggi menjulang dan dilengkapi kolam dengan air mancur yang terus mengucurkan air yang begitu jernih, sekompi pasukan pengaman telah siap siaga. Tak jelas berapa jumlahnya. Menurut perkiraan, jumlahnya jauh lebih banyak dari peserta demo yang turun ke jalan untuk orasi dan sekadar memberitahukan ketidakpuasan mereka pada pemerintah. Garis police line dipasang memanjang tepat di depan pagar. Di setiap sudut sudah berdiri tiga atau empat orang polisi. Tiga kendaraan amfibi dan berpuluh senapan gas air mata menggantung di pundak mereka. Sedang di panggung orasi yang sengaja kami manfaatkan trotoar yang menjorok ke dalam, berdiri berpuluh-puluh polisi pengaman dengan pentungan di pinggang.

Jika kau sedang di sana saat itu dan mengambil foto dari jarak sedikit jauh atau dari bangunan bertingkat yang berada di sisi timur tepat di punggung jalan raya, hasilnya akan mengejutkan. Kami akan terlihat seperti segerombolan orang yang dikepung oleh sepasukan pemburu. Apa lagi jika kau tak tahu asal-muasal terjadinya kerumunan. Kami mungkin akan dianggap pesakitan yang sedang diarak atau dihukum jemur di terik yang begitu menghunjam.

Akhirnya demo yang kami selenggarakan memang benar-benar damai dan tenang. Setelah berapi-api berorasi dengan pengeras suara yang sengaja kami sewa sebuah sound system dengan diangkut pikap dan sebuah megapon, tak seorang pun dari perwakilan kami di dalam gedung yang keluar. Mereka seperti cuek bebek dan mungkin pura-pura tidur di ruangan ber-AC itu. Kami berusaha memerlama orasi dan demo dengan menampilkan teatrikal di trotoar yang panas dan menyengat kulit dengan hanya bermodal semangat dan segelas air mineral untuk menghilangkan dahaga.

Tiga orang berdiri dengan tubuh penuh lumpur. Wajahnya tertunduk dan lutut tertekuk. Tubuh mereka begitu tebal terbaluri lumpur berwarna cokelat. Tangan terikat ke belakang dengan seuntai tali yang mirip rantai dan leher terkekang. Ketiga orang itu hanya terdiam dan sesekali bergerak-gerak kecil ketika ujung tali yang dipegang seorang berdasi dan berjas yang berdiri angkuh dengan kacamata hitam tebal digerakkannya.

Di bawah sengat matahari dan suara yang semakin bergelora, seorang menaiki sound system yang disusun meninggi di atas pikap. Dihentakkan kakinya dengan suara menggelegar. Dia bacakan sebuah sajak dengan mata membara dan suara menyala-nyala. Sesekali kami yang berada tepat di bawahnya mengangkat tangan tinggi-tinggi sambil berseru, “Usir investor, tanah milik rakyat, tanah untuk pangan, biarkan kami berdaulat di tanah sendiri!”

Setelah benar-benar kami pastikan tak ada seorang pun yang akan keluar dari gedung bertingkat dan terhormat itu, kami putuskan kembali berjalan. Menuju kantor bupati. Kami tak butuh sikap diam. Kami butuh jawaban. Segera, ya segera. Daerah kami sudah darurat agraria dan harus segera diselesaikan. Maka sambil bernyanyi lagu Darah Juang kami berjalan dengan khidmat dan damai. Meski dalam hati kecil rasa nyeri begitu kuat mencekeram dan tak tertahankan.

Di kantor yang lebih megah dengan dihampari halaman berumput hijau dan lampu-lampu yang berwara-warni, sebelum kami benar-benar sampai dan memasukinya, sekompi yang lebih besar kembali menghadang. Police line sudah terpasang memanjang dan memutar. Kami dipaksa berorasi di luar. Di antara lalu-lalang mobil dan motor yang berjibun. Suara-suara yang kami keluarkan dengan pengeras suara habis tertelan udara yang bising dan pesing.

Kami memaksa pemerintah kabupaten segera keluar dan menemui kami. Namun, lagi-lagi semuanya hilang dan harapan kami tumbang. Bupati tak sedang di kantor. Menurut keterangan yang entah siapa yang menyampaikan, dia sedang melakukan kunjungan luar negeri. Dan kami hanya menelan ludah bulat-bulat dengan kepala kembali tertunduk, sama persis dengan ketiga orang yang sedang berlumur lumpur dengan tangan terbelenggu ke belakang dan leher tercekal tali kekang.

Maka kami pulang dengan kepala tertunduk dan kembali damai. Dalam perjalanan menuju pulang kami saling bertatapan. Ah, demo yang benar-benar damai. Tak ada insiden meski hanya kecil. Bahkan, tak seorang pun yang menanggapi orasi dan teriakan kami yang begitu berapi-api. Semuanya seperti tak mendengar. Mestinya mereka semua keluar dan duduk bareng untuk segera mengetahui duduk persoalannya. Namun, semuanya memang begitu damai. Pemerintah pun sangat merasa damai hingga tak pernah terusik dengan kedatangan kami dan tak hendak menemui kami, rakyatnya yang telah susah payah datang dari jauh untuk mengadukan nasib yang sudah di ujung tombak ini.

Mungkin, demo berikutnya tak harus benar-benar damai. Jika memang tak ada yang menjawab dan acuh saja, insiden-insiden kecil perlu diletupkan dan kedamaian itu perlu dimaknai ulang. Ah!

Teganna Tengah, Maret 2017


*Penulis adalah Sekjen MWC NU Gapura. Guru di MA Nasa1 Gapura. Alumni pascasarjananya UGM-FIB Antropologi. Tulisannya telah dimuat di media lokal dan Nasional.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

[+] kaskus emoticons nartzco